Asia Pasifik Jadi Mesin Pertumbuhan Bagi Bisnis Kaspersky

foto: dok. Kaspersky

Pasardana.id - Kaspersky, perusahaan keamanan siber global dengan keahlian hampir 30 tahun, terus memperkuat fokus perusahaan di seluruh Asia-Pasifik (APAC) di tengah meningkatnya ancaman siber, transformasi digital yang cepat, dan meningkatnya permintaan akan transparansi dalam kemitraan keamanan siber.

Melansir siaran pers Perseroan, Rabu (11/3) disebutkan, beroperasi di lebih dari 200 negara dan wilayah, Kaspersky adalah mitra keamanan siber yang mapan, menyediakan lebih dari 40 solusi B2B dan B2C yang melindungi pengguna individu, UMKM, perusahaan besar, organisasi infrastruktur penting, dan lembaga pemerintahan.

Perusahaan ini telah mempertahankan kehadiran yang kuat di Asia Pasifik selama lebih dari dua dekade, dengan kantor perwakilan di China, India, Jepang, Malaysia, Korea Selatan, Singapura, dan Vietnam, serta bekerja sama dengan lebih dari 3.500 mitra di Asia Pasifik.

Pada tahun 2025, Asia Pasifik menjadi salah satu pasar perusahaan Kaspersky yang tumbuh paling cepat, Indonesia, India, Vietnam, dan China termasuk di antara pasar yang menjadi perhatian strategis khusus seiring organisasi di wilayah tersebut tengah mempercepat transformasi digitalnya dan mencari talenta keamanan siber tingkat lanjut.

Portofolio perusahaan Kaspersky dirancang untuk mendukung organisasi yang membutuhkan pendekatan keamanan canggih, yang dapat disesuaikan, dan berbasis intelijen.

Perusahaan bekerja sama erat dengan mitra regional untuk mendorong pertumbuhan bisnis berkelanjutan melalui ekosistem keamanan siber yang luas.

“Melayani pelanggan perusahaan internasional, dan khususnya di Asia Pasifik, adalah prioritas strategis bagi perusahaan kami,” kata Inna Nazarova, Wakil Presiden, Penjualan Korporat Internasional di Kaspersky.

“Dengan pengalaman kami, intelijen ancaman global, dan solusi yang mudah beradaptasi, kami berada di posisi tepat untuk membantu organisasi fokus pada bisnis inti mereka sambil bersama mitra, kami turut berupaya menyediakan perlindungan komprehensif dan tangguh. Kaspersky bertujuan untuk mengembangkan ekosistem mitra kami di wilayah ini serta membangun kemampuan canggih di seluruh portofolio produk kami yang komprehensif,” bebernya lagi.

Meningkatnya Ancaman Menegaskan Urgensi untuk Bertindak di Tahun 2026

Selanjutnya dijelaskan, keamanan siber terus meningkat di tahun 2026, didorong oleh tiga faktor utama: pertumbuhan ancaman siber, dampak transformasi digital terhadap hasil bisnis, dan fragmentasi geopolitik yang memengaruhi kepercayaan dan akuntabilitas vendor.

Pada tahun 2025, Kaspersky mendeteksi sekitar setengah juta file berbahaya setiap hari, yang merupakan peningkatan 7% dari tahun ke tahun.

Perusahaan mencatat lonjakan 59% dalam deteksi pencuri kata sandi (password stealer), peningkatan 51% dalam deteksi spyware, dan peningkatan 6% dalam deteksi backdoor dibandingkan dengan tahun 2024.

Di Asia Pasifik khususnya, terjadi peningkatan 132% dalam pencuri kata sandi dan peningkatan 32% dalam spyware.

“Keamanan siber bukan lagi sekadar fungsi TI, tetapi secara langsung memengaruhi keberlangsungan bisnis dan keunggulan kompetitif,” kata Adrian Hia, Managing Director Asia Pasifik di Kaspersky.

“Organisasi saat ini harus bertahan dari segala hal mulai dari serangan skala besar dan penipuan hingga kampanye APT yang canggih. Visibilitas global dan pendekatan berbasis intelijen kami memberi pelanggan wawasan yang mereka butuhkan untuk tetap unggul dalam menghadapi upaya serangan siber yang semakin kompleks,” sambungnya.

Selanjutnya disebutkan, seiring organisasi di seluruh Asia Pasifik terus memodernisasi dan berekspansi secara digital, Kaspersky memperkuat komitmennya untuk menghadirkan solusi keamanan siber cerdas, transparan, dan siap pakai untuk perusahaan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar regional.

“Dengan intelijen ancaman global mendalam, momentum perusahaan yang kuat, dan praktik transparansi terdepan di industri, Kaspersky bertujuan untuk semakin memperkuat jejaknya di Asia Pasifik dan mendukung organisasi dalam menavigasi lanskap siber yang semakin kompleks dan terfragmentasi,” tandas Adrian Hia.