ANALIS MARKET (22/7/2021) : Pasar Obligasi Berpotensi Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi begitu luar biasa kemarin (21/7), pada saat lelang terjadi.

Ditengah kecemasan akan pemulihan ekonomi membuat pelaku pasar dan investor ragu masuk pasar saham, obligasi tetap merupakan pilihan yang terbaik untuk saat ini bagi pelaku pasar dan investor yang merasa bahwa pemulihan perekonomian masih belum pasti.

Bukan optimis, namun lebih baik realistis. Lagipula kami yakin, pelaku pasar dan investor juga harus menjaga expected return yang diharapkan dari portfolio-nya, bukan serta merta menunggu dan menanti sesuatu yang tidak pasti.

Nah setelah lelang yang penuh dengan gegap gempita, karena total penawaran yang masuk hampir Rp 100 T, tentu focus berikutnya adalah pertemuan Bank Indonesia. Apalagi nih, PPKM Level 4 sudah dicanangkan dan diperpanjang, sehingga kami menilai dibutuhkan stimulus lanjutan bagi Bank Indonesia dan Pemerintah untuk bekerja sama menopang perekonomian. Memang benar, apabila hingga tanggal 26 July mendatang keadaan membaik, tentu saja harapannya adalah PPKM Level 4 dapat turun kepada level 3 sehingga memberikan kesempatan bagi perekonomian untuk berjalan.

Namun masalahnya adalah, pengetatan pergerakan mobilitas masyarakat hanya terfokus kepada Jakarta saja, bagaimana dengan sekitarnya? Ini yang menjadi perhatian pemirsa. Oleh sebab itu, dukungan dari kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah tentu akan sangat dinantikan, kalau ditanya apakah tingkat suku bunga akan berubah? Kami yakin tidak akan berubah. Rupiah yang cenderung melemah dan potensi kenaikkan tingkat suku bunga The Fed, menjadi sebuah signal bahwa Bank Indonesia belum akan menurunkan tingkat suku bunganya meskipun mereka mau.

“Menyikapi beragam kondisi tersebut diatas, pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka menguat dengan potensi menguat terbatas. Kami merekomendasikan beli,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Kamis (22/7/2021).

Adapun cerita di hari Kamis ini akan kita awali dari;

1.SEBUAH KISAH

Saat ini perhatian pelaku pasar dan investor masih tertuju terhadap pencalonan dari Powell sebagai Ketua The Fed 2 periode. Bagaimana tidak, dukungan terhadap dirinya terus mengalir dan tentu saja diharapkan Biden akan memberikan keputusan untuk memberikan kesempatan kepada Biden untuk bisa menjabat 2 periode dalam waktu dekat. Tidak hanya Powell, beberapa kawan Powell yang posisinya sangat penting pun akan berakhir masa jabatannya, sebut saja seperti; Randal Quarles yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua bidang pengawasan yang akan berakhir pada bulan October mendatang, dan Gubernur Fed Richard Clarida yang berakhir pada bulan January. White House sejauh ini masih belum berdiskusi dengan Biden terkait dengan potensi 2 periode Powell sebagai Ketua The Fed, namun keputusan itu diharapkan dapat keluar pada bulan September mendatang. Sejauh ini seperti yang kami sampaikan, banyak pihak yang memuji kepemimpinan Powell ketika memimpin Bank Sentral. Ketenangannya dan kebijaksanaannya telah membawa The Fed untuk dapat memberikan topangan yang dibutuhkan Amerika tatkala Amerika masih bertahan ditengah pandemic. Sejauh mata memandang, Biden juga tentu saja akan melibatkan beberapa tim ekonomi seniornya untuk membantu dirinya dalam membuat kebijakan moneternya. Yellen sendiri sebagai Menteri Keuangan merupakan sahabat baik dari Powell yang kami melihat tentu saja Yellen akan mendukung Powell. Yellen juga sangat senang dengan kepemimpinan Powell yang dimana Powell dapat memimpin Bank Sentral ketika pandemic dan memberikan dukungan yang dibutuhkan bagi Amerika kala itu. Powell sendiri jabatannya akan berakhir pada bulan February mendatang, dan sepanjang sejarahnya, Presiden akan memutuskan apakah akan mencalonkan kembali Powell atau tidak sebagai Ketua Bank Sentral. Apabila Powell tidak dicalonkan kembali, maka kemungkinan besar nama nama seperti Lael Brainard akan menggantikan Powell, meskipun kami menilai bahwa sejauh ini masih belum ada nama yang dapat menggantikan Powell dengan caranya memimpin Bank Sentral. Well, ini akan menjadi salah satu hal yang mungkin dinantik oleh pelaku pasar dan investor, dimana hal tersebut justru menjadi salah satu hal yang mungkin akan memberikan sentiment positive terhadap pasar karena Powell tahu bagaimana cara mengkomunikasikan Taper Tantrum, kami harap demikian pemirsa, untuk tidak mengulang kesalahan yang sama sedari dulu waktu tahun 2013 ketika The Fed mengkomunikasikan Taper Tantrum dengan cara yang buruk. Ditengah penantian akan Powell, perhatian jelas akan tertuju kepada pertemuan Bank Indonesia dan Bank Sentral Eropa pada hari ini di tanggal yang sama namun waktu yang berbeda. Bank Indonesia kami menyakini masih akan mempertahankan tingkat suku bunganya ditengah situasi dan kondisi dimana Covid 19 kembali mengalami kenaikkan. Lemahnya inflasi akan memberikan kesempatan kepada Bank Sentral Indonesia untuk dapat memikirkan langkah selanjutnya, namun potensi pengurangan tingkat suku bunga mungkin belum akan dilakukan apabila ternyata Rupiah masih mengalami pelemahan dimana akhirnya bertahan di Rp 14.500. Sejauh ini Rupiah telah terdepresiasi lebih dari 2% yang dimana pelemahan Rupiah ini dapat terus terjadi apabila Indonesia tidak segera melakukan pengendalian Covid 19. Pertemuan The Fed yang akan terjadi pada bulan depan mungkin akan semakin mendorong Rupiah untuk mengalami pelemahan, namun kami yakin Bank Indonesia sendiri pasti akan melakukan intervensi untuk menopang pelemahan Rupiah. Tidak hanya Rupiah yang menjadi ganjalan bagi Bank Indonesia untuk menurunkan tingkat suku bunga, keinginan dari The Fed untuk menaikkan tingkat suku bunga pun menjadi penghalang bagi Bank Indonesia menurunkan tingkat suku bunga saat ini. Sejauh ini kami berharap bahwa Bank Indonesia masih dapat menjaga volatilitas di pasar, kemungkinan besar ada harapan bahwa pekan depan PPKM level 4 akan mengalami penurunan menjadi level 3, karena kota Jakarta yang sepi membuatnya menjadi lebih steril. Namun kami sendiri percaya apabila daerah sekitar tidak dijaga, dan hanya terfokus dengan Jakarta, cepat atau lambat Jakarta akan kembali memasuki zona merah kembali. Sejauh ini Bank Indonesia sudah kembali merevisi pertumbuhan ekonomi Inodnesia dimana hanya akan tumbuh sebesar 3.8% tahun ini, turun dari sebelumnya 4.1% hingga 5.1%. Pemerintah pun juga telah merevisi pertumbuhan ekonomi tahun ini yang hanya berkisar di 3.7% - 4.5%. Harapan kedepannya seperti apa? Harapan kedepannya adalah menantikan stimulus lanjutan yang dijanjikan oleh Bank Indonesia terhadap sector UMKM yang terkena dampaknya, karena sejauh ini perekonomian Indonesia ditopang oleh UMKM karena berkontribusi sebesar 60% terhadap GDP Indonesia. Bank Indonesia bersama dengan pemerintah harus melakukan sesuatu yang tidak hanya memberikan komitmen tapi dampak nyata untuk menanggulangi hal ini. Karena kalau tidak segera melakukan sesuatu, dampak dari PPKM Level 4 ini akan kian semakin nyata dan berbahaya bagi perekonomian. Selain itu kami menilai, Bank Indonesia akan lebih hati – hati pada sentimen risk-off atau aksi penghindaran risiko investor cenderung berkembang dikarenakan tren kenaikan kasus Covid-19 di beberapa negara, termasuk Indonesia. Sentimen risk-off yang sedang berkembang di pasar keuangan global tersebut juga mempengaruhi aliran modal asing di pasar keuangan domestic. Kami melihat sentimen risk-off juga berpotensi dipengaruhi dari rencana tapering the Fed yang akan mulai dibahas, saat ini sebagian indikator ekonomi Amerika telah menunjukkan perbaikan. Oleh sebab itu, dalam menghadapi perkembangan risk-off sentiment, peluang suku bunga Bank Indonesia untuk kembali menurunkan suku bunga cenderung sangat terbatas. Berdasarkan survei dari Bank Indonesia, penyaluran kredit baru pada kuartal II/2021 tumbuh positif. Hal ini tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan kredit baru sebesar 53,9%. Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit baru terindikasi terjadi pada seluruh jenis kredit. Jika mengacu pada detail kredit modal kerja dengan SBT sebesar 45,0%, diikuti oleh kredit konsumsi dan kredit investasi dengan SBT masing-masing sebesar 31,3% dan 13,3%. Sementara itu, pada kuartal III/2021 penyaluran kredit baru diperkirakan meningkat, terlihat dari SBT prakiraan penyaluran kredit baru sebesar 87,1%, lebih tinggi dibandingkan 53,9% pada kuartal II/2021. Peningkatan tersebut akan

didorong oleh kredit modal kerja, diikuti oleh kredit konsumsi dan kredit investasi. Penyaluran kredit pada kuartal III/2021 diperkirakan tidak lebih ketat periode sebelumnya. Hal tersebut terindikasi dari Indeks Lending Standard (ILS) sebesar 0,3%, lebih rendah dibandingkan dengan 1,2% pada kuartal sebelumnya. Secara garis besar pada tahun 2021, hasil survei mengindikasikan responden tetap optimis terhadap pertumbuhan kredit. Responden memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2021 sebesar 6,3% YoY. Optimisme tersebut antara lain didorong oleh kondisi moneter dan ekonomi, serta relatif terjaganya risiko penyaluran kredit. Oleh sebab itulah, pandangan Bank Indonesia terhadap situasi dan kondisi saat ini akan menjadi perhatian pelaku pasar dan investor. Yuk kita duduk manis, sruput es teh manis untuk bisa menanti janji manis dari Bank Indonesia.