Perkuat Pasar Domestik, Menteri Maman Minta Fokus Pada Penggunaan Produk Lokal
Pasardana.id - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman menegaskan, bahwa pasar dalam negeri memiliki peran strategis sebagai penopang utama ketahanan ekonomi nasional.
Untuk itu, Maman menekankan pentingnya menjaga serta mengoptimalkan potensi pasar domestik agar tidak didominasi oleh produk impor.
Bahkan dirinya mendorong penguatan produk unggulan UMKM untuk menembus pasar ekspor.
“Dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta orang, potensi pasar kita sangat besar. Jika tidak besar, tidak mungkin pasar domestik kita menjadi sasaran berbagai produk impor,” ujar dia dikutip dari keterangan persnya, pada Selasa (10/3).
Disebutkan Maman, kalau pemerintah terus memperkuat langkah strategis untuk menjaga potensi pasar domestik sekaligus melindungi pengusaha UMKM dari persaingan tidak sehat.
Salah satunya adalah dengan menertibkan peredaran barang impor ilegal agar tidak mengganggu keberlangsungan usaha UMKM di dalam negeri.
Maman berharap, seluruh pihak dapat fokus pada optimalisasi penggunaan produk lokal.
Penguatan konsumsi produk dalam negeri, penataan pasar domestik, serta sinergi kebijakan lintas sektor, lanjut Maman, akan memastikan UMKM tidak hanya mampu bertahan di tengah dinamika ekonomi global, tetapi juga berkembang sebagai pilar utama ketahanan ekonomi nasional.
Melansir Antara disebutkan, saat ini pemerintah tengah melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk menciptakan ekosistem usaha yang sehat dan kompetitif.
Menurut dia, dengan ekosistem yang kondusif, pengusaha UMKM akan memiliki ruang yang lebih luas untuk tumbuh dan berkembang di pasar domestik.
Ia pun sebelumnya menyoroti akar permasalahan pertumbuhan UMKM di Indonesia bukan lagi soal akses pembiayaan, melainkan pasar domestik yang tidak sehat.
Meski dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR), program pelatihan, dan fasilitas produksi telah meningkat dalam dua dekade terakhir, pertumbuhan UMKM dinilai masih stagnan.
Berdasarkan data Kemenko Perekonomian menunjukkan penyaluran KUR sempat mencapai Rp365 triliun pada 2022, kemudian turun menjadi Rp297 triliun pada 2023, dan kembali turun menjadi Rp270 triliun pada 2025 dengan 4,58 juta debitur.
Karena itu, Maman menilai meski penyaluran kredit dalam jumlah besar terus dilakukan, hal itu belum cukup mendorong pertumbuhan UMKM.
Pasalnya, pasar domestik masih “kotor”, dipenuhi barang impor murah termasuk yang masuk secara ilegal.

