ANALIS MARKET (13/6/2024) : Pergerakan IHSG Diperkirakan Masih Tertekan

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Riset harian NH Korindo Sekuritas menyebutkan, S&P 500 ditutup naik pada titik rekor 5.420 pada perdagangan hari Rabu (12/06/24) didukung oleh prospek The Fed untuk menurunkan suku bunga berdasarkan data Inflasi AS yang baru muncul menunjukkan harga barang & jasa turun lebih rendah dari perkiraan pada bulan May, sehingga memicu optimisme bahwa tren disinflasi tetap intact.

NASDAQ Composite menguat 1,5% ke rekor penutupan ketiga berturut-turut, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 35 poin, atau melemah tipis 0,1%.

Adapun US CPI terbaru menunjukkan pertumbuhan 3.3% yoy, melandai 0.1% dari April.

Secara bulanan, pembacaan Inflasi melambat secara IHK tersebut flat 0.0%, dibanding 0.3% pada bulan sebelumnya.

Federal Reserve mempertahankan suku bunga tetap stabil untuk ke-delapan kalinya berturut-turut pada keputusan FOMC Meeting hari Kamis dinihari WIB, namun kini hanya melihat 1 kali chance penurunan suku bunga di tahun ini (dibanding perkiraan sebelumnya di bulan Maret sebanyak 3 kali penurunan), karena inflasi diperkirakan akan cenderung lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Para pejabat The Fed sekarang melihat suku bunga acuan akan turun menjadi 5,1% tahun ini, dan 4,1% pada 2025, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,9%; sebelum akhirnya turun menjadi 3,1% pada tahun 2026.

Narasi ini bisa terkesan lebih hawkish lagi secara outlook satu kali rate cut di tahun ini sebenarnya tidak mendapat dukungan dari 4 anggota komite bank sentral yang lebih mendukung tidak adanya pemotongan suku bunga tahun ini.

Tanda-tanda menunjukkan para pejabat bank sentral AS juga berpandangan bahwa kebijakan moneter akan bersifat lebih ketat dalam jangka panjang, secara mereka menaikkan perkiraan CORE CPI, yang merupakan ukuran inflasi yang lebih disukai The Fed, diperkirakan sebesar 2,8% pada tahun 2024, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,6%.

Untuk tahun 2025, inflasi inti diperkirakan sebesar 2,3%, naik dari sebelumnya 2,2%.

Prospek inflasi yang lebih kaku tidak disertai dengan ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat karena anggota bank sentral tidak mengubah perkiraan produk domestik bruto, atau PDB, sebesar 2,1% untuk tahun ini dan 2% untuk tahun depan.

Sementara itu, di pasar tenaga kerja, tingkat pengangguran terlihat sebesar 4% tahun ini, tidak berubah dari perkiraan sebelumnya di bulan Maret, namun kini diperkirakan akan meningkat menjadi 4,2% tahun depan, naik 0,1% dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,1%.

Dalam konferensi persnya, Fed Chairman Jerome Powell mengakui data inflasi telah mendingin dari perkiraan, namun mengatakan komite akan terus memantau data ekonomi untuk menentukan kebijakan moneter ke depannya.

Oleh karena itu, beliau pun tidak mengkonfirmasi apapun terkait potensi penurunan suku bunga di bulan September ataupun berkomitmen terhadap peluang pivot di masa depan.

Pelaku pasar menyikapi pernyataan Powell atas Ringkasan Proyeksi Ekonomi atau yang dikenal dengan “dot plots” ini sebagai langkah konservatif dan masih mengindikasikan bahwa peluang lebih dari 1 rate cut tahun ini masih terbuka.

INDIKATOR EKONOMI penting dari AS malam ini berlanjut seperti biasa : data mingguan Initial Jobless Claims dan US PPI (May) yang akan tunjukkan Inflasi di tingkat produsen apakah akan memanas ke level 2.5% yoy seperti yang diperkirakan.

MARKET ASIA & EROPA: Bicara mengenai CPI, CHINA kemarin luncurkan data Inflasi (May) yang ternyata masih menunjukkan gejala deflasi secara pertumbuhan harga barang & jasa di bulan May masih sama dengan bulan sebelumnya sebesar 0.3% yoy. Secara bulanan, trend deflasi lebih nyata terlihat dengan terdata -0.1% mom dibanding 0.1% pada bulan April. Demikian pula PPI (May) yang masih terbenam di angka deflasi -1.4% yoy walaupun sedikit lebih baik dari proyeksi -1.5% dan bulan sebelumnya -2.5%. Di benua EROPA, INGGRIS laporkan GDP bulan April di mana pertumbuhan ekonomi tampak stagnan secara bulanan. Tentunya ini akibat Industrial & Manufacturing Production (Apr) yang melemah agak jauh di bawah ekspektasi. JERMAN juga merilis angka CPI mereka di bulan May yang in-line dengan forecast pada 2.4% yoy, berarti memanas 0.2% dari bulan sebelumnya. Di tempat lain, Wakil Presiden EUROPEAN CENTRAL BANK Luis de Guindos mengatakan ECB harus bergerak “sangat lambat” dalam menurunkan suku bunga, karena tingginya ketidakpastian pada prospek inflasi.

KOMODITAS: Harga MINYAK berakhir lebih tinggi pada hari Rabu, karena laporan Inflasi AS yang mendingin mendukung harapan penurunan suku bunga, namun kenaikan tersebut tertahan oleh lonjakan tak terduga dalam pasokan minyak mentah domestik mingguan dan proyeksi Federal Reserve yang hawkish dalam memprediksikan peluang pengurangan suku bunga tahun ini. Futures BRENT naik 0,8% menjadi USD 82,60 / barrel, sementara futures US WTI terapresiasi 0,7% menjadi USD 78,50 / barrel. Data inventaris pemerintah menunjukkan persediaan minyak mentah naik 3,7 juta barrel dalam pekan yang berakhir 7 Juni (menjadi total 459.7 juta barrel), di luar ekspektasi penurunan 1,2 juta barrel. Selain pasokan minyak mentah, stok bensin dan minyak sulingan juga masing-masing naik 2,6 juta dan 881.000 barrel, meragukan harapan bahwa konsumsi bahan bakar di AS akan bisa meningkat seiring dengan dimulainya musim panas yang ramai dengan perjalanan road trip. Di sisi lain, harga tetap naik meskipun Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanannya memangkas perkiraan demand minyak mentah global pada tahun 2024 sebesar 100.000 barrel per hari menjadi 960.000 barrel per hari, dengan alasan lesunya konsumsi di negara-negara maju. Badan yang berbasis di Paris ini juga memperkirakan demand minyak global akan mencapai puncaknya pada tahun 2029 dan mulai mengalami kontraksi pada tahun berikutnya. Hal ini kontras dengan perkiraan yang lebih optimis dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada hari Selasa, yang mempertahankan prospek permintaan minyak global yang kuat pada tahun 2024. Organisasi tersebut mengatakan dalam laporan bulanannya bahwa keputusan mereka baru-baru ini untuk mempertahankan pembatasan produksi memberikan kemungkinan terjadinya defisit supply pada kuartal ketiga. Adapun keputusan OPEC+ tersebut telah menyebabkan harga minyak terkonsolidasi 2% sejak pekan lalu. Kabar terkait KONFLIK TIMUR TENGAH: Kelompok militan Palestina Hamas telah mengusulkan banyak perubahan (beberapa di antaranya tidak dapat dilaksanakan) terhadap proposal gencatan senjata dengan Israel di Gaza yang didukung AS, demikian menurut Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada hari Rabu dalam konferensi pers bersama dengan PM Qatar di Doha; seraya menambahkan bahwa para mediator bertekad untuk mendapatkan kompromi bagi kedua belah pihak.

IHSG turun 5,59 poin (-0,08%) ke level 6.850,10, masih ditimpali oleh aksi jual bersih asing senilai IDR 747 miliar (all market), menjadikan posisi FOREIGN NET SELL mereka sejak awal tahun bertambah di angka IDR 10.79 triliun. Nilai tukar RUPIAH masih tak berkutik ditutup pada IDR 16240 / USD, setelah sempat menyentuh titik High IDR 16315 / USD kemarin. Kurangnya daya jual Indonesia membuat Morgan Stanley menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi “underweight,” dengan alasan risiko ketidakpastian kebijakan fiskal negara dan penguatan Dollar, yang diperburuk oleh trend naik suku bunga AS. Nilai Penjualan Sepeda Motor di Indonesia jeblok 4.5% pada bulan May, sangat berkebalikan dengan pertumbuhan positif 18.3% di bulan sebelumnya.

Menyikapi beragam kondisi tersebut diatas, analis NH Korindo Sekuritas menilai, walau IHSG terkesan menjaga area Support 6850, namun dengan sentimen regional market yang masih agak terbatas, sementara ini masih terlihat sulit bagi IHSG untuk mampu naik lebih tinggi dari level psikologis 7000 yang akan jadi Resistance terdekat.

Oleh karena itu, sikap WAIT & SEE kembali lebih tepat diterapkan sambil menunggu sentimen market yang lebih kondusif.

“Pergerakan IHSG masih tertekan,” sebut analis NH Korindo Sekuritas dalam riset Kamis (13/6).