See More

26 Oktober 2026, 16:53

26 Oktober 2026, 16:43

26 Oktober 2026, 16:43

26 Oktober 2026, 16:33

26 Oktober 2026, 16:14

26 Oktober 2026, 16:07
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)|analisa market|Kiwoom Sekuritas
Oleh: Ria

foto: ilustrasi (ist)
Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada hari Jumat, dengan Dow Jones Industrial Average turun 1,23% menjadi 52.215,16, S&P 500 terkoreksi 0,52% menjadi 7.623,68, dan Nasdaq Composite turun 0,21% menjadi 25.955,34.
Penurunan ini terjadi setelah pasar mengalami minggu yang penuh volatilitas, meskipun sektor teknologi dalam indeks S&P 500 berhasil menguat 0,35%.
Saham sektor barang kebutuhan pokok (consumer staples), barang konsumsi non-primer (consumer discretionary), dan keuangan mencatatkan tekanan terbesar, dengan penurunan lebih dari 1%.
Para investor kini bersiap menghadapi minggu penting yang akan diwarnai oleh rilis laporan laba dari sejumlah perusahaan besar serta keputusan kebijakan moneter dari The Fed.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar dibayangi oleh kekhawatiran mengenai keberlanjutan investasi di bidang kecerdasan buatan (AI), khususnya terkait besarnya belanja modal untuk pembangunan pusat data serta kemampuan perusahaan dalam mempertahankan tingkat pengembalian investasi (return on investment). Sekitar sepertiga dari perusahaan dalam indeks S&P 500 dijadwalkan untuk merilis laporan laba kuartalan minggu depan, termasuk Alphabet, Microsoft, dan Amazon. Di tengah kekhawatiran tersebut, pertumbuhan laba korporasi tetap menjadi penopang pasar; berdasarkan data LSEG IBES, laba perusahaan-perusahaan S&P 500 diproyeksikan meningkat lebih dari 32% pada kuartal ketiga. Sementara itu, sentimen konsumen AS melemah hingga mendekati rekor terendah pada bulan Oktober, yang mencerminkan persepsi rumah tangga yang memburuk terhadap kondisi ekonomi.
GEOPOLITIK: Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa konflik dengan Iran tidak akan berakhir sampai kemampuan nuklir Teheran dipastikan telah dinetralkan, meskipun ia menyatakan tidak ada serangan dari pihak AS pada hari Minggu (25/10). Di sisi lain, Kedutaan Besar AS memerintahkan staf non-esensial beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi menyusul serangan kelompok Houthi, yang dilaporkan melibatkan 10 rudal serta mengakibatkan dua orang terluka dan kerusakan properti. Beberapa negara Teluk mengutuk serangan tersebut, sementara Iran menganggap negosiasi dengan Washington tidak ada gunanya sebelum tujuh syarat yang mereka ajukan dipenuhi.
REGULASI & KEBIJAKAN: The Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan kebijakan yang akan berlangsung Rabu depan. Perhatian investor akan tertuju pada pernyataan resmi bank sentral untuk mencari petunjuk mengenai kemungkinan perubahan kebijakan pada pertemuan bulan Desember. Selain itu, pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) di Amerika Serikat pada tanggal 3 November menjadi agenda politik penting karena akan menentukan komposisi dan kendali atas Kongres AS. Di Indonesia, rencana penerapan kewajiban biodiesel B50 juga menarik perhatian di pasar komoditas, mengingat kebijakan ini berpotensi meningkatkan permintaan minyak kelapa sawit domestik serta memengaruhi keseimbangan pasokan global.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun naik menjadi 5,00% setelah sempat turun 17 basis poin pada sesi sebelumnya, sementara imbal hasil tenor 2 tahun naik 5 basis poin menjadi 4,69%. Pergerakan ini mencerminkan volatilitas di pasar obligasi menjelang keputusan kebijakan The Fed. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun lebih dari 10 basis poin ke kisaran 2,76%, sedangkan imbal hasil tenor 2 tahun turun 4 basis poin menjadi 1,86%. Indeks Dolar AS (DXY) melemah 0,10% ke level 101,7041. Sementara itu, Yen Jepang sempat menguat hingga mencapai 156 per Dolar AS—level tertinggi dalam lima minggu terakhir—di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman. Namun, Yen kemudian melepaskan sebagian penguatannya tersebut.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa bergerak melemah. Indeks FTSE 100 Inggris turun sekitar 0,3%, sehingga akumulasi penurunan mingguan mencapai hampir 2%. Indeks DAX 40 Jerman turun 0,8% ke level 25.182, yang merupakan posisi terendah sejak 9 Oktober. Indeks CAC 40 Prancis melemah 0,4% ke level 7.783 menjelang tinjauan peringkat kredit negara tersebut oleh Moody's. Sementara itu, indeks STOXX Europe 600 berada di level 635,77, turun 0,10% dalam empat minggu terakhir. Pasar saham Asia bergerak variatif. Indeks Shanghai Composite naik 0,89% ke level 3.690 dan indeks Shenzhen Component melonjak 2,79% ke level 11.673, didorong oleh pembelian ETF yang didukung oleh negara. Indeks Hang Seng Hong Kong menguat 0,7% ke level 23.093 setelah para investor memanfaatkan koreksi sebelumnya untuk membeli saham di harga yang lebih rendah. Indeks KOSPI Korea Selatan naik 0,30% ke level 5.550 di tengah pemulihan saham-saham sektor semikonduktor. Sebaliknya, indeks BSE Sensex India turun 0,2% ke level 73.124, mencatatkan penurunan mingguan sebesar 2,1%. Indeks STI Singapura menguat 0,13% ke level 5.422, sementara indeks FKLCI Malaysia naik 0,21% ke level 1.612.
KOMODITAS: Harga minyak bergerak di level tinggi dengan volatilitas yang masih besar. Minyak mentah WTI tercatat di angka US$103,27/barel, naik 3,82%. Brent berada di level US$116,70/barel, dengan kenaikan harian sebesar 3,14%. Harga batu bara bertahan di atas US$150/ton, turun 0,30%, mendekati level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Di sektor logam, harga emas turun 0,71% menjadi US$3.996/ounce, sementara tembaga naik 1,71% menjadi sekitar US$650,75/lb. Harga minyak sawit Malaysia menguat 0,79% menjadi MYR4.587/ton. Sebaliknya, harga timah tercatat sebesar US$50.517/ton pada 23 Oktober, naik 0,85%, sementara nikel melemah 1,69% menjadi sekitar US$15.848/ton.
AGENDA HARI INI:
-Jerman (DE): Ifo Business Climate bulan Oktober.
-Inggris (GB): CBI Distributive Trades bulan Oktober.
-Brasil (BR): BCB Focus Market Readout.
-Amerika Serikat (US): Chicago Fed National Activity Index bulan September dan Dallas Fed Manufacturing Index bulan Oktober.
INDONESIA: BPI Danantara menargetkan profitabilitas BUMN sebesar Rp334 triliun pada akhir tahun 2026 melalui efisiensi operasional, penyederhanaan struktur perusahaan, dan optimalisasi aset negara. Hingga saat ini, proses perampingan telah dilakukan terhadap 364 perusahaan, dengan target mencapai 700 perusahaan pada akhir Desember 2026. Di sisi lain, realisasi investasi Indonesia selama periode Oktober 2024 – September 2026 mencapai Rp3.923,2 triliun, yang terdiri dari investasi dalam negeri sebesar Rp1.998,7 triliun dan investasi asing sebesar Rp1.924,5 triliun. Investasi tersebut menyerap sekitar 5,49 juta tenaga kerja, dengan 51,8% dari realisasi investasi terjadi di luar Pulau Jawa. Selain itu, Fitch Ratings memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat menjadi 5,2% sepanjang tahun 2026, di bawah target pemerintah sebesar 5,4%. Setelah tumbuh 5,4% secara tahunan (YoY) pada semester I-2026, pertumbuhan diproyeksikan turun ke bawah 5% pada semester II-2026. Perlambatan ini dipengaruhi oleh berkurangnya momentum belanja pemerintah setelah pengeluaran meningkat hampir 19% pada semester I-2026, yang menyumbang sekitar 1,2 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi. Di samping itu, kenaikan harga energi global akibat konflik AS-Iran serta melemahnya kepercayaan konsumen diperkirakan akan menekan aktivitas ekonomi dan konsumsi rumah tangga hingga akhir tahun.
-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,95% ke level 5.439,26 pada perdagangan hari Jumat (23/10/26), meskipun investor asing masih mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp1,62 triliun di pasar reguler dan Rp1,29 triliun di seluruh pasar. Sebaliknya, transaksi tunai dan negosiasi mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp330,57 miliar. Secara tahun berjalan (YTD), akumulasi jual bersih asing mencapai Rp122,20 triliun, dengan tekanan jual terbesar terjadi pada saham BBCA, BBRI, BBNI, GOTO, BRIS, TLKM, BUMI, TPIA, PTBA, dan BMRI. Sementara itu, aliran masuk dana asing terbesar tercatat pada saham DSSA, ASII, AALI, EMAS, ENRG, CUAN, BUVA, UNTR, BRMS, dan KOTA. Di pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah bertahan di kisaran Rp18.080 per Dolar AS dan tetap berada di atas level Rp18.000 selama tiga sesi berturut-turut, meskipun Dolar AS secara umum melemah.
-Secara teknikal, IHSG kembali berhasil ditutup di zona positif. Indikator RSI (14) naik kembali ke level 35,6, yang mengindikasikan potensi berlanjutnya pemulihan. Jika IHSG mampu bertahan di atas level 5.424, terdapat potensi untuk melanjutkan pergerakan menuju level resistansi di 5.520 (EMA10) serta kisaran 5.607–5.631. Namun, jika terjadi aksi ambil untung (profit taking) dan IHSG tidak mampu bertahan di atas level 5.424, indeks dapat kembali ke level 5.328, bahkan menuju area dukungan (support) di 5.278 / 5.185.
“Para investor disarankan untuk tetap berhati-hati, menerapkan strategi buy on weakness secara selektif, serta menunggu konfirmasi lebih lanjut sebelum melakukan akumulasi secara lebih agresif,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Senin (26/10).