Kinerja Tumbuh Positif, MINE Bukukan Pendapatan Rp2,36 Triliun di 2025
Pasardana.id - PT Sinar Terang Mandiri Tbk atau STM (IDX: MINE), perusahaan yang bergerak di bidang jasa penunjang pertambangan dan penggalian lainnya, mencatat kinerja operasional yang terus bertumbuh positif sepanjang tahun buku 2025.
Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp2,36 triliun, meningkat 11,8% dibandingkan Rp2,11 triliun pada tahun 2024.
Pertumbuhan pendapatan tersebut sejalan dengan ekspansi kegiatan operasional Perseroan di sejumlah proyek pertambangan nikel.
Seiring dengan itu, Perseroan juga mencatatkan penguatan struktur aset, dengan total aset meningkat 28,6% menjadi Rp2,07 triliun pada 2025, dibandingkan Rp1,61 triliun pada tahun 2024.
Direktur Utama PT Sinar Terang Mandiri Tbk, Ivo Wangarry menyampaikan, bahwa kinerja Perseroan sepanjang 2025 mencerminkan upaya perusahaan dalam menjaga momentum pertumbuhan bisnis di tengah dinamika industri pertambangan.
“Kami bersyukur Perseroan terus menjaga pertumbuhan pendapatan dan memperkuat struktur aset di tengah berbagai tantangan operasional. Hal ini menunjukkan bahwa strategi ekspansi operasional dan penguatan kapasitas produksi yang kami jalankan mulai memberikan hasil positif,” ujar Ivo dalam keterangan resminya, Kamis (12/03/2026).
Dijelaskan, bahwa peningkatan total aset terutama ditopang oleh kenaikan aset tidak lancar yang tumbuh 48,5% menjadi Rp988,77 miliar.
Kenaikan tersebut mencerminkan investasi Perseroan dalam mendukung kegiatan operasional, termasuk penguatan armada alat berat dan infrastruktur penunjang kegiatan penambangan, yang merupakan bagian dari strategi jangka panjang Perseroan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga kualitas layanan kepada para mitra kerja.
Dari sisi profitabilitas, Perseroan mencatat laba komprehensif tahun berjalan sebesar Rp200,83 miliar pada 2025, mencerminkan kinerja operasional Perseroan yang tetap solid seiring meningkatnya aktivitas proyek.
Kontribusi utama pendapatan Perseroan berasal dari segmen jasa penambangan sebesar Rp2,18 triliun.
Sementara itu, segmen jasa konstruksi turut memberikan kontribusi Rp180,10 miliar, meningkat signifikan yakni lebih dari 12 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Kinerja MINE didukung oleh kerja sama dengan sejumlah mitra strategis di industri pertambangan.
Sepanjang 2025, kontribusi pendapatan terbesar berasal dari PT Weda Bay Nickel, diikuti PT Hengjaya Mineralindo, serta PT Sulawesi Cahaya Mineral.
Lebih lanjut Ivo menjelaskan, diversifikasi proyek dan penguatan kemitraan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas kinerja Perseroan.
Ke depan, Perseroan juga akan terus memperluas peluang kerja sama dengan berbagai mitra strategis.
“Kami optimistis prospek industri nikel nasional masih sangat menjanjikan seiring meningkatnya permintaan global. Perseroan akan terus memperkuat kapasitas operasional, termasuk memperluas lini usaha baru, dan tentunya tetap menjaga kualitas layanan,” tutup Ivo.
Diketahui, berdasarkan data Ditjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, yang mengutip dari proyeksi International Nickel Study Group (INSG), memperkirakan konsumsi nikel global tahun 2026 mencapai 3,824 juta ton, meningkat dari 3,601 juta ton pada 2025.
Permintaan ditopang oleh sektor stainless steel.

