See More

26 Oktober 2026, 16:53

26 Oktober 2026, 16:43

26 Oktober 2026, 16:43

26 Oktober 2026, 16:33

26 Oktober 2026, 16:14

26 Oktober 2026, 16:07
Artificial Intelligence (AI)|pembayaran digital|Office of Chief Economist Bank Mandiri
Oleh: Adi

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id - Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam aktivitas belanja konsumen Indonesia semakin berkembang.
Berdasarkan laporan Daily Economic and Market Review dari Office of Chief Economist PT Bank Mandiri, Senin (26/10/2026), AI tidak hanya membantu konsumen mencari informasi produk, tetapi juga membandingkan harga, menilai kredibilitas merek, hingga mendukung proses pemesanan dan pembayaran digital.
Mengutip survei Macromill pada Mei 2026 terhadap lebih dari 4.000 responden di Indonesia, sekitar 21% konsumen telah menggunakan AI untuk mencari informasi produk.
Dari kelompok pengguna tersebut, 73% memanfaatkan AI untuk membandingkan produk, sementara masing-masing 65% menggunakannya untuk membandingkan harga dan memeriksa kredibilitas merek.
Pemanfaatan AI berbeda berdasarkan tingkat pendapatan. Sebanyak 70% konsumen berpenghasilan di bawah Rp3,5 juta menggunakan AI untuk mencari alternatif belanja yang lebih murah.
Pada kelompok berpenghasilan Rp3,5 juta–Rp8,5 juta, sebanyak 82% memanfaatkan AI untuk membandingkan produk, sedangkan 39% menilai AI sangat membantu.
Sementara itu, 28% konsumen berpenghasilan di atas Rp8,5 juta menyatakan AI sangat memengaruhi keputusan pembelian.
Menurut laporan Bank Mandiri tersebut, peran AI kini meluas hingga proses transaksi.
The Economist menyoroti asisten AI, termasuk Instinct dan Muse dari Meta melalui WhatsApp, yang dapat membantu pemesanan restoran hingga pencarian tiket.
Shopify dan Stripe juga menyiapkan integrasi yang memungkinkan AI mendukung proses belanja, mulai dari pemilihan produk hingga pembayaran.
Peluang integrasi AI dengan layanan pembayaran semakin terbuka seiring meningkatnya transaksi digital di Indonesia.
Laporan Daily Economic and Market Review mencatat transaksi pembayaran digital mencapai 18,1 miliar transaksi pada kuartal III 2026, tumbuh 39,2% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Tren ini berpotensi mendorong pengalaman belanja yang lebih praktis dan efisien bagi konsumen.
Meski menawarkan kemudahan, perluasan penggunaan AI dalam transaksi digital perlu diimbangi dengan penguatan perlindungan data pribadi, keamanan pembayaran, serta mekanisme penyelesaian transaksi bermasalah.
Aspek tersebut penting untuk menjaga kepercayaan konsumen seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi dalam aktivitas belanja.
Ke depan, integrasi AI dan pembayaran digital berpotensi mengubah cara konsumen mencari produk, mengambil keputusan, dan menyelesaikan transaksi.
Dengan dukungan infrastruktur digital yang andal serta perlindungan konsumen yang memadai, perkembangan ini dapat membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.