Minyak Dunia Tembus US$103 per Barel Usai AS Izinkan Pembelian Minyak Rusia, Bagaimana Dampaknya ke IHSG?
Pasardana.id - Harga minyak dunia kembali bergerak volatil setelah Amerika Serikat mengeluarkan lisensi sementara selama 30 hari yang mengizinkan negara-negara membeli minyak Rusia yang saat ini terjebak di laut.
Kebijakan tersebut menjadi respons terhadap gangguan pasokan energi global akibat konflik geopolitik yang memicu lonjakan harga minyak.
Lisensi tersebut memungkinkan transaksi terhadap minyak Rusia yang sudah dimuat ke kapal sebelum 12 Maret dan dapat diperdagangkan hingga sekitar 11 April.
Kebijakan ini diperkirakan berdampak pada sekitar 100 juta barel minyak Rusia yang saat ini berada di laut.
Langkah tersebut diambil ketika harga minyak dunia melonjak tajam.
Dalam perdagangan terakhir, harga minyak Brent sempat menyentuh sekitar US$103 per barel, didorong oleh gangguan pasokan energi global serta meningkatnya ketegangan geopolitik.
Sehari sebelumnya, pemerintah AS juga mengumumkan rencana pelepasan 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) untuk menambah pasokan dan menahan lonjakan harga energi global.
Namun langkah tersebut dinilai hanya memberikan stabilisasi jangka pendek, sementara pasar masih dibayangi ketidakpastian pasokan.
Risiko bagi Ekonomi Indonesia
Kenaikan harga minyak global berpotensi memberikan tekanan bagi ekonomi Indonesia yang masih menjadi importir bersih minyak.
Analis Pasardana menilai, terdapat beberapa dampak utama:
-Beban subsidi energi meningkat
Jika harga minyak bertahan tinggi, pemerintah berpotensi menghadapi kenaikan beban subsidi BBM dan energi. Hal ini dapat mempersempit ruang fiskal APBN.
-Tekanan inflasi domestik
Kenaikan harga energi biasanya berdampak pada biaya transportasi dan logistik yang lebih mahal. Kondisi ini dapat memicu inflasi berbasis biaya (cost push inflation).
-Tekanan nilai tukar rupiah
Harga minyak yang tinggi meningkatkan kebutuhan impor energi sehingga dapat menekan neraca perdagangan dan memperlemah rupiah.
IHSG Rentan Volatil
Sentimen harga minyak global juga berdampak pada pasar saham Indonesia.
Dalam beberapa perdagangan terakhir, kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi bahkan sempat menekan pasar saham domestik.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebelumnya tercatat turun lebih dari 3% akibat kekhawatiran inflasi energi global yang dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia
Baru-baru ini, Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyebut pelemahan IHSG terjadi karena meningkatnya ketidakpastian geopolitik serta potensi lonjakan inflasi global akibat kenaikan harga energi.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat investor cenderung menghindari aset berisiko dalam jangka pendek.
Saham Energi Berpotensi Diuntungkan
Sementara itu, meski memberi tekanan bagi indeks secara keseluruhan, kenaikan harga minyak justru menjadi katalis positif bagi saham sektor energi di Bursa Efek Indonesia.
Menurut Analis Pasardana, beberapa saham energi yang biasanya sensitif terhadap pergerakan harga minyak antara lain: PT Medco Energi Internasional Tbk (IDX: MEDC); PT Energi Mega Persada Tbk (IDX: ENRG); PT Indika Energy Tbk (IDX: INDY); dan PT Elnusa Tbk (IDX: ELSA).
Dijelaskan, dalam beberapa periode lonjakan harga minyak sebelumnya, saham-saham energi tersebut bahkan sempat mencatat kenaikan signifikan karena ekspektasi peningkatan pendapatan dari harga komoditas yang lebih tinggi.
Lebih lanjut analis Pasardana menilai, kondisi ini sering memicu rotasi sektor, di mana investor beralih ke saham berbasis komoditas ketika harga energi naik.
Sektor yang Berpotensi Tertekan
Sebaliknya, beberapa sektor di IHSG justru berpotensi mengalami tekanan akibat lonjakan harga minyak, seperti: transportasi dan logistik, maskapai penerbangan, industri manufaktur dengan intensitas energi tinggi, sektor konsumsi yang sensitif terhadap inflasi.
“Kenaikan biaya energi dapat menekan margin perusahaan di sektor-sektor tersebut,” sebut analis Pasardana.
Outlook Pasar
Lebih lanjut, Analis Pasardana memperkirakan, volatilitas harga minyak masih akan berlanjut selama ketegangan geopolitik belum mereda.
Jika harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, pasar saham global termasuk Indonesia berpotensi menghadapi tekanan dari sisi inflasi dan kebijakan moneter.
Namun di sisi lain, saham energi dan komoditas diperkirakan masih menjadi sektor yang paling diuntungkan dalam situasi ini.
Dengan demikian, pergerakan IHSG ke depan kemungkinan akan dipengaruhi oleh dua kekuatan yang berlawanan: tekanan inflasi energi di satu sisi dan penguatan sektor komoditas di sisi lain.

