Meski Pendapatan Meningkat, Rugi GoTo Ditaksir Tetap Puluhan Triliun

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Pelaku pasar yang ingin berinvestasi pada penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO) PT GOTO Gojek Tokopedia Tbk atau GoTo perlu benar benar mencermati prospek perusahaan itu di masa mendatang.

Paling tidak, ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan oleh calon investor sebelum menentukan pilihannya pada efek bersifat ekuitas perusahaan unicorn ini.

Hal penting yang perlu dicermati itu tercantum dalam prospektus halaman 114 yang menyatakan bahwa, perseroan telah mencatatkan rugi dan mungkin tidak akan mencapai profitabilitas atau laba.

Menurut Mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud, bahwa calon emiten dengan jujur mengatakan belum akan memperoleh keuntungan dalam tiga tahun ke depan.

Bahkan di tahun ini, diperkirakan akan mengakumulasi kerugian sebesar Rp 31.5 triliun.

Padahal, perseroan dengan segala upaya telah berupaya meningkatkan GMV (Gross Marchandise Value) hingga 2 kali lipat pada tahun 2024.

“Dengan estimasi kenaikan GMV dua kali lipat, toh masih akan menderita rugi Rp 24 triliun,” kata Hasan seperti dilansir di media sosial miliknya, Senin (21/3/2022).

Ia melanjutkan, kejujuran perseroan tentang kemungkinan tidak akan membukukan laba, merupakan buah dari perlombaan e-commerce dalam ekspansi basis pengguna / pelanggan.

“Cara yang paling ampuh adalah "bakar duit". Upaya memperoleh keuntungan, mengharuskan emiten meningkatkan GMV. Bakar duit menciutkan GMV. Menaikkan GMV membuat ekspansi slow down. Target GMV tidak tercapai,” beber Hasan.

Sementara itu, dalam laporan riset salah satu penjamin emisi efek IPO GOTO menaksir pendapatan tahun 2021 mencapai Rp17,22 triliun, tapi rugi bersih Rp22,8 triliun.

Sedangkan tahun 2022, pendapatan ditaksir mencapai Rp26, 48 triliun, tapi rugi bersih ditaksir membengkak menjadi Rp31,5 triliun.

Tahun 2023, pendapatan ditaksir naik menjadi Rp38,63 triliun dan rugi bersih Rp29,6 triliun.

Tahun 2024, pendapatan ditaksir naik menjadi Rp53,36 triliun dan rugi bersih Rp24,771 triliun.