ANALIS MARKET (21/9/2021) : Pasar Obligasi Berpotensi Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi mulai merasakan tekanan akibat situasi dan kondisi yang tengah terjadi saat ini.

Serangan bertubi-tubi mulai dari mampetnya diskusi terkait dengan kenaikkan plafon utang Amerika, potensi gagal bayar Evergrande Group, ini membuat pelaku pasar dan investor cemas terkait dengan situasi dan kondisi tersebut.

Plafon utang Amerika sendiri menjadi salah satu perhatian paling penting, karena apabila situasi dan kondisi gagal untuk menaikkan plafon, maka imbal hasil US Treasury pasti akan mengalami kenaikkan karena aksi jual akan terjadi di pasar.

Hal inilah yang berpotensi membuat imbal hasil obligasi SUN mengalami kenaikkan. Kecemasan atas potensi gagal bayar obligasi Evergrande, diperkirakan hanya akan memberikan dampak psikis, namun efeknya investor akan mencermati dan befikir 2x hingga 4x sebelum pada akhirnya memutuskan untuk berinvestasi di obligasi sector property.

Kekhawatiran inilah yang akan menghiasi lelang yang akan terjadi pada hari ini, dimana tentu saja pelaku pasar dan investor akan meminta imbal hasil yang lebih besar sebagai bagian dari kompensasi risiko yang mengalami kenaikkan.

Total penawaran yang diperkirakan akan masuk sebesar Rp 35T – Rp 50 T, lebih dari itu masih memberikan animo antusias di pasar.

“Menyikapi beragam kondisi tersebut diatas, pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka meelemah dengan potensi melemah terbatas.  Kami merekomendasikan ikuti lelang,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Selasa (21/9/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.PASRAH + GERAH = GELISAH

Ini situasi dan kondisi yang ngeri ngeri sedap pemirsa sebetulnya. Pasrah karena gerah atau gerah menjadi pasrah? Nah ditengah situasi dan kondisi dimana batas utang Pemerintah Amerika semakin mendekati tenggat waktunya, kongres akan bertanya kepada Kementrian Keuangan untuk 1 hal yang tidak dapat diberikan sebelumnya, yaitu deadline. Anggota parlement DPR minggu ini mendapatkan jadwal untuk memberikan suara terhadap peningkatan plafon utang, yang dimana posisi voting tersebut berada di 50 – 50, dimana ada asumsi Partai Republik akan menentang kenaikkan plafon tersebut. Ditengah situasi dan kondisi saat ini, muncul potensi fraud yang besar kemungkinan akan terjadi apabila plafon tersebut tidak dinaikkan. Oleh sebab itu, kami melihat Partai Demokrat dan Republik akan bekerja sama untuk melakukan sesuatu agar tidak terjadi default. Partai Demokrat bisa saja menaikkan plafon utang dengan metode yang biasa digunakan, yang dimana tidak membutuhkan 10 suara dari Partai Republik di Senat. Bagi Nancy Pelosi hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit, karena sejak 2011, setiap kali batas utang dinaikkan, Kongres selalu mengatasinya dengan cara bipartisan, termasuk 3x selama pemerintahan terakhir. Sejauh ini sudah ada 46 Senator dari Partai Republik yang berjanji untuk tidak memilih menaikkan batas utang, dimana mereka menentang kenaikkan pajak serta stimulus sosial senilai $3.5 triliun yang dimana sedang diusahakan oleh Partai Demokrat. Sejauh ini nasib stimulus yang diinginkan oleh Biden akan tergantung sejauh mana Nancy Pelosi mampu untuk menjaga kesolidan dari Partai Demokrat yang dimana dirinya sudah berjanji untuk memberikan stimulus lanjutan. Sejauh ini Pelosi dan team masih berpegang teguh terhadap komitmennya untuk mendorong kaum sentris untuk mengadakan pemungutan suara pada 27 September mendatang, dimana ada stimulus senilai $550 untuk proyek infrastructure yang baru. Namun bagi Biden, stimulus tersebut harus dikeluarkan bersamaan dengan stimulus lainnya senilai $3.5 triliun, yang tentu saja ini merupakan sebuah strategi satu kesatuan untuk mengeluarkan stimulus. Pelosi sendiri sedang merencanakan untuk melakukan pemungutan suara di DPR sebelum tanggal 1 October mendatang mengenai pajak dan stimulus, dan tentu saja akan meloloskan undang undang guna menghindari penutupan pemerintah yang dimana penutupan tersebut akan memberikan dampak terhadap masyarakat dan pemulihan ekonomi yang sedang berjalan saat ini. Masalahnya adalah saat ini Nancy Pelosi dan para pemimpin Demokrat lainnya khawatir kalau mereka tidak punya cukup suara hingga parlement Senat selesai untuk menentukan apa saja syarat untuk meloloskan stimulus tersebut. Masalahnya adalah apabila Kongres gagal dalam mendorong kenaikkan utang, tentu saja dampaknya akan terasa di pasar. Pemerintah Amerika akan gagal bayar untuk pertama kalinya, oleh sebab itu penting rasanya melihat bahwa ada keyakinan bahwa pagu utang akan dinaikkan pada bulan October mendatang. JaneT Yellen mengatakan bahwa sejauh ini Amerika tidak pernah gagal bayar bayar, dan hal tersebut tidak akan terjadi! Karena apabila hal tersebut terjadi, hal tersebut akan memicu krisis keuangan bersejarah yang akan mendorong dampak lebih besar terjadi di Amerika. Gagal bayar sendiri akan mengakibatkan lonjakan suku bunga, penurunan harga saham, dan gejolak di sector keuangan lainnya. Pemulihan berpotensi menjadi resesi, dengan pertumbuhan dan pekerjaan akan hilang. Dan bahkan jika batas utang tidak di naikkan, maka ada kemungkinan terjadinya penurunan peringkat pada obligasi Amerika. Sebetulnya ya pemirsa, apabila utang di naikkan pun, ini menjadi sebuah kecemasan tersendiri karena beban utang terus bertambah, apalagi dengan adanya stimulus senilai $1 triliun untuk infrastructure dan belum lagi tambahan sekitar $3.5 triliun lagi, sehingga tidak heran apabila ada kekhawatiran itu terjadi. Tidak hanya pagu utang Amerika yang menjadi masalah pemirsa, namun kekhawatiran terkait dengan pasar property di China juga sedang menjadi perhatian khusus bagi pelaku pasar dan investor yang dimana China Evergrande Group sedang berada di ujung default. Pertanyaannya sederhana, seberapa jauh Presiden Xi Jinping akan terus keras terhadap sector di China hanya untuk mewujudkan tujuannya yaitu kemakmuran bersama? Perhatian pelaku pasar dan investor akan terfokus kepada bagaimana Xi akan mencoba untuk mengatasi masalah Evergrande. Turbulensi mungkin akan semakin kencang, dan tentu saja akan menambah tekanan terhadap para pemimpin China. Evergrande sendiri memiliki utang sebesar $300 miliar, yang dimana utang tersebut yang terbesar di seluruh dunia dari Perusahaan yang bergerak di sector property, dan berpotensi untuk memberikan dampak terhadap perekonomian China khususnya kenaikkan secara volatilitas pasar. Pembayaran obligasi berikutnya dari Evergrande akan terjadi pada hari Kamis pekan ini. Sejauh ini pasar property di China secara residensial memberikan kontribusi sebesar 20% terhadap GDP, sementara aktivitas real estate secara umum berkontribusi sebesar 30% terhadap GDP. Saat ini ada sebesar 1.4 juta pemilik property yang menunggu untuk mendapatkan property dari Evergrande, dan hal ini berpotensi fraud secara cepat apabila tidak ditangani secara professional dan hati hati. Evergrande sendiri memiliki 200 anak Perusahaan off shore, dan 2.000 di on shore, dengan total asset sekitar 2 triliun yuan atau setara dengan 2% dari GDP China. Well cerita akan terus berlanjut, yuk kita cermati dan awasi sentiment pasar sebagai penutup bulan September ini.