ANALIS MARKET (24/9/2021) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Menguat

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Kamis, 23/09/2021 IHSG ditutup menguat 34 poin atau 0,56% menjadi 6.142. Sektor energi, teknologi, keuangan bergerak positif dan mendominasi menguatnya IHSG kali ini. Investor asing membukukan pembelian bersih sebesar Rp871 miliar.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat dan ditradingkan pada level 6.116 – 6.180,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (24/9/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.ARISAN TERAKHIR

Semua sudah pada arisan mulai dari Bank Indonesia, Bank Sentral Jepang, Bank Sentral Amerika, tidak ketinggalan, England yang kedatangan Christiano Ronaldo pun ingin meramaikan arisan Bank Sentral. Nah kali ini Bank Sentral Inggris mengatakan bahwa mereka mulai menaikkan prospek kenaikkan tingkat suku bunga setelah bulan November untuk dapat menahan inflasi yang mulai bergerak mengalami kenaikkan lebih dari 4%, mengikuti kenaikkan harga energi. Meskipun ketidakpastian di pasar masih cukup besar, namun pengetatan kebijakan moneter secara moderat tetap diperhatikan karena ada beberapa indicator yang terlihat mulai pulih. Bank Sentral Inggris setuju untuk mulai melakukan pengetatan tingkat suku bunga di masa yang akan datang, bahkan ada kemungkinan lho, Bank Sentral Inggris akan menaikkan tingkat suku bunga pada akhir tahun, setelah Bank Sentral Inggris mengakhiri program pembelian obligasi di pasar. Jangankan Taper Tantrum, Bank Sentral Inggris justru melihat bahwa pemulihan kian pasti dan solid, sehingga memungkinkan tingkat suku bunga Inggris di naikkan. Tapi ingat, baru kemungkinan lho ya akan terjadi di akhir tahun. 2 dari 9 anggota MPC mengatakan bahwa mereka setuju untuk mengakhiri program pembelian obligasi lebih awal. Hal ini di sampaikan karena Bank Sentral Inggris melihat bahwa inflasi terlihat dapat konsisten untuk dapat bertahan di atas 4% hingga tahun 2022 mendatang. Hal inilah yang memberikan sebuah kesempatan dan celah bagi Bank Sentral Inggris untuk dapat melakukan kenaikkan tingkat suku bunga pada akhir tahun. Pertemuan berikutnya akan terjadi pada tanggal 4 November 2021. Saat hasil pengumuman Bank Sentral Inggris tersebut di umumkan, pound telah menguat dan obligasi pemerintah telah mengalami penurunan, karena investor melihat Bank Sentral Inggris terlihat hawkish dari Bank Sentral dunia lainnya. Karena ternyata Bank Sentral Norwegia juga mulai menaikkan tingkat suku bunganya kemarin. Bank Sentral Inggris sedang berpacu dengan waktu pemirsa, karena angka inflasi yang berjalan lebih cepat dari pada yang di proyeksikan sebelumnya yang hanya mencapai 3.2%. Fokus berikutnya dari Bank Sentral adalah data pekerjaan yang lebih kuat lebih dari proyeksi. Bank Sentral Inggris sendiri tadinya hanya menargetkan inflasi sebesar 2%, Bank Sentral Inggris mengatakan bahwa inflasi masih terus mengalami kenaikkan hingga akhir tahun. Naiknya biaya gas, telah menyebabkan gejolak di pasar energi di Inggris, sehingga dapat mendorong inflasi terus menerus mengalami kenaikkan. Sehingga ada potensi bahwa harga konsumen akan mengalami kenaikkan hingga 2x lipat dari Q2 2021 silam. Bank Sentral Inggris sendiri tetap mempertahankanpembelian assetnya untuk tidak berubah yang berada di kisaran 895 miliar pound atau $1.2 triliun pada akhir tahun ini, namun Gubernur Ramsden yang bergabung dengan Michael Saunders mengatakan bahwa mereka menginginkan program pembelian obligasi dapat di akhiri sesegera mungkin. Data yang rilis pada hari Kamis kemarin masih memperlihatkan masih ada sekitar 5.8% tenaga kerja yang masih cuti pada awal bulan September, meskipun program dukungan untuk tenaga kerja akan berakhir juga pada 30 September mendatang. Well, Bank Sentral Inggris terus melanjutkan hidup, begitupun dengan Bank Sentral yang lainnya. Semoga Bank Indonesia pun dapat sesegera mungkin melakukan hal yang sama, agar kebijakan menjadi satu langkah di depan untuk dapat mengantisipasi kenaikkan tingkat suku bunga dari Bank Sentral lainnya. Volatilitas mungkin akan bertambah, seiring dengan tekanan, namun bukan berarti kita menyerah dengan keadaan.

2.SEBUAH CERITA DARI ADB

Asian Development Bank memangkas proyeksi pertumbuhan di Asia pada tahun ini menjadi 7,1% dari sebelumnya 7,3%. Hal ini dipicu tidak meratanya pemulihan ekonomi di sebagian negara Asia sebagai dampak masih adanya pandemi dan aturan restriksi. ADB juga melihat pertumbuhan moderat sebesar 5,4 persen di Asia pada 2022. Asia dinilai masih tetap rentan terhadap penyebaran jumlah kasus baru Covid-19. Varian baru dinilai masih akan menyebarkan wabah dan mendorong pemangku kepentingan membuat pemberlakuan restriksi lagi pada mobilitas di beberapa negara. Pemulihan ekonomi di Asia yang tidak merata diindikasikan oleh ekspor Asia timur yang tertolong dengan adanya peningkatan permintaan. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan di China sebagai ekonomi terbesar di Asia tetap 8,1% pada 2021 dan menjadi 5,5% pada 2022. Namun, proyeksi pertumbuhan di Hong Kong, Korea Selatan, dan Taiwan meningkat. Proyeksi pertumbuhan di Asia Tenggara turun menjadi 3,1% dari 4,4%, penurunan tersebut didorong oleh melambatnya pertumbuhan di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Dampak penyebaran jumlah kasus baru di Kawasan Asia Tenggara dinilai memberikan tekanan yang cukup besar pada awal tahun ini. Hal ini diikuti dengan penutupan beberapa pabrik di kawasan tersebut sehingga memberikan hambatan pada rantai pasok dunia. Namun, setelah beberapa negara berhasil menurunkan kasus Covid-19, perekonomian mulai terlihat bergerak kembali. Kami melihat langkah-langkah kebijakan seharusnya tidak hanya fokus pada pembatasan dan vaksinasi, tetapi juga pada dukungan berkelanjutan untuk perusahaan dan rumah tangga dan reorientasi sector. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi India juga dipangkas turun dari 11% menjadi 10% pada tahun ini. Dalam researchnya ADB menilai progres vaksinasi yang tidak merata membuat jalur pertumbuhan terpecah. ADB menemukan bahwa negara-negara yang dapat menyelenggarakan vaksinasi lebih cepat dan menekan penyebaran virus dapat menghindari aturan pembatasan aktivitas yang ketat sehingga dapat memanfaatkan permintaan global. Dalam rilis research report tersebut, ADB juga melihat inflasi akan tetap terjaga hingga akhir tahun, tetapi akan meningkat di beberapa negara. Inflasi regional diperkirakan sebesar 2,2% tahun ini sebelum meningkat menjadi 2,7% pada 2022. Kebangkitan wabah tetap menjadi risiko utama. Namun, pembuat kebijakan juga harus memperhatikan risiko lain, termasuk perubahan iklim, geopolitik, dan kondisi keuangan yang semakin ketat.