Kementerian Ekraf Jalin Kolaborasi Kembangkan Ekosistem Ekonomi Kreatif yang Inklusif
Oleh: Dadag

Foto: Istimewa
Pasardana.id - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) berkolaborasi dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (PPKUKM) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serta Jakarta Creative Hub menyelenggarakan Seminar Inklusi Sosial dalam Ekonomi Kreatif Indonesia dan National Validation Workshop: Indonesia sebagai bagian dari rangkaian The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026.
Forum tersebut digelar guna memetakan serta mengatasi kesenjangan akses dan hambatan partisipasi dalam ekosistem ekonomi kreatif Indonesia melalui validasi temuan riset inklusi sosial.
Kegiatan itu merupakan bagian dari studi Research on Social Inclusion in the Creative Economy in Indonesia yang disusun oleh United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN DESA) bersama tim periset dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dengan melibatkan 25 informan kunci, penelitian tersebut mengkaji secara mendalam pengalaman para pelaku kreatif, komunitas, serta organisasi pemuda, lanjut usia, penyandang disabilitas, hingga UMKM.
Seminar tersebut menghadirkan periset Indonesia, Prananda Luffiansyah Malasan, dan periset Kamboja, Kai Brennert, untuk memaparkan temuan awal riset dan perbandingan di kedua negara.
Kepala Subdirektorat Manajemen Strategis Kementerian Ekraf, Dwi Wahyuni, menekankan bahwa arah pengembangan ekonomi kreatif nasional harus membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat dengan beragam latar belakang dan kemampuan.
Menurutnya, penguatan inklusi sosial merupakan fondasi utama agar akselerasi potensi kreatif tidak hanya terkonsentrasi di wilayah atau kelompok tertentu, melainkan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat untuk berkarya dan berkontribusi.
“Inisiatif riset UN DESA ini merupakan langkah penting untuk memperkuat pemahaman dan merumuskan arah kebijakan bagi pengembangan ekonomi kreatif yang lebih inklusif. Melalui rangkaian seminar hingga workshop pada hari ini, saya berharap kita dapat memperoleh masukan serta rekomendasi untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif yang inklusif dan berdaya saing di Indonesia.” ujar Dwi Wahyuni, seperti dilansir dari siaran pers, Minggu (25/10/2026).
Hasil analisis awal riset menunjukkan bahwa peluang untuk tumbuh di sektor ekonomi kreatif masih menghadapi tantangan ketimpangan.
Keterbatasan akses terhadap infrastruktur pendukung, skema pembiayaan, perluasan jejaring, hingga penetrasi pasar masih menjadi kendala utama, di samping dukungan kelembagaan yang belum konsisten serta kesenjangan fasilitas antara pusat dan daerah.
Selain itu, studi tersebut menggarisbawahi pentingnya pengakuan terhadap kualitas karya, pemanfaatan teknologi digital yang terukur sesuai kebutuhan spesifik pelaku usaha, serta jaminan keberlanjutan praktik kreatif dan regenerasi pengetahuan.
Guna menguji serta memvalidasi temuan tersebut, National Validation Workshop menghadirkan lebih dari 30 pemangku kepentingan dari berbagai kawasan di Indonesia.
Para peserta mewakili 21 subsektor ekonomi kreatif, creative hubs, Indonesia Creative Cities Network (ICCN), asosiasi profesi, pelaku UMKM, hingga akademisi.
Dipandu oleh tim periset dari ITB, peserta terbagi dalam tujuh kelompok kerja untuk mendokumentasikan dan memetakan persoalan melalui metode problem mapping canvas.
Proses eksplorasi diawali dengan penyampaian pandangan secara mandiri melalui silent discussion, dilanjutkan dengan pengelompokan isu strategis dan penentuan skala prioritas hambatan yang paling mendesak.
Seluruh hasil pemetaan kemudian dipresentasikan dan dibahas secara kolektif untuk memverifikasi kesesuaian antara hasil temuan riset dengan kondisi faktual di lapangan, mengoreksi disparitas informasi, serta mengidentifikasi peluang intervensi kebijakan.
Seluruh masukan konstruktif dari para pemangku kepentingan ini akan diintegrasikan untuk menyempurnakan laporan penelitian akhir dan memformulasi rekomendasi kebijakan penguatan inklusi sosial ekonomi kreatif nasional.
WCCE 2026 mengusung tema Inclusively Creative: Collective Continuity dan berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 di Jakarta.
Kegiatan itu turut dihadiri Juanda Permana Jaya, Kepala Bidang Industri Pemerintah Provinsi DKI Jakarta; serta Matthieu Cognac, Inter-Regional Adviser dari UN DESA.
Hasil riset dan masukan para pemangku kepentingan diharapkan menjadi referensi untuk memahami hambatan partisipasi dan merumuskan dukungan yang lebih sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran dalam ekosistem ekonomi kreatif.




