Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas

ANALIS MARKET (28/10/2026): Buy on Weakness

Oleh: Ria

28 Oktober 2026, 08:42
ANALIS MARKET (28/10/2026): Buy on Weakness

foto: ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Pasar saham AS ditutup lebih tinggi pada hari Selasa (27/10/26). Indeks S&P 500 naik 0,60% menjadi 7.722,60, Nasdaq Composite menguat 1,18%, sementara Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,03%.

Saham Broadcom melonjak 4% menyusul pengumuman pendanaan sebesar US$63 miliar dari konsorsium perbankan dan Blackstone, yang berkaitan dengan penggunaan teknologi perusahaan tersebut oleh Anthropic.

Saham Oracle menguat 3,6% di tengah perluasan kemitraan dengan OpenAI, sementara Dell Technologies naik 7,47% dan Super Micro Computer menguat 7,34%.

Sebaliknya, saham Boeing anjlok 10,69% setelah mencatatkan kerugian kuartal ketiga yang lebih besar dari ekspektasi pasar.

SENTIMEN PASAR: Sentimen investor membaik seiring dengan pulihnya minat terhadap saham-saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Pengajuan IPO oleh Anthropic meningkatkan optimisme terhadap prospek komersialisasi AI, sementara perhatian pasar kini tertuju pada laporan laba Alphabet, Microsoft, dan Amazon yang dijadwalkan rilis minggu ini. Kinerja ketiga perusahaan tersebut akan menjadi tolok ukur untuk menilai pertumbuhan pendapatan serta keberlanjutan belanja infrastruktur AI. Para investor juga bersikap hati-hati menjelang serangkaian keputusan penting dari bank sentral, mengingat arah kebijakan suku bunga tetap menjadi faktor krusial bagi valuasi aset berisiko.

GEOPOLITIK: Upaya diplomatik untuk meredakan konflik di Timur Tengah menunjukkan kemajuan setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyerukan diakhirinya situasi yang ia gambarkan sebagai kondisi "bukan perang, bukan pula damai". Para pejabat dari Arab Saudi, Pakistan, dan Turki mengadakan pertemuan di Teheran dan sepakat untuk melanjutkan diskusi diplomatik. Presiden Rusia Vladimir Putin juga dijadwalkan untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian serta Emir Qatar di Moskow. Meskipun terdapat peluang untuk deeskalasi, serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi serta serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz menunjukkan bahwa risiko keamanan regional belum mereda.

REGULASI & KEBIJAKAN: Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan minggu ini, sementara Bank Sentral Eropa (ECB) juga diproyeksikan untuk tidak mengubah suku bunga pada hari Kamis. Keputusan dari kedua bank sentral tersebut akan menjadi fokus utama para pelaku pasar dalam menilai arah kebijakan moneter ke depan. Para investor juga menantikan rilis sejumlah data ekonomi AS minggu ini untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi ekonomi serta ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter di masa mendatang.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) menguat ke level 102,2, mencatatkan kenaikan selama tiga sesi berturut-turut. Yen Jepang melemah hingga melampaui level JPY157,5 per Dolar AS. Di pasar obligasi AS, imbal hasil (yield) Treasury tenor 2 tahun turun 1 basis poin menjadi 4,75%, sementara imbal hasil tenor 10 tahun tetap berada di bawah 5% setelah mencatatkan penurunan selama tiga minggu. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 2 tahun turun 1 basis poin menjadi 1,88%, sedangkan imbal hasil tenor 10 tahun berada di kisaran 2,79%.

PASAR EROPA & ASIA:

-Eropa: Pasar saham bergerak variatif. Indeks STOXX Europe 600 naik 0,47% menjadi 643,68, DAX Jerman menguat 0,7% menjadi 25.591, dan CAC 40 Prancis naik 0,5% menjadi 7.887. Kenaikan DAX didukung oleh stabilnya imbal hasil obligasi dan penurunan harga minyak, sementara indeks FTSE 100 Inggris turun lebih dari 0,5% akibat kinerja perusahaan yang mengecewakan serta pelemahan pada saham sektor energi.

-Asia: Pasar saham Asia bergerak variatif. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,73% menjadi 63.268, sementara KOSPI Korea Selatan menguat 3,09% menjadi 5.638. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,7% menjadi 23.041 akibat tekanan pada saham sektor kesehatan, konsumer, dan manufaktur. Shanghai Composite melemah 1,33% menjadi 3.648,3, sementara Shenzhen Component turun 2,50% menjadi 11.245,7. Di India, indeks BSE Sensex ditutup relatif stagnan di level 73.598,7 di tengah arus keluar dana asing.

KOMODITAS: Harga minyak terkoreksi; Brent turun 1,72% menjadi US$113,79 per barel dan WTI melemah 1,83% menjadi sekitar US$99,90 per barel. Meskipun demikian, persediaan minyak mentah AS tercatat turun 2,03 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Oktober, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan sebesar 800 ribu barel. Harga emas naik 1,08% menjadi di atas US$4.060 per ons, sementara tembaga menguat 1,69% menjadi sekitar US$665,25 per pon (lb). Harga batu bara naik 0,17% menjadi sekitar US$150/ton, sementara harga timah menguat 0,87% menjadi US$51.461/ton. Harga nikel naik 0,44% menjadi US$15.629/ton di tengah kondisi kelebihan pasokan global dan permintaan yang masih terbatas. Di pasar minyak kelapa sawit, harga CPO Malaysia turun 2,11% menjadi MYR4.462/ton, mendekati level terendahnya dalam dua minggu terakhir.

AGENDA HARI INI:

-Jerman (DE): Indeks Keyakinan Konsumen GfK bulan November.

-Kanada (CA): Keputusan Suku Bunga Bank of Canada (BoC) dan Laporan Kebijakan Moneter BoC.

-Britania Raya (GB): Penyampaian Anggaran Musim Gugur (Autumn Budget) 2026.

INDONESIA: Pemerintah mempertimbangkan untuk memberlakukan kembali diskon tarif listrik, menambah pasokan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, serta menawarkan potongan harga tiket pesawat menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) guna menekan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat. Namun, Fitra mengingatkan bahwa stimulus tersebut harus mempertimbangkan ruang fiskal yang terbatas serta beban tambahan subsidi energi. Pemerintah disarankan untuk memprioritaskan bantuan bagi rumah tangga miskin dan rentan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan, melancarkan distribusi, dan mengoptimalkan operasi pasar agar pengendalian inflasi menjadi lebih berkelanjutan.

-Selain itu, Kementerian Keuangan optimistis bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 akan tetap terkendali di angka 2,85% terhadap PDB, meskipun nilai tukar Rupiah melemah ke level Rp18.156 per Dolar AS dan harga minyak Brent telah mencapai US$115,81 per barel. CORE Indonesia memperkirakan bahwa ruang fiskal menuju batas defisit 3% terhadap PDB hanya tersisa sekitar Rp39 triliun. Kenaikan harga minyak dan pelemahan Rupiah dapat menambah kebutuhan subsidi serta kompensasi energi sebesar Rp30 triliun–Rp50 triliun di atas proyeksi pemerintah untuk kuartal keempat tahun 2026. Dengan mempertimbangkan pertumbuhan pendapatan negara serta potensi belanja yang tidak terserap sepenuhnya, defisit diproyeksikan mencapai 2,85%–2,95% terhadap PDB pada akhir tahun. Pemerintah juga perlu mewaspadai risiko penundaan pembayaran kompensasi kepada Pertamina dan PLN, karena langkah ini hanya mengalihkan beban fiskal ke tahun berikutnya.

-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,99% ke level 5.266,13 pada perdagangan hari Selasa (27/10/26). Investor asing mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp708,88 miliar di pasar reguler dan Rp668,26 miliar di seluruh pasar, sementara transaksi tunai dan negosiasi mencatatkan nilai beli bersih (net buy) sebesar Rp40,62 miliar. Secara akumulatif, nilai jual bersih asing sepanjang tahun berjalan (year-to-date) telah mencapai Rp124,93 triliun. Tekanan jual asing terbesar terjadi pada saham BMRI, TLKM, BBNI, BRIS, BBCA, PGAS, DSSA, ANTM, ITMG, dan TPIA. Sebaliknya, aliran masuk dana asing terbesar tercatat pada saham CPIN, MDKA, ASII, BUMI, SINI, AMMN, JSMR, UNTR, PWON, dan ESSA. Nilai tukar Rupiah melemah dan bertahan di atas Rp18.158 per Dolar AS—mendekati level terlemahnya sejak akhir Juli—di tengah kondisi Dolar yang stabil menjelang keputusan The Fed.

-Secara teknikal, IHSG kembali menembus ke bawah level 5.317 dan rentan untuk melanjutkan tren penurunan. Indikator RSI (14) kembali turun ke angka 31,6. IHSG diperkirakan rentan untuk terus menguji level support terdekat di 5.185. Jika level ini tertembus, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju level support berikutnya di 5.012 / 4.980. Sementara itu, jika IHSG mengalami rebound, level resistance terdekat berada di 5.317; jika level ini berhasil ditembus, IHSG dapat kembali menuju kisaran resistance di 5.349 / 5.418.

“Investor disarankan untuk tetap berhati-hati, menerapkan strategi buy on weakness secara selektif, serta menunggu konfirmasi lebih lanjut sebelum melakukan akumulasi secara lebih agresif,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Rabu (28/10).

Berita Terkini

See More