ANALIS MARKET (21/7/2021) : IHSG Berpeluang Bergerak Melemah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Senin, 19/07/2021, IHSG ditutup melemah 55 poin atau -0.91% menjadi 6.017. Sektor industri dasar, industrials, konsumer non siklikal, kesehatan, keuangan, konsumer siklikal, teknologi, transportasi, dan property bergerak negatif dan mendominasi penurunan IHSG kali ini. Investor asing membukukan pembelian bersih sebesar 260 miliar rupiah.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah dan ditradingkan pada level 5.986 – 6.048,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (21/7/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.APA KABAR DUNIA?

Ditengah situasi dan kondisi saat ini yang terjadi pemirsa, terkait dengan peningkatkan Covid 19 di berbagai negara, tentu sudah seharusnya kita mulai merasakan khawatir. Apakah pemulihan ekonomi akan terhambat? Ataukah justru ini akan pemulihan yang semakin tidak merata di berbagai negara? Hampir separuh populasi masyarakat Australia kembali melakukan lockdown setelah negara bagian Australia selatan bergabung dengan Victoria dan New South Wales ketika varian delta mulai kembali menyebar. Mulai Selasa malam, Australia akan kembali memberlakukan lockdown paling ketat di Australia sejak awal pandemic dulu. Masyarakat diminta untuk tinggal di rumah dan mematuhi jam malam yaitu 6 sore. Lockdown yang dilakukan oleh Australia akan menghambat pemulihan ekonomi yang terjadi di Australia. Perekonomian berpotensi mengalami penurunan sebanyak 0.7% pada kuartal ini jika lockdown terjadi selama 3 minggu mendatang. Yang membuat penyebaran semakin menjadi di Australia adalah penyebaran vaksin yang lambat, mungkin menjadi yang paling lambat dari 38 negara OECD, sehingga hal tersebut membuat Australia menjadi sangat rentan. Sejauh ini vaksin telah diberikan kepada hamper 20% populasinya, berbeda jauh kalau kita bandingkan dengan Amerika yang sudah sebanyak 53% dan Inggris sebanyak 62%. Victoria sendiri kembali memperpanjang fase lockdownnya, yang dimana ini menjadi yang ke 5 sejak pandemic dimulai. Pihak berwenang mengharapkan untuk pembukaan lebih awal, namun karena wabah yang memburuk menjadi sebuah pertimbangan tersendiri karena rantai penularan yang balum terputuskan. Oleh sebab penyebaran Covid 19 membuat ketidakpastian pemulihan ekonomi terhambat, Bank Sentral Australia mengatakan akan terus mempertahankan sebuah pilihan untuk meningkatkan atau mengurangi pembelian obligasi sesuai dengan situasi dan kondisi berkembang. Bank Sentral Australia, 2 minggu lalu mengumumkan akan melakukan pengetatan kebijakan, karena perekonomian kembali mengalami pemulihan. Namun secara perlahan tapi pasti, pemulihan ekonomi di Australia menjadi terhambat sehingga menyebabkan pengetatan mungkin akan dibatalkan. Hal ini yang akan dikhawatirkan tentu saja Indonesia akan mengalami hal yang serupa dengan Australia. Karena ketidakpastian meningkat, tentu saja Bank Sentral Australia sepakat untuk lebih flexible dalam memberikan kebijakan khususnya terkait dengan jumlah pembelian obligasi di pasar. Bank Sentral Australia sendiri mengatakan bahwa efek dari peningkatan Covid 19 membuat perekonomian semakin bertambah tidak pasti, sehingga tentu saja akan mendorong perekonomian mengalami kesulitan untuk pulih. Sydney sejauh ini masih menyumbang 25% dari GDP Australia, sehingga pengetatan yang terjadi tentu saja akan membuat perekonomian akan kembali tertekan. Sejauh ini tingkat pengangguran di Australia kembali turun hingga 4.9% pada bulan June silam, dimana dukungan kebijakan fiscal dan moneter telah membuat perekonomian kembali bangkit. Namun sejauh ini, Bank Sentral Australia sendiri sudah mengatakan tidak akan menaikkan tingkat suku bunga hingga 2024 mendatang. Pemulihan di sector ketenagakerjaan memang memberikan hasil yang baik, namun diperkirakan tidak akan bertahan lama. Singapore sendiri akan melakukan hal yang sama terkait dengan mulainya pengetatan pembatasan mobilitasi khususnya di tempat makan dan pertemuan social. Peningkatan kasus di seluruh Asia Tenggara membuat Singapore berjaga jaga untuk dapat lebih berhati hati dalam membuat kebijakan. Makan di tempat saat ini sudah di batalkan, dan pertemuan berkelompok hanya di batasi hingga 2 orang hingga 18 August 2021. Paket stimulus akan diberikan dan diperkirakan totalnya berkisar S$1.2 miliar atau $878 juta. Namun supermarket dan pasar akan tetap dibuka. Sejauh ini Singapore cukup khawatir dengan kecepatan infeksi dan tingkat pertumbuhan klister baru, sehingga Singapore harus mencari cara untuk memperlambat situasi dan kondisi yang ada saat ini. Fokus utamanya memperlambat penularan, dan kalau apabila hal tersebut berhasil, tentu saja hal ini akan mendorong Singapore untuk melakukan pembukaan kembali. Sejauh ini sudah lebih dari 85% warga Singapore sudah di vaksinasi dan sebagai informasi, Singapore melakukan 80.000 vaksinasi per hari, dan 70% - 75% merupakan vaksinasi ke 2. Singapore hingga saat ini sudah mencapai 48.3% dari populasi yang sudah menerima suntikan ke 2. Singapore juga akan menutup kembali semua tempat hiburan malam, dan memberlakukan kembali pengaturan ketat untuk makan di tempat. Pada hari Selasa kemarin, Singapore mencatat 182 kasus baru, dengan 135 diantaranya berada di pelabuhan. Singapore yakin bahwa situasi dan kondisi saat ini akan cepat berlalu, karena dengan nilai penularan yang minim, sehingga memberikan kesempatan kepada bisnis untuk tetap berjalan. Well, situasi dan kondisi disetiap negara berbeda, dan tampaknya bagi beberapa negara penambahan kasus dengan hitungan 100 sudah dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya sehingga di berlakukan lockdown. Dengan tingkat penetrasi peraturan yang tinggi, sejauh ini beberapa negara mampu untuk menjaga tingkat penyebaran, selain masyarakatnya yang patuh, ini juga menjadi sebuah tanda bahwa untuk mencegah penyebaran virus corona adalah dari diri sendiri. Sejauh ini yang kami cukup khawatirkan adalah penurunan imbal hasil US Treasury yang turun ke level terendahnya dalam beberapa bulan terakhir pada hari Senin kemarin yang saat ini berada di kisaran 1.22%. Beberapa waktu lalu kita sempat membahasnya pemirsa, apabila US Treasury 10y jatuh ke kisaran lebih dari 1.47%, maka kecil kemungkinan US Treasury mengalami kenaikkan kembali. Oleh sebab itu kami melihat penurunan yield US Treasury merupakan bagian dari beberapa kekhawatiran yang muncul dari pelaku pasar dan investor terkait dengan pemulihan ekonomi dunia yang dimana menurunkan ekspektasi pasar ekuitas. Kesenjangan antara yield US Treasury 30y dan 10y juga terus menyempit hingga kurang dari 100 bps, yang dimana hal tersebut terjadi sejak February silam. Sedangkan spread antara US Treasury 30y dan 5y juga menyempit hingga 110 bps. Pelaku pasar dan investor menunjukkan sisi dimana kebijakan fiscal dan moneter yang berbeda di setiap negara dan tidak bisa mendorong terlalu banyak, justru akan membuat pemulihan kemungkinan akan terhambat. Bagaimana dengan Indonesia di tengah perpanjangan PPKM Darurat?

2.SULIT.....

Terbebani wabah corona di dalam negeri dan kondisi rumah sakit tengah kewalahan menampung pasien Covid-19, kondisi ini menjadi perhatian dunia. Dimana media asing memberikan pandangan Indonesia sebagai episentrum covid-19, hal ini di muat surat kabar Amerika Serikat- New York Times. Padangan Indonesia sebagai episentrum covid-19. laporan yang dimuat surat kabar Amerika Serikat yaitu The New York Times berjudul The Pandemic Has a New Epicenter: Indonesia. Ini didasarkan dengan catatan kasus harian terinfeksinya corona dan kasus kematian. Pandangan media asing tentunya akan memberikan sentimen terhadap perekonomian nasional yang berusaha melakukan pemulihan ekonomi nasional. Diberlakukaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dan potensi perpanjangan PPKM tersebut tentunya akan membebani perekonomian nasional karena kegiatan perekonomian juga ikut dibatasi sehingga kemungkinan berimbas terhadap kinerja kegiatan dunia usaha pada triwulan III 2021. Namun demikian Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) angkat bicara soal Indonesia dinilai menjadi episentrum COVID-19 dunia dan menepis penilaian tersebut dengan dalih Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tak pernah mengungkap suatu negara menjadi episentrum COVID-19. Jadi WHO tidak pernah mengatakan sebuah negara episenter penyebaran COVID-19, bahkan varian saja dari nama negara. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo Pemerintah memutuskan untuk melanjutkan pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga tanggal 25 Juli 2021. Kebijakan ini dilakukan untuk menurunkan penularan Covid-19 dan mengurangi kebutuhan masyarakat untuk pengobatan di Rumah Sakit. Di sisi lain pemerintah juga akan melonggarkan PPKM darurat pada tanggal 26 Juli 2021 jika kondisi dilapangan menunjukan tren penurunan kasus covid-19, dimana pemerintah akan melakukan pembukaan secara bertahap.