Kemenkeu Sebut Tanpa Anggaran PEN Kemiskinan Indonesia Capai 11,8 Persen

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengatakan, pandemi Covid-19 membuat pendapatan per kapita Indonesia turun dari USD4.050 di 2019 menjadi USD3.870 di 2020.

Penurunan pendapatan per kapita ini membuat Indonesia kembali masuk pada kategori negara berpendapatan menengah bawah (Lower Middle-Income Country).

"Pandemi telah menciptakan pertumbuhan ekonomi negatif hampir seluruh negara, termasuk Indonesia pada 2020. Dengan demikian, maka penurunan pendapatan per kapita Indonesia merupakan sebuah konsekuensi yang tidak terhindarkan," katanya di Jakarta, Kamis (8/7/2021).

Namun, di tengah tekanan dari pandemi, jelas Febrio, pemerintah terus konsisten menggulirkan kebijakan yang difokuskan pada upaya penanganan pandemi, penguatan perlindungan sosial, serta dukungan bagi dunia usaha, termasuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

"Melalui kerja keras APBN dan program PEN, berbagai manfaat besar telah dirasakan oleh masyarakat. Program perlindungan sosial PEN telah efektif dalam menjaga konsumsi kelompok masyarakat termiskin di saat pandemi," ujarnya.

Tanpa anggaran PEN, lanjut dia, Bank Dunia mengestimasi angka kemiskinan Indonesia pada 2020 mencapai 11,8 persen. Hal ini artinya program PEN telah mampu menyelamatkan lebih dari lima juta orang dari kemiskinan sepanjang 2020.

Ditambahkan, di tengah penurunan tingkat pendapatan per kapita secara agregat, masyarakat miskin dan rentan tetap mendapatkan perlindungan yang layak. Adapun tingkat kemiskinan mampu dikendalikan menjadi 10,19 persen pada September 2020.

"Bahkan lebih jauh, program PEN juga mampu menjadi motor pemulihan ekonomi sehingga mampu menciptakan 2,61 juta lapangan kerja baru dalam kurun September 2020 hingga Februari 2021," pungkasnya.