See More

29 Oktober 2026, 09:04

29 Oktober 2026, 09:01

29 Oktober 2026, 08:50

29 Oktober 2026, 08:42

29 Oktober 2026, 08:37

29 Oktober 2026, 08:32
PT Credit Bureau Indonesia (CBI)|Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)|CBI Connect 2026
Oleh: Corri

Foto : istimewa
Pasardana.id – PT Credit Bureau Indonesia (CBI) meluncurkan empat solusi credit intelligence untuk meningkatkan akurasi penilaian kredit, memperkuat pengelolaan risiko, dan memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Empat solusi tersebut diperkenalkan dalam forum CBI Connect 2026 bertema “Leading the Next Era of Credit Intelligence” di The St. Regis Jakarta.
CBI menargetkan inovasi ini dapat membuka peluang akses kredit bagi 137 juta calon debitur yang terkendala keterbatasan riwayat kredit atau dokumen penghasilan formal.
Keempat solusi itu meliputi Income Predictor untuk memperkirakan pendapatan bulanan calon peminjam, Enhanced Bureau Alternative Score (EBAS) untuk menilai calon debitur dengan riwayat kredit terbatas, Skip Tracing untuk membantu menemukan dan menghubungi debitur, serta Agent Polar, solusi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis kinerja portofolio dan mendeteksi potensi risiko kredit.
Presiden Direktur CBI, Anton K. Adiwibowo, mengatakan pemanfaatan data yang lebih komprehensif dapat membantu lembaga keuangan meningkatkan akurasi penilaian kredit, menjaga kualitas portofolio, dan memenuhi ketentuan yang berlaku.
“Melalui inovasi credit intelligence, CBI menyediakan informasi yang lebih komprehensif mengenai profil calon peminjam berdasarkan data yang akurat,” ujar Anton dalam keterangan tertulis, Senin (26/10).
CBI berharap solusi tersebut dapat mendukung lebih dari 2.000 lembaga jasa keuangan dalam meningkatkan kualitas penilaian kredit dan pengelolaan risiko.
Kebutuhan terhadap informasi kredit yang lebih lengkap semakin mendesak.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2026, sebanyak 59,42% pekerja di Indonesia berada di sektor informal.
Kondisi ini menjadi tantangan karena sebagian calon debitur tidak memiliki dokumen pendapatan formal yang lazim digunakan dalam penilaian kelayakan kredit.
Sementara itu, Survei Konsumen Bank Indonesia mencatat porsi pendapatan konsumen untuk membayar cicilan atau utang mencapai 10% pada Agustus 2026.
Kondisi tersebut menegaskan pentingnya penilaian kemampuan bayar dengan mempertimbangkan pendapatan dan kewajiban keuangan calon debitur.
Direktur Analisis Informasi dan Manajemen Krisis Perbankan OJK, Bayu Husodo, mengapresiasi inisiatif CBI dalam memperkuat ekosistem informasi perkreditan melalui pemanfaatan data berkualitas dan pengembangan credit intelligence.
Menurutnya, informasi kredit yang terstandarisasi dapat meningkatkan akurasi penilaian kelayakan kredit, membantu mendeteksi risiko sejak dini, dan memperluas akses pembiayaan bagi UMKM.
OJK juga mengapresiasi pengembangan platform SME Bureau untuk membangun profil UMKM yang lebih transparan dan terstandarisasi.
Dalam forum tersebut, ekonom senior Aviliani menekankan pentingnya memahami kondisi ekonomi debitur secara menyeluruh, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan besarnya peran sektor informal serta UMKM.
Menurut Aviliani, lembaga keuangan perlu melihat lebih jauh dari sekadar skor biro kredit agar dapat memahami kondisi ekonomi debitur secara utuh.
Melalui pengembangan credit intelligence, CBI berharap lembaga keuangan dapat mengambil keputusan kredit secara lebih akurat dan bertanggung jawab, sekaligus memperluas pembiayaan bagi masyarakat yang belum terlayani secara optimal.