Rugi USD2,44 Miliar, Akuntan Sebut GIAA Belum Laksanakan Semua Rencana Penyelamatan

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Garuda Indonesia Tbk (IDX: GIAA) mencatatan rugi bersih sebesar USD2,443 miliar pada tahun 2020, atau membengkak 6328 persen dibandingkan tahun 2019 yang mencatatkan rugi bersih sebesar USD38,936 juta.

Data tersebut tersaji dalam laporan keuangan tahun 2020 telah audit emiten penerbangan BUMN itu pada laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (16/7/2021).

Kian terpuruk, opini laporan keuangan tahun 2020 GIAA diganjar tidak menyatakan pendapat atau disclaimer oleh akutan publik Daniel Kohar dari kantor akuntan publik Tanudiredja, Wibisana, Rintis dan Rekan terafliasi PWC.

“Karena signifikansi dari hal yang dijelaskan dalam paragraf “Basis untuk opini tidak menyatakan pendapat”, kami tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyediakan suatu basis bagi opini audit. Oleh karena itu, kami tidak menyatakan suatu opini,” tulis Daniel dalam laporan tersebut.

Auditor itu berlandaskan pada  laporan keuangan mengalami kerugian sebesar USD 2,5 miliar, liabilitas jangka pendek melebihi aset lancarnya sejumlah USD 3,8 miliar. Kemudian GIAA mengalami defisiensi ekuitas sebesar USD 1,9 miliar.

Kondisi GIAA memburuk terutama karena pandemi Covid-19 yang diikuti dengan pembatasan perjalanan sehingga menyebabkan penurunan perjalanan udara.

Daniel melanjutkan, kondisi keuangan tersebut juga menyebabkan GIAA tidak dapat memenuhi persyaratan dalam berbagai perjanjian pinjamannya pada tanggal 31 Desember 2020, dan dapat mengakibatkan permintaan pelunasan segera atas berbagai pinjaman tersebut.

Semua kondisi ini menunjukkan adanya ketidakpastian material yang dapat menimbulkan keraguan signifikan tentang kemampuan GIAA untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.

Walau GIAA telah menyusun rencana untuk mengurangi tekanan likuiditas. Tapi Daniel berpandangan, rencana itu berjalan jika terpenuhi hal-hal seperti; kreditur akan menyetujui pelonggaran pembayaran utang. Kemudian, pemilik pesawat menyetujui perjanjian ulang kewajiban sewa. Berikutnya, kemampuan penekanan biaya karyawan dan pemegang saham terus memberikan dukungan keuangan.

“Hal-hal tersebut belum semuanya dilaksanakan. Sebagai akibatnya, kami tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk mendukung asumsi bahwa rencana manajemen dapat dicapai dalam jangka waktu yang diperlukan,” tulis Daniel.