See More

29 Oktober 2026, 09:04

29 Oktober 2026, 09:01

29 Oktober 2026, 08:50

29 Oktober 2026, 08:42

29 Oktober 2026, 08:37

29 Oktober 2026, 08:32
Perum Bulog|ahmad rizal ramdhani|stok beras|nataru 2026/2027|Cadangan Beras Pemerintah (CBP)
Oleh: Ronal

Foto : istimewa
Pasardana.id- Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang ada di gudang Perum Bulog tercatat kini berada dikisaran 4,5 juta ton lagi.
Angka tersebut berdasarkan data terbaru dari rapat koordinasi dan pernyataan resmi Perum Bulog serta Kementerian Koordinator Bidang Pangan, di Jakarta, pada Senin (26/10).
Dengan jumlah stok ini, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani memastikan kesiapannya menghadapi Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 untuk memenuhi kebutuhan masyarakat serta menjaga pasokan nasional aman.
Menurut Rizal, kuatnya cadangan beras pemerintah ini menjadi modal penting untuk memastikan ketersediaan pangan masyarakat, khususnya dalam menghadapi peningkatan konsumsi menjelang akhir tahun.
“Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras menjelang Natal dan Tahun Baru. Stok beras yang dikelola Bulog saat ini sangat memadai, mencapai sekitar 4,5 juta ton," ucap Rizal.
Rizal menambahkan, dengan dukungan Cadangan yang kuat dan jaringan distribusi di seluruh Indonesia, Bulog siap memastikan kebutuhan beras masyarakat tetap terpenuhi.
Bahkan, berdasarkan perhitungan ketersediaan beras nasional secara keseluruhan, pasokan diproyeksikan mencukupi kebutuhan hingga 10 bulan ke depan atau sekitar Juli–Agustus 2027.
"Tidak hanya hingga akhir tahun, tetapi juga untuk mendukung ketahanan pangan nasional pada bulan-bulan mendatang,” ujar Rizal.
Tak sekedar memastikan ketersediaan stok, Rakortas itu juga menekankan pentingnya percepatan penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Bantuan Pangan Beras.
Pemerintah telah menyiapkan alokasi tambahan SPHP beras sebesar 1 juta ton untuk memperkuat pasokan di pasaran dan menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Sejalan dengan arahan tersebut, BUMN Pangan ini terus mengoptimalkan distribusi beras SPHP melalui berbagai saluran penjualan, mulai dari pasar rakyat, Gerakan Pangan Murah (GPM), Rumah Pangan Kita (RPK), hingga jaringan ritel dan mitra penyalur lainnya.
"Langkah ini juga diarahkan untuk memperkuat pasokan di wilayah-wilayah yang masih mengalami tekanan harga beras, sehingga manfaat ketersediaan stok nasional dapat dirasakan secara merata," beber Rizal.
Bulog juga mempercepat penyaluran bantuan pangan beras periode Oktober–Desember 2026 kepada 33,2 juta Penerima Bantuan Pangan (PBP) yang termasuk dalam kelompok desil 1 hingga 4.
Setiap penerima dialokasikan 10 kilogram beras per bulan atau sebanyak 30 kilogram untuk tiga bulan, dengan total kebutuhan beras sekitar 1 juta ton.
Percepatan penyaluran ini, kata Rizal, menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam menjaga daya beli dan membantu pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat hingga akhir tahun.
“Arahan pemerintah sangat jelas, stok yang melimpah harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, Bulog tidak hanya memastikan beras tersedia di gudang, tetapi juga mempercepat penyalurannya melalui SPHP dan bantuan pangan," ucap Rizal.
Ia pun menambahkan, seluruh jajaran Bulog di pusat maupun daerah terus didorong untuk memperkuat koordinasi dan distribusi, agar pasokan tetap terjaga, harga semakin stabil, dan masyarakat dapat menyambut akhir tahun dengan tenang.
Dengan dukungan cadangan beras yang kuat serta sinergi bersama kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan, Perum Bulog berkomitmen terus menjalankan perannya dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan nasional.
"Kesiapan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendukung swasembada pangan berkelanjutan serta memastikan pangan terjaga dan rakyat sejahtera," tukas Rizal.