Patok Harga IPO Rp195 Per Saham, Ace Oldfield Hanya Akan Raup Rp76,05 Miliar

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id Perusahaan peralatan dan perlengkapan cat, PT Ace Oldfield Tbk hanya akan meraup dana sebesar Rp76,05 miliar dari pelaksanaan Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO).

Mengutip prospektus terbaru usai meraih pernyataan efektif IPO pada tanggal 14 Oktober 2021 yang diunggah pada laman e-IPO, Senin (18/10/2021), taksiran dana IPO itu didapat setelah peseroan menetapkan harga penawaran  Rp195 per lembar, atau kisaran harga terbawah.

Sebelumnya, dalam prospektus awal calon emiten itu akan menawarkan sebanyak 390 juta lembar saham bernominal Rp 50 per lembar saham. Jumlah itu setara dengan 30,17 persen dari modal ditempatkan disetor penuh.

“Harga penawaran sebesar Rp 195 - Rp250, sehingga nilai penawaran umum sebanyak-banyaknya Rp 76.050 miliar hingga Rp 97,5 miliar,” demikian tulis manajemen PT Ace Oldfield Tbk.

Sementara itu, perusahaan cat ini masih berpeluang meraih dana dari pelaksanaan waran sebesar Rp32,5 miliar.

Dalam prospektus terbaru, perseroan juga akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 130 juta Waran Seri I. Jumlah itu setara 14,4 persen dari total jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh.

Waran Seri I diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif bagi para pemegang saham baru yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham pada saat Penjatahaan, pada tanggal 21 Oktober 2021.

Pada saat itu, setiap pemegang 3 saham baru berhak memperoleh 1 Waran Seri I. Satu waran  seri I dapat ditebus menjadi 1 saham dengan harga pelaksanaan Rp250 per lembar mulai tanggal 25 April 2022 sampai dengan tanggal 25 Oktober 2022.

Untuk memuluskan rencana itu, perseroan telah menunjuk NH Korindo Sekuritas selaku penjamin emisi efek. Bersama penjamin efek ini, Ace Oldfield mulai melakukan penawaran umum 18 hingga 21 Oktober 2021.

Dengan dana IPO itu, perseroan akan membeli tanah di Cileungsi, Jawa Barat senilai Rp 28 miliar. Patut dicatat, tanah itu milik dua pemegang saham sekaligus Komisaris, yakni Janto Setiono dan Dannie Tjiandra.

Di samping tanah itu, sebagian milik Bobby Kandiawan, yang juga memiliki hubungan keluarga dengan pengurus perusahaan.

Sedangkan, sisanya sekitar 61,31 persen dari dana hasil penawaran saham itu akan digunakan untuk modal kerja, seperti pembelian bahan baku.