ANALIS MARKET (12/01/2021) : Pasar Obligasi Berpotensi Naik

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, selangkah lagi imbal hasil obligasi 10y akan berpotensi di atas 6.20%.

Apakah ini suatu tanda bahwa pasar obligasi akan kembali ditinggalkan ditengah situasi dan kondisi yang diliputi dengan ketidakpastian?

Ternyata pasar obligasi tidak ditinggalkan, namun hanya dianggap sebagi pilihan kedua tatkala situasi dan kondisi terkait dengan pemulihan perekonomian semakin memberikan kepastian.

Kenaikkan IHSG dalam beberapa hari terakhir menjadi sebuah tanda bahwa harga saham yang terus menerus mengalami kenaikkan yang didorong oleh ekspektasi dan harapan akan pemulihan perekonomian masih menjadi sebuah pilihan pertama dalam berinvestasi.

Namun pertanyaanya adalah apakah semulus yang dibayangkan? Mari kita berharap demikian.

Pasar obligasi saat ini sedang berada di titik kritis dimana apakah imbal hasil obligasi 10y berpotensi melewati 6.2% atau tidak.

Sejauh ini kami menyakini bahwa pasar obligasi akan bercahaya tahun ini ditengah potensi pemangkasan tingkat suku bunga sebesar 25 bps yang akan mendorong harga obligasi mengalami penurunan.

Lelang kali ini akan mencuri perhatian karena akan menjadi sebuah pembuktian, apakah imbal hasil akan berbalik mengalami penurunan ataukah justru terus mengalami kenaikkan?

Apabila imbal hasil pasar obligasi terus bergerak mengalami kenaikkan, tentu hal ini akan menjadi sebuah dorongan bahwa pasar obligasi memiliki potensi untuk mengubah garis kehidupan dari yang sebelumnya mengalami kenaikkan secara harga akan berubah menjadi penurunan.

Seri yang akan menjadi primadona hari ini tentu saja datang dari seri PBS 29 yang dimana merupakan seri terbaru dari lelang obligasi sukuk.

Hal ini akan menjadi menarik, sejauh mana pemerintah akan berbaik hati untuk memberikan kupon bagi obligasi dengan durasi 15 tahun tersebut.

Lebih lanjut analis Pilarmas menilai, diperdagangan Selasa (12/01) pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka bervariatif dengan potensi pergerakan mengalami kenaikkan setelah lelang usai.

“Kami merekomendasikan jual,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Selasa (12/01/2021).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.LANGKAH PERTAMA DARI BIDEN

Joe Biden, Presiden terpilih dari Amerika mulai melakukan berbagai hal untuk melakukan langkah pertamanya ketika dilantik nanti. Biden berusaha untuk meloloskan paket stimulus ekonomi dengan nilai jutaan dollar di awal pemerintahannya. Meskipun demikian usaha Biden mungkin tidak akan semudah kelihatannya, karena saat ini Senat tengah berjibaku dengan kehadiran usaha pemakzulan kepada Presiden Trump dari Partai Demokrat sehingga berpotensi rencana Biden tersebut mengalami penundaan. Biden akan memberikan laporan lebih detail dalam rencana proposalnya pada hari Kamis pekan ini yang dimana dalam paket stimulus tersebut ada beberapa point tambahan, khususnya point yang memberikan dukungan terhadap pemerintah negara bagian dan daerah yang sebelumnya bantuan tersebut di tangguhkan oleh Partai Republik. Stimulus akan bernilai $2.000 yang dimana sebelumnya hanya $600 dan tunjangan pengangguran pun akan diperluas. Tidak hanya itu saja, point point terkait dengan distribusi vaksin, pembukaan kembali sekolah, kredit pajak, keringanan sewa dan bantuan untuk usaha kecil juga akan kembali diberikan. Sebagai informasi, stimulus yang diberikan oleh Trump beberapa waktu lalu senilai $900 miliar diperkirakan akan habis pada pertengahan bulan Maret mendatang, dan berpotensi akan mengalami kekurangan stimulus apabila stimulus berikutnya tidak dipersiapkan. Saat ini pelaku pasar dan investor sangat menantikan kepastian dan kehadiran terkait dengan stimulus ini, karena tentu akan memberikan kepastian akan prospek pemulihan perekonomian. Oleh sebab itu suka atau tidak suka, stimulus ini akan memberikan dorongan terhadap pergerakan pasar kedepannya. Biden kemarin mengatakan bahwa stimulus ini merupakan prioritas utama dirinya. Focus utamanya dari Biden adalah membuat Rancangan Undang Undang terkait dengan stimulus ini dapat disahkan agar dapat memberikan bantuan secepatnya kepada masyarakat Amerika. Biden sebelumnya telah berbicara dengan beberapa koleganya di Partai Republik, agar Rancangan Undang Undang tersebut dapat di loloskan. Team ekonomi Biden masih terus melakukan beberapa ukuran untuk mendapatkan komposisi yang tepat terkait dengan ukuran stimulus yang akan diberikan nantinya, termasuk juga bagaimana team ekonomi Biden dapat memberikan ukuran yang dapat disetujui oleh Kongres, agar Rancangan Undang Undang tersebut dapat membantu sebanyak mungkin masyarakat Amerika yang membutuhkan. Biden menambahkan bahwa apabila stimulus tersebut tidak segera diberikan, ada kemungkinan situasi dan kondisi yang ada akan menjadi lebih buruk. Namun Biden menginginkan cek stimulus tersebut dapat diberikan langsung kepada mereka yang benar benar membutuhkan, karena beberapa masih banyak kepala keluarga yang berpenghasilan tinggi dan belum kehilangan pekerjaannya namun mendapatkan stimulus tersebut. Tim ekonomi Biden juga memandang bahwa pemulihan sejauh ini masih tidak merata sehingga menyebabkan sebagian besar pasar tenaga kerja mengalami hentakan lebih keras daripada indicator lainnya. Laporan ketenagakerjaan sendiri menunjukkan penurunan sebanyak 140.000 dalam penggajian pada bulan December lalu, yang dimana laporan tersebut merupakan laporan yang terburuk sejak April lalu. Ketua Komite Keuangan Senat yang akan datang, Ron Wyden mengatakan bahwa dirinya ingin menghubungkan tunjangan pengangguran yang telah diperluas dan ditunjukkan kepada pengangguran jangka panjang sehingga dapat mendorong durasi program berdasarkan tingkat pengangguran nasional dan negara bagian. Ide ini untuk menghilangkan negosiasi yang berulang ulang terkait dengan pemberian stimulus kepada mereka yang membutuhkan. Sehingga nantinya, tunjangan pengangguran dapat diperpanjang selama memang dibutuhkan. Tentu ini akan menjadi salah satu point yang sangat positive apabila nantinya mendapatkan persetujuan secepat mungkin ketika Biden menjabat. Sejauh ini pasar masih akan terus menantikan langkah langkah selanjutnya terkait dengan apa yang akan dilakukan Biden dalam kurun waktu 100 hari dan tentu saja stimulus seperti apa yang akan diberikan. Pasar saat ini sedang berada dalam kondisi yang cukup panas, sehingga membutuhkan asupan lebih lanjut untuk menjaga pasar untuk berada di area penguatannya. Apabila tidak ada asupan, maka diperkirakan pasar akan mengalami koreksi.

2.3S

PSBB 11 hingga 25 Januari di pulau Jawa dan Bali dinilai tidak berdampak signifikan pada pelaku industry. Kegiatan industry yang dapat beroperasional penuh dinilai menjadi penguat asumsi tersebut. Kami melihat kinerja pada daya beli masyarakat dan belanja negara yang meningkat pada tahun ini menjadi harapan bagi meningkatnya produktivitas industry dalam negeri. PSBB menjadi langkah pemerintah sebagai upaya dalam adaptasi masyarakat terhadap kebiasaan baru yang saat ini dinilai masih membutuhkan proses dimana daya beli masyarakat yang turun sebagai dampak dari adanya pandemic merupakan cerminan dari proses tersebut. Ke depan masyarakat semua akan beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada di depan. Artinya, tidak bisa hanya beranggapan apabila PSBB dilonggarkan maka ekonomi akan membaik. Alhasil, masyarakat kini sudah berubah dalam pola belanja sehari-hari dan juga menjalankan protokol kesehatan ketika keluar rumah. Untuk itu, kemungkinan permintaan masih membutuhkan waktu untuk kembali pada masa sebelum pandemi Covid-19, hal ini seiringan dengan gaya dan kebutuhan yang dahulu dilakukan akan berkurang. Pemulihan ekonomi nasional yang diproyeksikan akan terlihat pada tahun 2021 menjadi harapan para pelaku bisnis dimana indeks kepercayaan bisnis terus turun sejak level tertingginya di bulan Juni 2018. Aksi beli investor asing secara YTD yang sebesar Rp 5.12 triliun dinilai seiringan dengan kepercayaan diri investor terhadap pulihnya perekonomian Indonesia di tahun 2021. Tentu harapannya adalah bahwa inflasi inti bisa mengalami kenaikkan sehingga memberikan gambaran bahwa daya beli bisa mengalami pemulihan. Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun ini yang di proyeksikan sebesar 5%, maka daya beli harus mendukung. Untuk mendorong daya beli untuk mengalami kenaikkan, maka ditengah penyebaran wabah virus corona ini, pengendalian merupakan kunci untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat untuk mulai melakukan konsumsi untuk mendorong inflasi. Tanpa adanya rasa aman, masyarakat masih akan menunda keinginannya untuk konsumsi dan beralih kepada menabung. Sejauh ini penantian akan penyuntikan gelombang pertama yang mulai dilakukan esok hari diharapkan dapat memberikan sentiment positive terhadap pasar, sehingga ada kemungkinan daya gebrak esok hari dimana Presiden Jokowi mendapatkan suntikan pertama akan menjadi sebuah pijakan, dimana perekonomian diharapkan dapat pulih seiring dengan adanya distribusi dan penyuntikan vaksin. Virus baru yang ditemukan oleh Jepang atas kunjungan salah satu masyarakat dari Brazil masih akan menjadi perbincangan. Tidak akan menjadi tantangan, apabila ternyata vaksin yang ada mampu untuk mengobati virus jenis baru tersebut.