See More

06 November 2026, 00:56

06 November 2026, 00:33

06 November 2026, 00:17

05 November 2026, 20:51

05 November 2026, 17:48

05 November 2026, 17:37
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan hari Selasa (26/3/11).
Indeks S&P 500 naik 0,4% dan Nasdaq Composite menguat 0,8%, sementara Dow Jones Industrial Average turun 197 poin.
Kenaikan ini terutama didorong oleh pemulihan saham-saham semikonduktor setelah sempat tertekan pada sesi sebelumnya.
Nvidia naik 2,3%, AMD menguat 3,6%, Broadcom naik 3,1%, dan Micron naik 2,6%.
Saham-saham perusahaan hyperscaler juga menguat, dipimpin oleh Oracle yang melonjak 6% dan Microsoft yang naik 2,7%.
Sebaliknya, Apple turun 1,9% karena kekhawatiran mengenai dampak kenaikan biaya cip memori terhadap margin laba, sementara Palantir melemah 1,6%.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung bervariasi menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) di AS. Pasar prediksi menunjukkan peluang sekitar 74% bagi Partai Demokrat untuk menguasai Senat, dengan peluang yang cukup besar pula untuk memenangkan kursi di DPR. Para investor mengantisipasi potensi volatilitas jangka pendek karena hasil pemilihan dapat memengaruhi arah kebijakan fiskal dan belanja pemerintah AS. Dari sisi ekonomi, laporan JOLTS yang lebih kuat dari perkiraan menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja. Fokus selanjutnya tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis akhir pekan ini, serta laporan laba AMD yang dapat memberikan gambaran mengenai prospek industri semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI).
GEOPOLITIK: Ketegangan antara AS dan Iran masih menjadi perhatian pasar, meskipun upaya diplomatik melalui Qatar terus berlanjut. Qatar telah mengirim mediator ke Teheran untuk membahas draf kesepakatan dengan Washington, namun Iran menganggap tanggapan AS terhadap tuntutan mereka tidak meyakinkan. Ketegangan meningkat setelah AS dilaporkan melakukan serangan defensif terhadap sistem rudal darat-ke-udara milik Iran yang digunakan untuk menyerang aset-aset AS. Presiden Donald Trump juga kembali melontarkan ancaman mengenai kemungkinan tindakan militer. Di sisi lain, Trump menyatakan bahwa Washington akan mengakhiri program bantuan senilai US$4 miliar kepada Israel pada akhir tahun ini.
REGULASI & KEBIJAKAN: Bank of Japan (BoJ) mempertahankan suku bunga kebijakannya di level 1,25%, sejalan dengan ekspektasi pasar. Keputusan ini diikuti oleh penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun ke bawah 2,8%, level terendahnya dalam hampir tiga bulan terakhir. Sementara itu, Departemen Keuangan AS menurunkan estimasi kebutuhan pinjaman untuk kuartal keempat sebesar US$10 miliar menjadi US$618 miliar, dikarenakan saldo kas awal yang lebih tinggi dari perkiraan. Pasar juga mulai memperhitungkan probabilitas sekitar 75% untuk kenaikan suku bunga oleh The Fed pada bulan Desember, setelah bank sentral tersebut mempertahankan suku bunga pada bulan Oktober.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) bergerak stabil di kisaran 101,8 setelah sempat mengalami volatilitas pada sesi sebelumnya. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun naik 3 basis poin (bps) menjadi 4,64%, sementara tenor 10 tahun naik menjadi 4,96%, mencerminkan meningkatnya ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 2 tahun stabil di angka 1,88%, sedangkan tenor 10 tahun turun ke bawah 2,8%. Yen Jepang melemah hingga mendekati level JPY158 per Dolar AS, meskipun otoritas Jepang kembali mengeluarkan peringatan lisan terkait pelemahan mata uang tersebut.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa sebagian besar melemah. Indeks FTSE 100 Inggris turun 1% ke level terendahnya dalam tiga minggu, terutama akibat tekanan pada saham-saham sektor komoditas. Indeks DAX 40 Jerman terkoreksi sekitar 0,5% menjadi 25.865, sementara indeks CAC 40 Prancis turun 0,3% menjadi 8.020 di tengah kekhawatiran mengenai prospek fiskal negara tersebut yang memburuk. Indeks STOXX Europe 600 (EU600) juga melemah 0,58% ke level 645,66. Pasar saham Asia bergerak variatif dengan tekanan terbesar terjadi di Korea Selatan. Indeks KOSPI anjlok 3,59% menjadi 5.649 akibat kekhawatiran terkait tingginya belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI), sementara indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,33% menjadi 63.082 setelah prospek dari Kioxia Holdings memicu kekhawatiran akan melambatnya pertumbuhan permintaan cip memori. Indeks Shanghai Composite melemah 0,82% menjadi 3.608,1 dan indeks Shenzhen Component turun 1,21% menjadi 10.877. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,6% menjadi 23.526, didorong oleh saham-saham sektor teknologi dan konsumer. Indeks BSE Sensex India menguat 1,6% menjadi 76.918, mencatatkan kenaikan selama empat sesi berturut-turut. Sementara itu, indeks STI Singapura turun 0,7% menjadi 5.269 dan indeks FBM KLCI Malaysia naik 0,14% menjadi 1.622.
KOMODITAS: Harga minyak mentah WTI ditutup turun tipis 0,38% ke level US$96,09/barel, sementara minyak Brent melemah 0,75% menjadi US$104/barel. Pergerakan harga minyak masih dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi AS-Iran serta risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Harga emas berada di kisaran US$3.930/ounce, terkoreksi 0,42% setelah sempat menguat 2% pada hari Senin. Tembaga turun 2,52% menjadi US$640,20/lb akibat tekanan pada saham-saham sektor teknologi dan kekhawatiran mengenai valuasi di sektor kecerdasan buatan (AI). Batu bara melemah 1,51% menjadi US$147,25/ton, namun tetap bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga tahun terakhir seiring tingginya harga LNG yang mendorong peralihan ke pembangkit listrik tenaga batu bara. Sementara itu, harga minyak sawit Malaysia turun 1,87% ke bawah level MYR4.350/ton di tengah pelemahan harga minyak nabati di bursa Dalian.
INDONESIA: Pemerintah berencana untuk kembali merevisi ketentuan mengenai Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), meskipun regulasi terkini—yakni Peraturan Pemerintah (PP) No. 21 Tahun 2026—baru berlaku efektif pada 1 Juni 2026. Perubahan ini akan mempertimbangkan masukan dari kalangan pelaku usaha dan eksportir, dengan rincian kebijakan yang masih akan disosialisasikan lebih lanjut. Sebelumnya, pemerintah telah merevisi aturan DHE SDA sebanyak tiga kali melalui PP No. 8 Tahun 2025, PP No. 2 Tahun 2026, dan PP No. 21 Tahun 2026, yang mencakup ketentuan mengenai kewajiban penempatan devisa, jangka waktu, instrumen penempatan, serta fleksibilitas dalam penggunaan mata uang asing. Kami menilai bahwa potensi perubahan lebih lanjut perlu dipantau karena dapat memengaruhi fleksibilitas arus kas, likuiditas, serta daya saing eksportir, khususnya di sektor pertambangan dan perkebunan. Selain itu, pemerintah akan memperluas keterlibatan lembaga keuangan dalam pemungutan PPN atas transaksi digital luar negeri melalui Sistem Pemungutan Pajak Transaksi Digital Luar Negeri (SPP-TDLN) mulai November 2026. Pada tahap awal sejak 25 September 2026, terdapat enam penerbit yang ditunjuk, yaitu BRI, Bank Mandiri, BNI, BTN, BSI, dan LinkAja, sementara sekitar 30 bank dan perusahaan teknologi finansial (fintech) telah dilibatkan dalam persiapan perluasan sistem tersebut. Kebijakan ini bukanlah pajak baru ataupun perubahan tarif PPN, melainkan mekanisme tambahan untuk memperluas jangkauan pemungutan pajak atas transaksi digital lintas negara. Berbeda dengan skema PPN Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) yang memungut pajak melalui penyedia platform digital seperti Google, Netflix, dan Spotify, SPP-TDLN melibatkan bank dan perusahaan fintech sebagai fasilitator pembayaran. Kami menilai kebijakan ini berpotensi meningkatkan efektivitas penerimaan pajak dan kepatuhan terhadap transaksi digital, dengan tetap memperhatikan aspek implementasi teknis serta mitigasi risiko pajak berganda.
-IHSG ditutup melemah 3,78% ke level 4.904,29 pada perdagangan hari Selasa (26/3/2024). Tekanan pasar juga tercermin dari aksi jual investor asing, yang mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp759,98 miliar di pasar reguler dan Rp575 miliar di seluruh pasar, sehingga akumulasi jual bersih asing secara tahun berjalan (year-to-date) mencapai Rp127,50 triliun. Meski demikian, investor asing masih mencatatkan beli bersih (net buy) pada saham BMRI, BRIS, ASII, BBNI, dan AADI, sementara aksi jual terbesar terjadi pada saham BBRI, ANTM, BUMI, TPIA, dan TINS. Di sisi lain, nilai tukar Rupiah menguat ke kisaran Rp18.130 per Dolar AS. Penguatan Rupiah ini didukung oleh surplus neraca perdagangan bulan September yang lebih tinggi dari perkiraan, meskipun pertumbuhan impor tercatat lebih cepat dibandingkan ekspor.
-Secara teknikal, IHSG telah menembus level dukungan (support) ke bawah dan tren penurunan (downtrend) terus berlanjut. Jika IHSG tidak kembali ke atas level 4.907, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan menuju level dukungan terdekat di 4.800 / 4.600 dan 4.456 (FR 161,80%). Sebaliknya, jika IHSG mampu kembali ke atas level 4.907, indeks berpeluang bergerak menuju level resistensi terdekat di 4.981 / 5.098 / 5.182.
“Para investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan menunggu konfirmasi sinyal yang lebih jelas,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Rabu (04/11).