ANALIS MARKET (24/5/2021) : Sentimen Domestik Berpotensi Jadi Katalis Pergerakan Indeks Hari Ini

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Samuel Aset Manajemen (SAM) menyebutkan, pasar global bergerak variatif pada perdagangan Jumat (21/5) lalu.

Dow naik 123,69 poin atau 0,36% menjadi 34.207,84. Kemudian S&P 500 turun 0,08% menjadi 4.155,86, begitupun Nasdaq yang turun 0,48% menjadi 13.470,99.

Dari Eropa, FTSE melemah 0,02% atau 1,74 poin menjadi 7.018,05 sementara Stoxx600 naik 0,57% atau 2,54 poin menjadi 444,44.

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada level Rp 14.355, menguat.

Sedangkan minyak WTI pagi ini naik 0,36% sementara minyak Brent juga naik 0,33%.

Sementara itu, diperdagangan Senin (24/5) pagi ini, Nikkei 225 dibuka naik 0,65% sedangkan Kospi turun 0,18%. Indeks futures di Amerika Serikat, Dow Jones dan S&P 500 naik masing-masing 0,33% dan 0,18%, sedangkan Nasdaq futures turun tipis 0,06%.

Lebih lanjut analis SAM juga menyoroti beragam sentiment yang layak menjadi sorotan pelaku pasar, antara lain;

1.Taiwan melaporkan peningkatan yang stabil dalam kasus Covid-19 selama akhir pekan, setelah keputusan pemerintah untuk merevisi total harian terakhir merusak kepercayaan pada data resmi. Sebagai informasi, pasokan semikonduktor dunia bergantung pada Taiwan, sehingga vaksinasi menjadi krusial. Di belahan dunia lain, penyebaran virus corona di AS terus melambat. 

2.Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) dan anak perusahaan Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) yaitu Caisse de dépôt et placement du Québec (CDPQ) dan APG Asset Management (APG) menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding/MoU untuk membentuk konsorsium, pekan lalu. Dalam MoU itu juga disepakati untuk membangun platform investasi pertama yang berfokus pada proyek infrastruktur di Indonesia. Terkait dengan kesepakatan ini, LPI berencana menjajaki peluang investasi bersama dalam aset jalan tol di Indonesia dengan potensi dana kelolaan mencapai US$ 3,75 miliar atau Rp 54 triliun. 

3.Pemerintah akan menghapus sanksi administrasi perpajakan sebesar 200% dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang bayar bagi wajib pajak peserta program pengampunan pajak pada 2016 untuk mendulang rupiah di tengah suramnya prospek penerimaan pajak. Ada tiga hal yang mendasari pemerintah menghapus sanksi bagi wajib pajak peserta pengampunan pajak atau tax amnesty. Pertama, gagalnya program pengampunan pajak yang dirilis pada 2016. Kedua, tidak optimalnya tindak lanjut data hasil kerja sama pertukaran informasi perpajakan otomatis atau Automatic Exchange of Information (AEOI). Ketiga adalah kebutuhan untuk mewujudkan konsolidasi fiskal pada 2023.

“Beragam kondisi tersebut diatas berpotensi jadi katalis pergerakan indeks hari ini,” sebut analis SAM dalam riset yang dirilis Senin (24/5/2021). 

Melalui tulisan ini, kami kembali menyerukan kepada seluruh mitra investasi untuk selalu menjaga kesehatan, mengikuti semua protokol kesehatan, menjaga jarak sosial dan fisik, serta seoptimal mungkin untuk melakukan aktivitas dari rumah. Semoga kita berhasil.