ANALIS MARKET (07/4/2020) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Menguat

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Senin 06/04/2020, IHSG ditutup menguat 188 poin atau 4,07% menjadi 4.811. Sektor properti, infrastruktur, agrikultur, barang konsumsi, industri dasar, keuangan, aneka industri, pertambangan, perdagangan bergerak positif dan menjadi kontributor terbesar pada kenaikan IHSG kemarin. Investor asing membukukan penjualan bersih sebesar 489.8 miliar rupiah.

Adapun cerita hari ini akan kita mulai dari;

1.THE FED UNTUK USAHA KECIL

The Fed kemarin mengatakan bahwa mereka akan membuat program untuk membantu mempercepat aliran dana stimulus perekonomian kepada Perusahaan kecil, hal ini dilakukan sebagai langkah terbaru untuk melindungi perekonomian Amerika yang tertekan akibat wabah virus corona. Fasilitas ini akan memberikan pembiayaan berjangka kepada Bank terhadap pinjaman yang akan dikeluarkan oleh Program Perlindungan Pembayaran untuk usaha kecil. Program tersebut merupakan program yang telah ditandatangani sebelumnya oleh Presiden Trump, sehingga Bank akan memberikan pinjaman kepada usaha kecil dan menutup penggajian, sewa, dan utilitas lainnya hingga delapan minggu. Pinjaman akan diubah menjadi hibah apabila Perusahaan tetap mempertahankan atau mempekerjakan kembali para pegawai mereka. Pada kenyataannya di lapangan, terkadang program tersebut berjalan sangat lambat, sehingga Bank dan pemberi pinjaman dari Lembaga Keuangan non Bank telah menyampaikan bahwa mereka mengalami kesulitan untuk mengakses pinjaman tersebut terhadap Menteri Keuangan. Bank menyampaikan bahwa mereka mulai kekurangan likuiditas untuk terus memberikan pinjaman kepada usaha skala kecil. Mnuchin mengatakan bahwa seharusnya hal tersebut tidak menjadi masalah saat ini. Mereka semua, baik Bank maupun lembaga keuangan non bank lainnya harus merasa bebas untuk mengambil sebuah pilihan untuk menggunakannya, karena hal tersebut merupakan sumber likuiditas pasar. Langkah langkah ini merupakan yang terbaru dalam langkah langkah darurat lainnya oleh Bank Sentral untuk menjaga kredit tetap mengalir kedalam perekonomian Amerika.

2.PANDEMIC BOND

Indonesia akan merilis obligasi senilai $4.3 miliar sebagai bagian untuk membantu membiayai langkah langkah untuk mengatasi krisis corona virus yang sedang terjadi di Indonesia. Fokus utamanya adalah menjaga potensi penjualan obligasi untuk tetap dapat bersaing dan mendapatkan kepercayaan dengan beberapa Negara lainnya di seluruh dunia untuk mengatasi krisis kesehatan. Kekhawatiran tentang pasar keuangan Emerging Market terus berpusat terhadap infrastructure kesehatan dan rasio utang yang dapat memburuk ditengah potensi resesi global. Sejauh ini mata uang Rupiah telah melemah sebanyak 16% sepanjang tahun ini. Pandemic Bond akan mendorong pinjaman secara global, dan Indonesia akan melepas obligasi tersebut dengan jangka waktu 10.5y dengan kupon 3.9%. Obligasi 30.5y dikenakan kupon 4.25%. Sebelumnya beberapa waktu lalu, Indonesia tengah mempertimbangkan untuk menerbitkan obligasi recovery bond, yang dimana dari Pemerintah kemudian akan dijual kepada Bank Indonesia untuk dapat menyerap surat utang tersebut dan dana tersebut akan diberikan oleh Pemerintah dalam bentuk stimulus ekonomi terhadap dunia usaha dengan kredit khusus agar Perusahaan tersebut dapat berjalan. Namun kami pernah mengatakan bahwa penerbitan recovery bond akan memperlambat proses untuk mendapatkan dana yang cepat karena harus mengubah beberapa peraturan yang ada, kenapa tidak kita menggunakan instrument yang ada saat ini, yang kemudian dana tersebut akan digunakan untuk membantu Indonesia dalam menghadapi wabah tersebut. Tentu kami mengapresiasi langkah Pemerintah yang bergerak cepat dalam menerbitkan Pandemic Bond tersebut, bukannya apa, global bond merupakan salah satu alternative investasi dan sebuah pilihan untuk membantu Indonesia mendapatkan dana lebih cepat dan lebih murah, memang kesulitannya adalah bagaimana kita dapat bersaing dengan Negara lain ditengah Negara lain tersebut juga sedang mengalami kesulitan. Namun kami percaya, meskipun Negara lain tengah berjuang melawan wabah, namun tidak menutup kemungkinan potensi mereka untuk berinvestasi, apalagi fundamental ekonomi Indonesia juga diperhitungkan di dunia. Oleh sebab itu kami melihat potensi pandemic bond ini diserap juga cukup besar selain tentunya Negara investor tersebut membutuhkan alternative investasi untuk mengejar target investasi tahun ini.

3.LEBIH LONGGAR

Kementerian Keuangan berkomitmen untuk menyelesaikan Peraturan Presiden terkait postur anggaran baru pada pekan ini. Namun hingga saat ini, hal tersebut juga belum diberikan kepastian nilai maupun besaran terkait anggaran yang mengalami penyesuaian dan adanya penambahan anggaran yang tak terduga sebagai dampak dari upaya pemerintah dalam menaggulangi bencana corona virus ini. Defisit anggaran diproyeksikan dapat mencapai 5,07% dari PDB, lebih tinggi dari batas maksimal yang diatur dalam UU Keuangan Negara. Pendapatan negara tertekan sebesar 10% akibat penerimaan perpajakan yang turun akibat kondisi ekonomi serta adanya insetif pajak dan penurunan PPh dari 25% menjadi 22% tahun ini. Adanya anggaran belanja yang ditambah sebesar Rp255,1 triliun dan masing-masing dialokasikan untuk kesehatan sebesar Rp75 triliun, jaring pengaman sosial Rp110 triliun, dan dukungan industri Rp70,1 triliun. Di satu sisi, pemerintah juga melakukan refocussing dan realokasi anggaran serta pengehematan belanja negara sebesar Rp190 triliun. Penghematan belanja negara bersumber dari belanja kementerian dan lembaga sebesar Rp95,7 triliun dan penghematan transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) sebesar Rp94,2 triliun. Terdapat pula realokasi cadangan belanja sebesar Rp54,6 triliun. Pembiayaan keluar juga bertambah Rp150 triliun akibat adanya dukuangan pembiayaan anggaran dalam rangka pemulihan industri sebesar Rp150 triliun. Dalam Pasal 12 Ayat 2, tertulis bahwa perubahan postur dan rincian APBN dalam rangka pelaksanaan kebijakan keuangan negara di tengah COVID-19 diatur lewat Perpres. Selain itu kami melihat perppu ini lebih kepada antisipasi pemerintah serta penghapusan ayat dimana hal tak terduga yang terjadi saat ini berada diluar scenario sebelumnya. Beberapa ayat yang dihapus di antaranya 1. pembatasan deficit dari yang sebelumnya 3%, 2. pengamanatkan agar APBN sebagai penyesuaian ekonomi makro yang tidak sesuai asumsi serta perubahan pokok kebijakan, 3. Melarang pejabat untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran jika anggaran untuk pengeluaran tidak tersedia atau tidak cukup tersedia. Pasal-pasal tersebut dinyatakan tidak berlaku sepanjang berkaitan dengan kebijakan keuangan negara untuk penanganan COVID-19 serta dalam rangka menghadapi ancaman yang membahayakan ekonomi nasional dan stabilitas sistem keuangan.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat dan ditradingkan pada level 4.768 – 4.938,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Selasa (07/4/2020).