ANALIS MARKET (05/11/2021) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Kamis, 04/11/2021 kemarin, IHSG ditutup menguat 34 poin atau 0,52% menjadi 6.586. Sektor transporation & logistic, energy, basic material, consumer cyclicals, infrastructures, industrials, technolgy, consumer non cyclicals, financial dan properties & real estate bergerak positif dan mendominasi kenaikan IHSG kali ini. Investor asing di seluruh pasar membukukan pembelian bersih sebesar IDR 315 miliar.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah terbatas dan ditradingkan pada 6.510 – 6.619. Ada potensi menguat namun akan menjadi setipis kertas,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (05/11/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.TERNYATA KECUT!

Walah pemirsa, ternyata eh ternyata, pada pertemuan Bank Sentral Inggris yang terjadi kemarin, tidak disangka tak dinyana, ternyata Bank Sentral Inggris memutuskan untuk melawan ekspektasi pasar dengan mempertahankan tingkat suku bunganya lho. Hal ini justru semakin mempertaruhkan kredibilitas Bank Sentral Inggris, karena lebih memilih memprioritaskan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi yang sedang terjadi daripada inflasi itu sendiri. Gubernur Bank Sentral Inggris, Andrew Bailey lebih memilih dengan score 7 – 2 untuk tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuannya di level 0.1%. Hal ini mengejutkan, karena inflasi Inggris sendiri tengah berada di atas 3% atau lebih tepatnya 3.1%, bahkan inflasi intipun hampir mencapai 3% atau 2.9%. Sontak tentu saja keputusan Bank Sentral mengejutkan para pelaku pasar dan investor yang dimana mereka bertaruh bagi Bank Sentral untuk menaikkan tingkat suku bunga. Bailey sendiri mengatakan bahwa kenaikkan inflasi berarti biaya pinjaman akan mengalami peningkatan dalam beberapa bulan mendatang, dan disaat itulah ekspektasi pasar mulai untuk melakukan pengetatan yang lebih aggresif. Dirinya mempertahankan keputusannya, begitupun dengan Powell, Bailey merasa pasar tenaga kerja harus pulih terlebih dahulu. Padahal termasuk kami, semua sudah memprediksi bahwa Inggris akan menjadi Bank Sentral terbesar pertama yang akan menaikkan tingkat suku bunganya pada minggu ini, karena inflasi yang sudah konsisten sama seperti The Fed berada di atas 2%. Namun kami tetap memiliki harapan bahwa tingkat suku bunga berpotensi mengalami kenaikkan, setidaknya 15 – 25 bps pada akhir tahun atau awal tahun 2022 mendatang. Tahun depan, mungkin terlihat Bank Sentral Inggris untuk memiliki rencana menaikkan tingkat suku bunga sebanyak 1 atau 2x, dan besar kemungkinan akan terjadi pada Q1 2022 atau Q3 2022. Sejauh ini kami melihat Bank Sentral Inggris tidak terburu buru untuk menaikkan tingkat suku bunga, menurut Bailey dirinya khawatir bahwa apabila dirinya menaikkan tingkat suku bunga, maka pertumbuhan ekonomi akan melambat dan berada di bawah target yang sudah diproyeksikan sebelumnya. Bailey sendiri mengatakan bahwa dirinya justru bingung dengan apa yang diinginkan oleh pelaku pasar dan investor. Karena menurut Bailey saat ini belum saat yang tepat untuk menaikkan tingkat suku bunga. Bailey masih yakin, bahwa inflasi akan turun dalam jauh dibawah target apabila harga energi dapat turun kembali pada pertengahan tahun depan, setidaknya begitu harapan Bailey. Sejauh ini kami melihat bahwa apabila pada Q1 2022 krisis energi bisa dikendalikan, kami yakin komoditas akan mulai mengalami penurunan, oleh sebab itu nikmati selagi bisa ya pemirsa. Namun apabila pada Q1 2022 krisis energi tidak bisa di kendalikan, maka harga komoditas akan rally hingga Q2 2022 mendatang. Keputusan Bailey untuk menahan tingkat suku bunga juga mengundang berbagai pertanyaan mengenai bagaimana Bank Sentral berkomunikasi, sehingga dapat memicu pandangan terkait dengan sosok Bailey dengan pendahulunya yang sama juga tidak bisa diandalkan oleh anggota parlement Inggris. Meskipun sebetulnya Bailey menepis padangan tersebut dengan mengatakan bahwa dirinya juga tidak pernah berjanji untuk bertindak berdasarkan data tertentu. Pejabat Bank Sentral Inggris sendiri memberikan indikasi bahwa ada rasa khawatir yang kian meningkat mengenai prospek pertumbuhan, karena adanya tanda tanda konsumsi mengalami pelemahan karena adanya gangguan dari sisi pasokan yang mengakibatkan naiknya harga minyak, gas, dan listrik. Perekonomian diperkirakan tidak akan mampu pulih ke tahap pra-corona virus terjadi hingga 3 bulan pertama hingga tahun depan, hal ini yang terlihat bahwa pemulihan akan menjadi jauh lebih lambat daripada yang diperkirakan. Bank Sentral Inggris sendiri memangkas pertumbuhan ekonomi pada tahun 2022 mendatang dari sebelumnya 6% menjadi 5%, dan akan kembali turun lebih cepat pada tahun 2023 menjadi 1.5% dan turun kembali pada tahun 2024 menjadi 1%. Prospek inflasi secara jangka pendek akan menjadi lebih buruk, dengan kenaikkan harga diperkirakan akan naik menjadi 5% pada tahun 2022 mendatang, yang dimana hal tersebut akan menjadikan kenaikkan tertinggi sejak 2011, meskipun setelah 2022 penurunan akan kembali terjadi. Oh ya, tadi ada perbandingkan 7 – 2, 2 orang yang mendukung kenaikkan tersebut adalah Dave Ramsden dan Michael Saunders yang mengatakan untuk menaikkan tingkat suku bunga, karena menurut mereka inflasi berpotensi mengalami kenaikkan dalam beberapa tahun ke depan. Dan untuk mencegah inflasi tersebut tingkat suku bunga diharapkan dapat mengalami kenaikkan. Well, meskipun tidak sesuai harapan, namun kami melihat bahwa Bank Sentral Inggris sebetulnya juga ragu untuk menaikkan tingkat suku bunga, karena belum begitu yakin bahwa inflasi akan konsisten berada di atas 2%. Sama seperti yang lainnya, Bank Sentral Inggris menyakini bahwa ketinggian inflasi akan sementara dan semua akan kembali seperti normal. Ditengah kekecewaan Inggris pemirsa, ada kabar baik datang dari China lho. Mereka akhirnya terbuka untuk melakukan negosiasi mengenai subsidiari terhadap perusahaan industrinya serta perusahaan milik negara yang mereka miliki terhadap point point utama dari ketegangannya terhadap Amerika. China akan mencoba untuk mengambil sikap aktif dan terbuka untuk membicarakan isu isu perekonomian digital, perdagangan dan lingkungan. Hal ini disampaikan langsung oleh Presiden Xi lho pada saat pembukaan China International Import Expo. Amerika sendiri sudah cukup lama khawatir terkait dengan structure ekonomi dan perusahaan subsidiary yang dikendalikan oleh China, sehingga Amerika menyebutkan praktif non-pasar yang tidak adil. Xi juga membahas mengenai kebijakan untuk memperluas impor yang diinginkan oleh China antara lain; 1. Membangun zona percontohan baru untuk fasilitas impor. 2. Meningkatkan impor dari negara tetangga. 3. Memperpendek daftar negative investasi bagi modal asing, memperluas komunikasi, dan meningkatkan pelayanan kesehatan serta jasa lainnya secara tertib. 3. Merevisi dan memperluas katalog industry dimana investasi asing didorong untuk berkembang. 4. Menerbitan daftar negative investasi untuk perdangan jasa di Zona Perdagangan bebas. Para pemimpin China juga menyampaikan bahwa mereka berkomitment untuk menunjukkan keterbukaan dan menjaga tatanan perdagangan gobal. Sebagai penutup, Xi menyampaikan bahwa dalam 20 tahun terakhir, China telah memperdalam reformasi and melakukan keterbukaan. China merebut peluang dan bangkit menghadapi tantangan. Oleh sebab itu, China juga akan meningkatkan tanggung jawabnya dan memberikan manfaat bagi seluruh dunia. Well, semoga saja pertemuan Xi dan Biden tidak akan lama lagi, sehingga memberikan ketenangan dan meredakan volatilitas pasar, serta mendukung pertumbuhan dan meningkatkan akselerasi pemulihan ekonomi global.

2.HULU KE HILIR

Memasuki akhir tahun 2021, realisasi dari anggaran infrastruktur menjadi hal yang dicermati oleh pelaku pasar. Pelaku pasar berharap realisasi dari anggaran infrastruktur dapat menjadi penopang naiknya konsumsi dari dalam negeri pada semester II 2021. Pada satu sisi, naiknya proyek infrastruktur berdampak pada naiknya produksi baja nasional hingga tahun 2025 dimana proyek pembangunan ibu kota baru menjadi katalis bagi pemerataan ekonomi. Produksi baja diperkirakan mencapai 12,27 juta ton pada tahun 2021, target tersebut lebih tinggi dari target tahun lalu sebesar 6.05%. Seperti di 2022, kebutuhan baja dalam negeri bisa mencapai 19 juta ton dan terus meningkat hingga 23,34 juta ton di tahun 2025. Saat ini kapasitas produksi baja dalam negeri mencapai 4.9 juta ton per tahun, namun utilisasinya belum mencapai 100%. Masifnya persaingan dari baja impor menjadi tantangan bagi para produsen baja dalam negeri guna mampu lebih unggul dari segi kualitas dan tetap harga jual. Saat ini kapasitas produksi hot rolled coil masih di atas permintaan tahunan di Indonesia. Sebagai contoh, pada 2019, produksi hot rolled coil 1,37 juta ton, sementara volume permintaan mencapai 2,6 juta ton. Oleh karena itu, perusahaan baja dalam negeri diharapkan dapat terus mendorong program hilirisasi produk baja sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah juga mengoptimalkan utilisasi industri baja dalam negeri. Stimulus pemerintah terhadap industry baja juga menjadi harapan guna mendukung persaingan produk. Pemerintah akhirnya menyetujui bahwa industri baja dengan beberapa produk samping lainnya seperti mill scale, debu EAF, PS ball juga telah dikategorikan menjadi limbah non B-3 meski terdapat beberapa pengecualian. Melalui PP No. 28 Tahun 2021, ditetapkan bahwa kebijakan di bidang industri baja, termasuk perijinan impor baja, akan ditetapkan berdasarkan Neraca Komoditas Baja sehingga kebijakan pemerintah benar-benar akan didasarkan pada kemampuan industri baja nasional. Selain akan menjadi dasar kebijakan impor, maka penetapan neraca komoditas baja nasional juga akan mendorong penggunaan produk baja nasional dalam proyek-proyek nasional melalui penerapan TKDN. Neraca Komoditas ini dinilai dapat mengendalikan impor secara lebih baik setelah melalui kebijakan impor yang tepat pada tahun 2020 yang dilakukan Kementerian Perindustrian. Volume importasi baja mengalami penurunan 36% menjadi sebesar 4,47 juta ton di 2020 dibandingkan dengan tahun 2019 yang sebesar 6,96 juta ton. Serangkaian dukungan Pemerintah melalui PP No. 22 Tahun 2021 dan PP No. 28 Tahun 2021 merupakan dukungan lebih lanjut yang telah diberikan pemerintah kepada industri baja nasional melalui penetapan harga gas sebesar US$ 6 per MMBTU. Selain itu juga melalui relaksasi batas minimum kontrak listrik yang telah memberikan dukungan guna memberikan tekanan pada biaya produksi.