OJK Minta Nasabah Yang Mampu Tetap Bayar Cicilan Kredit

Foto : istimewa

Pasardana.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta kepada nasabah perbankan yang masih mampu agar tetap membayar cicilan kredit dan tidak ikut program restrukturisasi.

Langkah tersebut akan membantu perbankan dalam merealisasikan program restrukturisasi kredit.

"Bagi nasabah yang tidak terdampak Covid-19, masih mampu membayar kewajibannya, kita harapkan membayar," kata Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK, Heru Kristiyana dalam sebuah diskusi virtual di Jakarta, Selasa (19/5/2020).

Meski demikian, Heru mengakui, dampak pandemi Covid-19 pada sektor keuangan berpotensi mengganggu tingkat risiko kredit macet dan likuiditas permodalan.

Setidaknya ada tiga risiko yang dihadapi sektor keuangan akibat pandemi yakni risiko kredit, risiko pasar, dan risiko likuiditas.

"Di risiko kredit kalau sektor riilnya terdampak, misalnya tidak dapat memenuhi pokok maupun bunga (pinjaman) di perbankan, tentunya nanti bank harus mulai secara serius melihat dampak dari risiko kredit itu," sebutnya.

Program restrukturisasi dikeluarkan melalui Peraturan OJK (POJK) Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019.

Beleid ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi debitur yang berkinerja baik untuk dapat mengikuti program restrukturisasi kredit.

POJK ini juga diharapkan dapat berperan sebagai kebijakan countercyclical, sebagai bantalan terhadap dampak negatif dari penyebaran Covid-19.

Pada aturan sebelumnya, kredit nasabah yang direstrukturisasi membutuhkan waktu selama tiga bulan.

Sementara dalam program restrukturisasi ini, kredit nasabah bisa langsung lancar.

Namun, OJK menegaskan akan terus berupaya untuk menyeimbangkan kebutuhan sektor riil dan kapasitas likuiditas sektor keuangan.

Ini dilakukan agar program restrukturisasi kredit tidak membebankan salah satu pihak.

"OJK dalam hal ini tentunya akan melihat keseimbangan di dalam POJK 11 kita melakukan relaksasi terhadap berbagai hal. Kita melihat keseimbangan antara sektor riil yang harus tetap hidup, tetapi bank-nya juga tidak mengalami permasalahan," tandas Heru.