Pefindo Sematkan Peringkat Tertinggi, Batavia Perkuat Dominasi di Industri Reksa Dana
Oleh: Harry

Foto: Pasardana.id
Pasardana.id – PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (Batavia), salah satu perusahaan manajer investasi terbesar di Indonesia, meraih peringkat tertinggi idMIA-1 (Superior) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).
Tiga reksa dana kelolaannya juga memperoleh peringkat kualitas kredit tertinggi, yakni idAAA(f).
Ketiga reksa dana tersebut adalah Batavia Dana Kas Maxima, Batavia Dana Obligasi Ultima, dan Batavia Obligasi Negara Indonesia.
Peringkat idAAA(f) mencerminkan tingkat proteksi superior terhadap risiko kerugian akibat kemungkinan gagal bayar aset efek dalam portofolio, dengan klasifikasi volatilitas berbeda sesuai karakteristik masing-masing produk.
Presiden Direktur Batavia, Lilis Setiadi, mengatakan penilaian independen tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaan terhadap transparansi dan upaya memberikan referensi objektif bagi masyarakat dalam mengambil keputusan investasi.
“Kepercayaan investor dibangun melalui transparansi. Sejalan dengan POJK Nomor 15 Tahun 2025, kami meyakini bahwa masyarakat perlu mendapatkan informasi yang transparan mengenai Manajer Investasi dan produk Reksa Dana sebelum mengambil keputusan investasi,” kata Lilis dalam Media Gathering di Jakarta, Rabu (21/10).
Menurutnya, hasil penilaian tersebut bukan sekadar peringkat, melainkan validasi independen atas kualitas perusahaan dan produk yang dikelola.
Batavia berharap hasilnya membantu masyarakat mengambil keputusan investasi secara bijak, terukur, dan cermat, sekaligus mendorong industri investasi yang lebih transparan dan terpercaya.
Penilaian manajer investasi oleh Pefindo mencakup pertumbuhan dan stabilitas dana kelolaan, kinerja dan volatilitas produk, kesehatan keuangan perusahaan, manajemen risiko, proses investasi, kualitas riset dan analisis, infrastruktur dan operasional, kualitas tim investasi, serta layanan nasabah.
Sementara itu, penilaian reksa dana mempertimbangkan kinerja, volatilitas, serta kualitas portofolio, termasuk konsentrasi dan likuiditas.
Tiga Reksa Dana Raih Peringkat Tertinggi
Di kesempatan sama, Direktur Batavia, Prihatmo Hari. M. menjelaskan, Batavia Dana Kas Maxima merupakan reksa dana pasar uang yang berinvestasi pada instrumen pasar uang dan efek utang dengan jatuh tempo tidak lebih dari satu tahun.
Produk ini bertujuan mengoptimalkan pertumbuhan dana dan menjaga likuiditas dengan tetap mempertahankan nilai modal.
Per 30 September 2026, dana kelolaannya mencapai Rp13,4 triliun, menjadikannya reksa dana pasar uang terbesar di Indonesia.
Produk ini memperoleh peringkat idAAA(f) dari Pefindo.
Batavia Dana Obligasi Ultima merupakan reksa dana pendapatan tetap yang berinvestasi pada efek utang pemerintah Republik Indonesia dan/atau korporasi.
Produk ini bertujuan mengoptimalkan pertumbuhan dana dengan tetap mempertahankan nilai modal dalam jangka menengah.
Pefindo memberikan peringkat idAAA(f)/S2, yang mencerminkan kualitas kredit tertinggi dengan volatilitas rendah hingga moderat.
Produk ini mencatatkan kinerja akumulatif 11,61% dalam periode tiga tahun hingga akhir September 2026.
Adapun Batavia Obligasi Negara Indonesia berfokus pada obligasi pemerintah Republik Indonesia untuk mengoptimalkan pertumbuhan dana dalam jangka menengah.
Produk ini memperoleh peringkat idAAA(f)/S3, yang mencerminkan kualitas kredit tertinggi dengan volatilitas moderat, serta mencatatkan kinerja akumulatif 12,65% selama tiga tahun hingga akhir September 2026.
Hasil penilaian tersebut mendorong Batavia untuk terus memperkuat kualitas pengelolaan investasi, tata kelola, transparansi, dan layanan nasabah guna menjaga kepercayaan investor.
Dana Kelolaan Batavia Tumbuh 14,3%
Selanjutnya, Lilis menjelaskan, hingga akhir September 2026, total dana kelolaan atau asset under management (AUM) Batavia mencapai Rp56,4 triliun, tumbuh 14,3% dibandingkan akhir 2025.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh AUM reksa dana yang meningkat 23,9%, dari Rp38,3 triliun menjadi Rp47,4 triliun.
Pencapaian ini berlawanan dengan kondisi industri reksa dana yang mengalami kontraksi 5,6%, dari Rp679,2 triliun menjadi Rp641,1 triliun pada periode yang sama.
Dalam pengembangan produk dan layanan, Batavia menerbitkan delapan reksa dana baru, terdiri atas tujuh reksa dana onshore dan satu reksa dana sharia offshore, serta satu kontrak baru Pengelolaan Dana Nasabah Individual.
Batavia juga menerbitkan ETF Emas sebagai bagian dari inovasi dan diversifikasi produk.
Dengan fondasi tersebut, Batavia menargetkan pertumbuhan berkelanjutan pada 2027 melalui penguatan kinerja produk, perluasan basis investor, dan pengembangan distribusi.
OJK Beri Izin Pendirian DPLK Batavia
Batavia juga memperluas bisnis melalui pendirian Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).
Sesuai POJK Nomor 35 Tahun 2024, Batavia termasuk manajer investasi yang memenuhi syarat untuk mendirikan DPLK.
Perusahaan telah memperoleh izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mendirikan DPLK Batavia pada 15 September 2026.
Pendirian lembaga tersebut bertujuan mengoptimalkan kapasitas, kemampuan, dan pengalaman Batavia selama tiga dekade dalam pengelolaan investasi.
Selain itu, DPLK Batavia diharapkan mendukung peningkatan literasi dan inklusi serta pertumbuhan dana kelolaan industri dana pensiun.
Saat ini, DPLK Batavia telah beroperasi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.





