ANALIS MARKET (10/6/2021) : Sentimen Domestik Berpotensi Jadi Katalis Pergerakan Indeks

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Samuel Aset Manajemen (SAM) menyebutkan, Indeks saham global melemah pada perdagangan Rabu (09/6) kemarin.

Dari Amerika Serikat, Dow Jones ditutup melemah 0.44%, kemudian S&P 500 dan Nasdaq juga melemah masing-masing sebesar 0,18% dan 0,09%.

Di Eropa, indeks acuan Euro Stoxx600 tercatat naik tipis 0.09%, sedangkan FTSE turun 0.20%.

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada level Rp 14.255. Dari komoditas, minyak WTI dan Brent melemah masing-masing sebesar 0.41% dan 0.04%.

Sementara itu, diperdagangan Kamis (10/6) pagi ini, Nikkei dibuka menguat 0,20% begitupun Kospi dibuka naik sebesar 0.11%. Untuk indeks futures AS tercatat kompak menguat, dengan Dow Jones naik 0.12%, S&P 500 menguat 0.12%, dan Nasdaq juga menguat 0.08%.

Lebih lanjut, analis SAM juga menyoroti beberapa sentiment yang layak dicermati pelaku pasar, antara lain;

1.Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia (BI) pada Mei 2021 mengindikasikan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi terus menguat. Ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2021 sebesar 104,4, meningkat dibandingkan dengan IKK April 2021 yang sebesar 101,5. “Keyakinan konsumen terpantau membaik pada sebagian besar kategori tingkat pengeluaran, tingkat pendidikan, dan kelompok usia responden. Secara spasial, keyakinan konsumen membaik pada enam kota yang disurvei, tertinggi di Medan, diikuti oleh Surabaya dan Manado,” ujar Kepala Depar temen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan ter tulisnya, Rabu (9/6). Berdasarkan hasil survei ini, lanjut dia, penguatan optimisme konsumen pada Mei 2021 didorong oleh persepsi konsumen yang membaik terha dap kondisi ekonomi saat ini meskipun masih berada pada area pesimistis (<100). Ini disokong oleh perbaikan persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan ketepatan waktu pembelian barang tahan lama. 

2.Negara-negara kaya bersiap atas China yang berupaya mencari pengecualian dari pajak perusahaan minimum global. Beberapa pejabat melihat China tidak mudah menandatangani tarif pajak minimum global setidaknya 15% yang disahkan oleh menteri keuangan G7 minggu lalu. China memang memiliki tarif pajak perusahaan dasar sebesar 25% untuk sebagian besar perusahaan, tetapi insentif untuk sektor teknologi tinggi dan untuk investasi dalam penelitian dan pengembangan menyebabkan tarif efektif dapat turun di bawah 15%. Beijing ingin mempertahankan insentif pajak yang dilihatnya sebagai kunci untuk pembangunan ekonominya, terutama dalam teknologi maju. 

3.Dari AS, Presiden Joe Biden mencabut larangan era Trump terhadap aplikasi milik China, TikTok dan WeChat, dan sebagai gantinya akan meninjau aplikasi perangkat lunak dari negara lain yang dapat menimbulkan risiko terhadap data sensitif Amerika, kata pejabat senior administrasi.

“Beragam kondisi tersebut diatas berpotensi jadi katalis pergerakan indeks hari ini,” sebut analis SAM dalam riset yang dirilis Kamis (10/6/2021). 

Melalui tulisan ini, kami kembali menyerukan kepada seluruh mitra investasi untuk selalu menjaga kesehatan, mengikuti semua protokol kesehatan, menjaga jarak sosial dan fisik, serta seoptimal mungkin untuk melakukan aktivitas dari rumah. Semoga kita berhasil.