SGRO Raup Laba Rp209 Miliar Pada Kuartal I 2021

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Sampoerna Agro Tbk (IDX: SGRO) membukukan laba bersih sebesar Rp209,1 miliar pada tiga bulan pertama 2021, atau terbang 49.332 persen dibandingkan kuartal I 2020, yang tercatat sebesar Rp423 juta.

Sehingga, laba per saham terbang menjadi Rp115, dibandingkan di akhir Maret 2020, yang tercatat sebesar Rp0,2.

CEO SGRO, Budi Halim mengatakan, pencapaian Sampoerna Agro berhasil mencatatkan rekor tertinggi dalam beberapa indikator kinerjanya.  

Misalnya, total produksi tandan buah segar (TBS) Perseroan pada kuartal I 2021 mencapai 495.573 ton, atau naik 35 persen dibandingkan kuartal 1 2020.

“Nilai tersebut merupakan produksi triwulan pertama tertinggi sepanjang sejarah Sampoerna Agro,” kata dia dalam siaran pers, Jumat (23/4/2021).

Ia juga menjelaskan, lonjakan terbesar terjadi di regional Sumatera Selatan yang mencatat peningkatan produksi TBS sebesar 54 persen mencapai 320.591 ton, sedangkan regional Kalimantan mencatatkan kenaikan sebesar 10 persen menjadi 174.982 ton.

Pada saat yang sama, jumlah panen pada kebun inti Perseroan berkontribusi sebesar 62 persen dari total produksi TBS pada periode tersebut, atau mencapai 309.010 ton (naik 30 persen).

Adapun total penjualan pada kuartal I 2021 mencapai Rp1,33 triliun, meningkat 47 persen dibanding kuartal I 2020.

Lonjakan tersebut sebagian besar dipicu minyak sawit yang menyumbang 83 persen dari total penjualan dalam periode kuartal I 2021.

Total volume penjualan minyak sawit Perseroan mencapai 114.828 ton atau meningkat sebesar 37 persen dibanding kuartal 1 2021, dengan harga jual rata-rata tertinggi yang pernah dicatatkan Perseroan yaitu Rp9.587 per kg—lebih tinggi 5 persen dibanding kuartal I 2020.

Nilai penjualan minyak sawit di kuartal I 2021 juga meningkat sebesar 44 persen dibandingkan kuartal I 2020 mencapai Rp1,10 triliun.

”Lonjakan nilai penjualan di kuartal I 2021 memungkinkan Perseroan untuk membukukan margin usaha yang jauh lebih tinggi. Margin laba kotor dan margin EBITDA dalam periode tersebut merupakan yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, masing-masing 35,8 persen dan 33,7 persen, atau secara signifikan lebih tinggi dari rata-rata 5 tahunnya yang sebesar 23,1 persen dan 24 persen,” jelas Budi.