ANALIS MARKET (02/4/2024) : Indeks Berpotensi Terjadinya Technical Rebound

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian NH Korindo Sekuritas menyebutkan, S&P 500 memulai kuartal kedua dengan lemah pada hari Senin “April Mop” (01/04/24) karena lonjakan yield US Treasury menahan gelombang bullish setelah ekspansi tak terduga pada aktivitas pabrik semakin menegaskan kuatnya perekonomian AS dan beresiko memupuskan ekspektasi investor atas penurunan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.

Alhasil DJIA memimpin pelemahan dengan tergerus 240 points atau 0.6%. Yield US Treasury tenor 2 tahun, yang mana sensitif dengan kebijakan moneter The Fed, naik 9 bps ke level 4.712% sementara yield obligasi negara tenor 10 tahun naik 12.3 bps ke level 4.317% (setelah menyentuh titik tertinggi 2 minggu pada 4.337%); setelah laporan ISM Manufacturing PMI secara mengejutkan mampu bertengger di zona ekspansif untuk pertama kalinya sejak September 2022, dengan pembacaan 50.3 untuk bulan Maret dari 47.8 di bulan Februari; menunjukkan trend perbaikan pada sektor manufaktur yang sempat terpukul efek naiknya suku bunga.

Sedangkan harga yang dibayar untuk komponen terkait index tersebut, salah satu acuan Inflasi, lompat ke level 55.8 dari 52.5 di posisi sebelumnya, menyiratkan bahwa harga bahan baku mentah naik ke laju tercepat mereka sejak Juli 2022 (seperti dikutip oleh para ekonom Oxford).

Data-data di atas mengamini pesan Chairman Federal Reserve, Jerome Powell pada hari Jumat lalu bahwa bank sentral tak perlu buru-buru memotong suku bunga di tengah kondisi ekonomi yang sedang kuat-kuatnya.

Bahkan Fed Governor Christopher Waller & Atlanta President Raphael Bostic berkomentar bahwa mereka pikir lebih baik tidak perlu sampai ada 3x pemotongan suku bunga tahun ini.

Tak ayal peluang pemotongan suku bunga terjadi di bulan Juni langsung kempis ke 56%, dari 64% pada pekan lalu, menurut Fed Rate Monitor Tool milik Investing.com.

Para investor akan mendapatkan lebih banyak kejelasan mengenai hal ini pada pekan depan, di mana diperkirakan 13 dari 19 pejabat The Fed akan berkomentar lebih lanjut.

Di indeks lain, NASDAQ masih mampu menguat 0.1% didukung oleh Alphabet naik 3% dan Microsoft yang terapresiasi hampir 1% terkait rencana perusahaan teknologi raksasa tersebut untuk memisahkan Teams (aplikasi chat & video mereka) sebagai suatu produk terpisah dari Microsoft Office. Sektor Energi juga satu dari yang masih mampu bukukan penguatan terdorong oleh naiknya harga minyak mentah.

KOMODITAS: Harga MINYAK bertahan di dekat level tertingginya dalam 5 bulan karena pasar mengantisipasi supply yang lebih ketat akibat pemotongan produksi OPEC+ dan juga efek serangan terhadap kilang-kilang Rusia, ditambah lagi dengan data manufaktur China mendukung prospek permintaan yang lebih kuat. BRENT naik 42 sen menjadi USD87,42/barel, sementara minyak mentah US WTI naik 54 sen menjadi USD83,71/barel. EMAS terangkat ke rekor tertinggi baru oleh laporan PCE price index pada hari Jumat lalu yang mendorong ekspektasi akan kebijakan moneter AS yang lebih longgar. Namun penguatan Emas terhambat oleh naiknya US Dollar & imbal hasil obligasi. Secara teori, harga Emas memang cenderung berbanding terbalik dengan suku bunga karena seiring dengan kenaikan suku bunga, Emas menjadi relatif kurang menarik. Harga Emas di pasar spot mencapai titik tertinggi sepanjang masa di USD2,265.49/ounce di awal sesi, sebelumnya akhirnya ditutup 0,9% lebih tinggi pada USD2,236.50/ounce.

MARKET ASIA: Sementara market Eropa masih dalam suasana libur Senin kemarin, saham CHINA memimpin reli di sebagian besar pasar Asia berlatar belakang outlook ekonomi global yang optimis, sementara Dollar Index menguat 0.47% setelah data menunjukkan sektor manufaktur AS tumbuh ekspansif. Di sisi lain, saham JEPANG malah jatuh ke zona merah dengan Yen berada dekat level yang membuat para pedagang tetap waspada terhadap intervensi mata uang. Yen berkeliaran di bawah 152/Dollar. Nikkei Jepang ditutup drop 1,4%, terbebani oleh kekhawatiran mengenai intervensi pembelian Yen yang akan merugikan prospek keuntungan eksportir dan keuntungan bagi investor asing.

IHSG anjlok 83.75 points/1.15% ke level 7205.06 setelah para pelaku pasar menyikapi hasil Inflasi Maret yang memanas ke tingkat tertinggi 7 bulan. CPI Indonesia bulan Maret merangkak naik ke level 3.05% yoy dari 2.75% bulan Februari, melebihi ekspektasi 2.91% dan juga sudah mulai merambah ke batas atas bank sentral pada 3.5% untuk tahun 2024. Ini merupakan tingkat Inflasi tertinggi sejak Agustus lalu, di mana harga makanan naik terbesar dalam 18 bulan di tengah bulan puasa Ramadan dan menjelang perayaan Idul Fitri. Secara bulanan, CPI naik 0.52%, juga daQlam laju lebih cepat dari 0.37% di bulan Februari, merupakan kenaikan terbesar bulanan sejak Desember 2022 dan mengalahkan estimasi 0.39%. Secara teknikal, sejauh ini IHSG masih aman di atas Support sekitar 7150 walau sempat tersentuh kemarin pada Low 7140. Walau RSI hampir dekati wilayah Oversold, belum bisa dipastikan pullback ini akan cepat berakhir di tengah harapan limited downside potential.

Menyikapi beragam kondisi tersebut diatas, analis NH Korindo Sekuritas lebih prefer untuk menyarankan para pelaku pasar WAIT & SEE sambil menunggu market stabilizing, di tengah melemahnya nilai tukar Rupiah hampir dekati level psikologis IDR16000/USD yang bukan tak mungkin masih punya potensi konsolidasi lebih lanjut berhubung libur panjang Idul Fitri di depan mata.

“Indeks berpotensi menembus support 7270, menolak support 7200-7220, potensi terjadinya technical rebound,” sebut analis NH Korindo Sekuritas dalam riset Selasa (02/4).