Investor asing|net sell asing|nilai tukar rupiah|Mirae Asset Sekuritas Indonesia|saham bank|PT Bank Central Asia Tbk|BBCA|BRIS|PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI)|Himbara

Asing Kabur, Rupiah Tembus Rp18.100! Mirae Asset Ungkap Saham Bank Pilihan

Oleh: Harry

27 Oktober 2026, 13:12
Asing Kabur, Rupiah Tembus Rp18.100! Mirae Asset Ungkap Saham Bank Pilihan

Foto: dok. Mirae Asset Sekuritas

Pasardana.id – Tekanan jual investor asing dan pelemahan rupiah menjadi ancaman bagi pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah ketidakpastian usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia pun menyarankan investor selektif memilih saham perbankan dengan fundamental pendanaan yang kuat.

Pada perdagangan Senin (26/10), IHSG melemah 1,22%, sementara investor asing mencatatkan net sell lebih dari Rp2 triliun. Rupiah juga ditutup di atas Rp18.100 per dolar AS.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan pembelian investor domestik sejauh ini mampu menyerap arus keluar dana asing.

Namun, peningkatan tekanan jual menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan dukungan tersebut.

“Dengan ketidakpastian MSCI yang belum mereda dan tekanan eksternal yang meningkat, kami tetap berhati-hati. Arus dana asing dan stabilitas rupiah akan semakin menentukan kemampuan IHSG mempertahankan pemulihannya,” ujar Rully dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10).

Di sektor perbankan, pertumbuhan kredit melambat menjadi 12,7% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada September 2026, dari 13,3% pada Agustus.

Perlambatan terutama dipicu kredit investasi yang terkontraksi 0,2% secara bulanan, antara lain akibat tekanan di sektor konstruksi.

Sebaliknya, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) membaik menjadi 8,2% YoY dengan total dana mencapai Rp9.896 triliun.

Rasio current account and savings account (CASA) juga naik menjadi 64,9%.

Namun, kenaikan suku bunga deposito berpotensi meningkatkan biaya dana dan menekan margin bunga bersih (net interest margin/NIM).

Sementara itu, Research Analyst Mirae Asset, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menilai penurunan rasio loan-to-deposit ratio (LDR) menjadi 91,7% pada September dari 92,7% pada bulan sebelumnya belum mencerminkan perbaikan likuiditas yang struktural.

Sementara itu, bunga deposito tenor satu bulan naik menjadi 5,3% dan tenor tiga bulan mencapai 5,9%.

“Kami melihat penurunan LDR ini sebagai kelonggaran sementara, bukan perbaikan likuiditas yang struktural. Kenaikan biaya dana juga mengindikasikan potensi tekanan margin ke depan,” kata Nurkholis.

Di tengah kondisi tersebut, Mirae Asset tetap positif terhadap saham PT Bank Central Asia Tbk (IDX: BBCA), berkat likuiditas yang memadai, pendanaan berbiaya rendah, serta kemampuan menjaga NIM.

Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (IDX: BRIS) juga dinilai menarik karena berpeluang menangkap pertumbuhan permintaan produk keuangan syariah, termasuk melalui bisnis emas.

Sebaliknya, Mirae Asset berhati-hati terhadap bank-bank besar Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) karena ketergantungan lebih tinggi pada pendanaan korporasi dan deposito, serta risiko penurunan kualitas aset, khususnya di sektor konstruksi.

Investor pun perlu mencermati arus dana asing, stabilitas rupiah, serta kemampuan perbankan mengelola likuiditas dan biaya pendanaan di tengah volatilitas pasar.

Berita Terkini

See More