See More

29 Oktober 2026, 09:04

29 Oktober 2026, 09:01

29 Oktober 2026, 08:50

29 Oktober 2026, 08:42

29 Oktober 2026, 08:37

29 Oktober 2026, 08:32
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)|literasi keuangan|OJK Digiclass Sekolah Rakyat 2026|Friderica Widyasari Dewi|penipuan digital|Artificial Intelligence (AI)|Komdigi
Oleh: Harry

foto: dok. OJK
Pasardana.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat literasi keuangan dan kecakapan digital generasi muda melalui program OJK Digiclass Sekolah Rakyat 2026 bertema “Saatnya Berkarya, Ciptakan Prestasi”.
Kegiatan yang digelar di Aula Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) Jakarta, Selasa (27/10), diikuti sekitar 500 pelajar.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, kemajuan teknologi digital membuka peluang bagi generasi muda untuk belajar, berkarya, dan menciptakan peluang ekonomi.
Namun, pemanfaatannya harus diimbangi pemahaman keuangan dan kewaspadaan terhadap penipuan digital atau scam.
“Ini adalah juga bentuk pelindungan OJK pada masyarakat. Memberikan edukasi, literasi. Supaya adik-adik tidak terkena scam penipuan. Ini banyak sekali korban scam ke anak-anak muda,” ujar Friderica seperti dilansir dalam siaran pers, Selasa (27/10).
Menurutnya, penguasaan literasi keuangan dan digital menjadi bekal penting bagi pelajar untuk menghadapi tantangan masa depan sekaligus memanfaatkan teknologi secara aman dan produktif.
Sementara itu, Ketua Komisi Informasi Pusat, Handoko Agung Saputro mengapresiasi program tersebut karena mendukung upaya pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan dan memberikan kesempatan yang setara bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi.
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Fifi Aleyda Yahya, juga mengingatkan pelajar agar kritis dalam memanfaatkan informasi digital, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
“Artificial Intelligence itu hanya alat bantu, bukan pengganti otak kita, bukan pengganti nurani kita, bukan pengganti insting kita sebagai manusia seutuhnya,” katanya.
Urgensi penguatan literasi keuangan tercermin dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026.
Indeks literasi keuangan pelajar dan mahasiswa tercatat 62,72%, di bawah indeks nasional sebesar 69,57%.
Sementara itu, indeks inklusi keuangan kelompok tersebut mencapai 92,76%.
Data tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap produk dan layanan keuangan belum sepenuhnya diimbangi pemahaman yang memadai untuk menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab.
Dalam kegiatan tersebut, para pelajar peserta juga dikukuhkan sebagai Duta Literasi Keuangan untuk memperluas edukasi keuangan di lingkungan sekolah dan masyarakat.
OJK menyatakan akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna meningkatkan literasi dan inklusi keuangan serta kecakapan digital masyarakat.
Upaya ini sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.