ANALIS MARKET (07/12/2020) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Menguat

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Jum’at, 04/12/2020 lalu, IHSG ditutup melemah 12 poin atau 0.21% menjadi 5.810. Sektor perkebunan, property, infrastruktur, keuangan, industri konsumsi bergerak negatif dan menjadi kontributor terbesar pada penurunan IHSG kemarin. Investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar 84 miliar rupiah.

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.SUKA DAN DUKA BANK SENTRAL EROPA

Bank Sentral Eropa akan melakukan pertemuan penting sebelum natal pada pekan ini untuk menentukan akan kemana arah kaki dari Bank Sentral Eropa akan melangkah. Bank Sentral Eropa diperkirakan akan memperpanjang program pembelian obligasi di masa pandemi selama 12 bulan penuh hingga pertengahan tahun 2022. Apabila langkah tersebut diambil, maka hal tersebut menjadi kabar yang sangat baik, karena diatas ekspektasi dan harapan dari para pelaku pasar dan investor. Belum lagi ada kabar bahwa nilai pembelian akan di naikkan hingga 500 miliar euro atau $608 miliar hingga total menjadi 1.85 triliun euro, dan semua itu akan diputuskan dalam pertemuan Bank Sentral Eropa pekan ini. Meskipun ada beberapa perbedaan pendapat, namun kami yakin bahwa para pembuat kebijakan tidak akan bermain main lagi untuk saat ini. Christine Lagarde sendiri sudah berjanji untuk melakukan apapun yang dibutuhkan untuk menopang perekonomian, oleh sebab itu dirinya akan berusaha untuk mencapai kata sepakat dengan 25 anggota lainnya. Beberapa para pembuat kebijakan menginginkan bahwa kenaikkan tidak lebih dari 500 miliar euro, namun kepala ekonomi dari Bank Sentral Eropa sendiri juga menginginkan untuk mengalami kenaikkan yang sesuai, dan 500 miliar euro dianggap cukup. Tindakan darurat saat ini dapat membuka jalan lebih lebar daripada tools yang lebih konvensional sebelumnya, dan para pembuat kebijakan membutuhkan kekuatan dan fleksibilitas yang luar biasa untuk menopang perekonomian dengan program pembelian obligasi senilai 1.35 triliun euro. Kami melihat bahwa sebetulnya Bank Sentral Eropa siap untuk melakukan segalanya, namun mereka sedang mengukur dampak dan resiko yang ditimbulkan ketika mereka melakukan suatu kebijakan. Beberapa anggota Dewan juga setuju bahwa terlalu dini untuk memutuskan sejauh mana program ini harus dijalankan untuk mencegah ketidakpastian berlanjut. Di satu sisi kami melihat bahwa hal tersebut penting agar pelaku pasar dan investor tetap percaya dan yakin bahwa bauran kebijakan cukup kuat untuk menopang perekonomian yang mana tengah berada dalam tekanan saat ini. Lagarde sendiri mengatakan bahwa pertemuan Bank Sentral Eropa pekan ini akan menjadi salah satu langkah untuk mengevaluasi ulang setiap kebijakan yang ada, khususnya terkait dengan pembelian asset darurat dan pinjaman bank sebagai salah satu tools yang disediakan. Para analyst juga mengantisipasi pinjaman jangka panjang yang baru dan mengantisipasi tingkat suku bunga berada di posisi yang rendah dalam waktu yang lama. Tidak hanya masalah terkait dengan kebijakan, namun kami melihat bahwa pertemuan Bank Sentral Eropa juga akan membahas mengenai target inflasi yang dimana mengalami penurunan. Oleh sebab itu, para pembuat kebijakan juga akan terfokus dengan target inflasi yang berada di 2%. Kami melihat hal ini sebagai sesuatu yang baik, oleh sebab itu harapannya adalah Bank Sentral Eropa dapat segera memberikan kepastian untuk apa yang akan mereka lakukan ke depannya, sehingga perekonomian dapat dengan segera menemukan jalannya untuk kebangkitan.

2.SEBUAH KEBANGKITAN UNTUK SEBUAH HARAPAN

Pergerakan harga CPO yang perlahan menunjukkan adanya pemulihan ikut memberikan kepercayaan diri bagi pemerintah terhadap kinerja ekspor dari CPO dalam negeri yang juga menunjukkan adanya peningkatan. Pemulihan dari permintaan produsen besar CPO dunia dari tiga pasar utama Indonesia yaitu India, China dan Pakistan mulai terlihat sejak kuartal II 2020. Di India, pandemi Covid-19 menyebabkan konsumsi minyak sawit menurun sampai 30 persen. Sampai Oktober, impor minyak sawit turun dari 9,4 juta ton pada 2019 menjadi 7,2 juta ton di tahun 2020. Penurunan konsumsi minyak sawit ini tak hanya dipicu oleh pandemi, tetapi juga dipengaruhi kebijakan pemerintah India yang memberlakukan bea masuk tindak pengamanan dan dimasukkannya RBD palm olein dalam daftar komoditas yang dibatasi. Meski demikian, India setidaknya membutuhkan 8,4 sampai 9 juta ton minyak sawit pada 2021. Sejauh ini ekspor dari Indonesia masih mendominasi pasar India dibandingkan dengan CPO dari Malaysia. Sementara itu, Presiden Chamber of Commerce for Import and Export of Foodstuffs Native Produce and Animal By-Product China, Cao Derong mengatakan, penurunan konsumsi minyak sawit juga terjadi di China. Pada kuartal I 2020 impor minyak kelapa sawit turun signifikan menjadi 320.000 ton. Cao Derong mengungkapkan, minyak sawit merupakan minyak nabati impor terbesar di China. Konsumsi minyak sawit di China mencapai 40% dari total konsumsi yakni untuk industri kimia. Pada 2019, Cina mengimpor 8,48 juta ton minyak sawit atau 66% dari total impor minyak nabati negara tersebut. Dari jumlah tersebut, Indonesia menjadi pemasok utama dengan volume mencapai 6,02 juta ton. Cao Derong juga menyebutkan permintaan pasar yang cukup tinggi membuat China sangat bergantung pada impor minyak nabati terutama minyak sawit. Dengan pemulihan ekonomi yang terjadi di tahun 2021 terutama di industri katering, konsumsi minyak sawit diperkirakan akan meningkat. Pemerintah Malaysia memiliki kebijakan insentif yang besar untuk mengekspor minyak kelapa sawit ke China. Hal tersebut berdampak pada gap harga minyak kelapa sawit antara Malaysia dan Indonesia yang menghasilkan penurunan keseluruhan dalam pengadaan China dari Indonesia. Kami melihat hingga akhir tahun ini harga acuan CPO berpeluang berada di range 3.196 – 3.419. Jika CPO mampu ditutup di atas 3.400 dengan kata lain terjadi kenaikan 7.12% YTD, hal ini tentu menjadi indikasi positif bagi produsen CPO dalam negeri.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat dan ditradingkan pada level 5.734 – 5.960. Vaksin akan kembali menjadi pendorong IHSG pada hari ini karena, vaksin sinovac sebanyak 1.2 juta dosis sudah hadir di Indonesia, dan 1.8 juta dosis vaksin di perkirakan akan tiba pada awal January 2021. Ditambah lagi dengan adanya pertemuan FDA di Amerika pada hari Kamis pekan ini, memberikan potensi bahwa vaksin dapat diberikan segera di Amerika dalam kurun waktu 24 jam atau pada hari Jumat. Ini akan menjadi booster untuk menjaga kekuatan dari ekspektasi dan harapan di masa depan,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Senin (07/12/2020).