bank dunia|Artificial Intelligence (AI)|Pertumbuhan Asia Timur-Pasifik|pertumbuhan ekonomi

Bank Dunia: AI Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Asia Timur-Pasifik

Oleh: Harry

06 Oktober 2026, 09:18
Bank Dunia: AI Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Asia Timur-Pasifik

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) sebesar 4,5% pada 2026.

Meski menghadapi tantangan global, kawasan ini dinilai tetap tangguh, sementara perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang baru bagi pertumbuhan dan pasar tenaga kerja.

Pertumbuhan sejumlah negara bahkan lebih kuat dari perkiraan, didorong produksi dan ekspor barang berteknologi tinggi yang menopang lonjakan aktivitas AI global.

Bank Dunia merevisi naik proyeksi pertumbuhan Vietnam menjadi 7,4%, Malaysia 5,1%, dan Thailand 2,0%.

Sebaliknya, negara-negara kepulauan Pasifik diproyeksikan hanya tumbuh 2,2%, melambat 0,5 poin persentase dari perkiraan sebelumnya.

Sementara itu, ekonomi China diperkirakan tumbuh 4,4% akibat lemahnya permintaan domestik, pasar tenaga kerja yang lesu, dan penyesuaian sektor properti.

“Integrasi kawasan Asia Timur dan Pasifik dalam rantai nilai global menempatkan kawasan ini pada posisi yang tepat untuk memperoleh manfaat dari lonjakan aktivitas global terkait AI,” kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Carlos Felipe Jaramillo dalam siaran pers Selasa (06/10).

Menurutnya, tantangan kawasan kini adalah mengubah keunggulan dalam produksi barang terkait AI menjadi adopsi teknologi yang lebih luas untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja yang lebih baik.

Laporan Bank Dunia mencatat adopsi AI oleh individu dan perusahaan terus meningkat, namun masih tertinggal dibandingkan negara maju.

Kendala utamanya antara lain biaya tinggi, keterbatasan keahlian, serta persoalan keamanan dan privasi.

Dalam jangka pendek, sebagian besar negara EAP dinilai dapat memperoleh manfaat terbesar dari “AI Kecil”, yakni mengadopsi dan mengadaptasi teknologi AI yang sudah tersedia dan lebih mudah diakses.

Sementara itu, Wakil Presiden Regional IFC untuk Asia dan Pasifik Sarvesh Suri mengatakan, sektor swasta berperan penting dalam mengubah potensi AI menjadi lapangan kerja yang lebih banyak dan berkualitas.

“Dengan menggerakkan modal swasta untuk infrastruktur digital dan energi, meningkatkan pendanaan usaha, serta berinvestasi dalam keterampilan tenaga kerja, negara-negara dapat mempercepat adopsi AI,” ujarnya.

Bank Dunia mencatat, AI belum berdampak signifikan terhadap pekerjaan yang dapat diotomatisasi, tetapi mulai mengubah kebutuhan keterampilan.

Perusahaan kini semakin membutuhkan keahlian AI yang dipadukan dengan kemampuan analitis dan sosial.

Namun, hanya 13% pekerjaan di kawasan EAP yang membutuhkan pemikiran dan penilaian kompleks, jauh di bawah negara maju yang mencapai 39%.

Untuk mempertahankan pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja yang lebih produktif, Bank Dunia merekomendasikan tiga langkah, yakni mempercepat adopsi AI melalui penguatan lingkungan bisnis, infrastruktur digital dan energi, pembiayaan serta keterampilan; mengadaptasi AI secara lokal melalui teknologi berbahasa lokal dan terjangkau; serta memperkuat peran pemerintah sebagai pengguna dan regulator AI untuk meningkatkan layanan publik, fondasi digital, regulasi, dan kerja sama regional.

Berita Terkini

See More