ANALIS MARKET (23/11/2020) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Melemah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Jum’at, 20/11/2020, IHSG ditutup melemah 22 poin atau 0.4% menjadi 5.571. Sektor pertambangan, industri konsumsi, property, keuangan, perdagangan, perkebunan bergerak negatif dan menjadi kontributor terbesar pada penurunan IHSG kemarin. Investor asing membukukan penjualan bersih sebesar 433 miliar rupiah.

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.MNUCHIN VS POWELL

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya pada hari Jumat kemarin, pada akhirnya Mnuchin vs Powell dapat terwujud dalam waktu dekat, seperti yang kami duga sebelumnya. Perang antara ego terkait dengan kebijakan menjadi salah satu pemicunya pemirsa. Keduanya tidak memiliki satu pendapat terkait dengan program pinjaman darurat yang dimana pinjaman darurat tersebut ditujukan untuk menopang perekonomian. Ketidaksepakatan tersebut muncul ketika Mnuchin memberikan surat cintah kepada Powell terkait dengan pengembalian uang yang diberikan sebelumnya oleh pemerintah kepada Bank Sentral sehingga dapat memberikan pinjaman kepada pasar untuk menopang perekonomian. Beberapa menit sebelumnya, The Fed mengeluarkan pernyataan terkait dengan langkah langkah yang lebih lengkap hingga tahun 2021 mendatang. Sebetulnya hal ini cukup menyedihkan, karena ditengah situasi dan kondisi saat ini, Amerika membutuhkan bantuan pemerintah untuk bekerja sama dan mendorong pemulihan perekonomian menjadi lebih baik. Apalagi Amerika saat ini masih menemukan jalan buntu terkait dengan stimulus fiscal. Akibatnya ditengah situasi dan kondisi saat ini, membuat pelaku pasar dan investor menjadi khawatir bahwa perseteruan antara Mnuchin dan Powell dapat menganggu pasar dan menghambat pemulihan ekonomi. Sebelumnya Steven dan Powell selalu bekerja sama, baju membahu untuk memperbaiki perekonomian ketika krisis mulai muncul ke permukaan. Keduanya kerap kali muncul dihadapan congress dan bekerja saling melengkapi satu sama lain untuk memastikan stabilitas pasar terjaga. Steven dan Powell juga bersama membuat Undang Undang penyelamatan Cares Act pada bulan March 2020 kemarin dengan mengalokasikan uang tunai bagi pemerintah untuk membiayai dana cadangan The Fed untuk melakukan beberapa kebijakan dari The Fed. Mnuchin memaksa meminta uangnya kembali karena alasannya pasar sudah tidak butuh kembali sehingga tidak memerlukan bantuan hingga bulan depan. Namun beberapa program tetap ingin di lanjutkan selama 90 hari mendatang. Program tersebut yang berhubungan dengan kredit bagi para perusahaan dan pinjaman kepada usaha kecil dan menengah. Mnuchin mengatakan bahwa pasar telah pulih secara signifikan, sehingga para perusahaan tidak membutuhkan pinjaman, namun justru membutuhkan dana hibah yang dimana hibah tersebut justru ditentukan oleh congress. Sebagai informasi yang diminta akan berakhir adalah; 1. Primary Market Corporate Credit Facility, 2. Secondary Market Corporate Credit Facility, 3. Municipal Liquidity Facility, 4. Main Street Lending Program, 5. Term Asset-Backed Securities Loan Facility. Sedangkan yang diminta untuk perpanjangan hari adalah program; 1. Commercial Paper Funding Facility, 2. Money Market Mutal Fund Liquidity Facility, 3. Primary Dealer Credit Facility, 4. Paycheck Protection Program Liquidity Facility. Mnuchin mengatakan bahwa alasan dirinya menarik kembali berbagai program hanyalah berdasarkan ketentuan dari Undang Undang Cares Act, dan tidak menutup kemungkinan apabila dibutuhkan maka program tersebut dapat dijalankan kembali baik dengan dukungan dari kongres ataupun dari Kementrian Keuangan. Sejauh ini dikhawatirkan perseteruan antara Mnuchin dan Powell justru membuat perekonomian di Amerika kian semakin tidak menentu, apalagi sebelumnya Presiden Fed Bank of Dallas Robert Kaplan mengatakan apabila mereka itu berseteru justru membuat potensi tingkat pertumbuhan ekonomi Amerika pada tahun depan mengalami penurunan. Apalagi keputusan terkait dengan stimulus masih menggantung hingga hari ini. The Fed masih terus memberikan kelonggaran kepada beberapa persyaratannya sehingga dapat mendorong bank dan usaha kecil untuk dapat berpartisipasi dalam program tersebut. Powell pada pekan lalu sebetulnya sudah mengatakan bahwa dirinya belum akan menghentikan fasilitas tersebut, karena biasanya beberapa Bank Sentral masih terus mempertahankan beberapa fasilitasnya ketika krisis melanda. Perjuangan Powell juga didukung oleh Kamar Dagang Amerika yang mengatakan bahwa keputusan Mnuchin harusnya dipikirkan ulang. Kamar Dagang Amerika mengatakan bahwa program program tersebut haruslah diperpanjang untuk masa depan, dan meminta kongres untuk memberikan bantuan tambahan kepada mereka yang membutuhkan, pengusaha, pekerja, dan industry Amerika yang masih dalam keadaan menderita. Apabila semua fasilitas tersebut dihentikan, maka akan membuat The Fed menyiapkan rencana terkait dengan kebijakan lainnya pada pertemuan pada bulan December mendatang. Apabila kelak nanti Biden dilantik, maka Biden dapat memilih untuk memperbaharui dan memperpanjang fasilitas tersebut dan memaksa kongres untuk memberikan izin terkait dengan stimulus yang baru. Biden sebelumnya sudah membuat keputusan terkait dengan nominasi untuk Menteri Keuangan. Sejauh ini tentu pelaku pasar dan investor juga akan memperhatikan sejauh mana cabinet yang akan dipimpin oleh Biden kedepannya, karena tentu sedikit banyak orang yang akan menempati hal tersebut akan mempengaruhi setiap kebijakan yang dibuatnya. Yang menarik adalah 1 hari setelah Mnuchin mengatakan bahwa program tersebut lebih baik dihentikan, dirinya memberikan pembelaan bahwa Kementrian Keuangan dan The Fed memiliki kekuatan yang cukup untuk terus mendukung perekonomian. Mnuchin mengatakan bahwa pasar masih nyaman karena Kementrian Keuangan masih memiliki kapasitas untuk menopang. Mnuchin mengatakan bahwa dirinya merasa tidak perlu untuk membeli obligasi korporasi kembali. Sebetulnya berapa sih uang yang diminta kembali oleh Mnuchin? Nilainya sebesar $455 miliar, sebetulnya kenapa uang tersebut ditarik? Ternyata untuk digunakan belanja di tempat lain. Meskipun The Fed sekali lagi mengatakan bahwa alangkah bijaksana apabila program tersebut tetap terbuka meskipun tidak digunakan untuk menopang perekonomian yang masih rapuh. Well, akhirnya sesuai keinginan Mnuchin, The Fed akan memenuhi pengembalian dana yang tidak terpakai tersebut dan akan terus mendukung 4 program yang masih berjalan untuk mengurangi kecemasan di pasar. Powell mengatakan akan mengatur pengembalian uang tersebut yang sebelumnya dikembalikan untuk di alokasikan kepada program yang lain. Powell sendiri mengakui otoritas Department Keuangan dalam keputusan tersebut, karena dalam Cares Act disana disebutkan bahwa Cares Act memberikan otoritas tunggal kepada Menteri Keuangan untuk melakukan investasi tertentu dalam fasilitas pinjaman darurat yang dijalankan oleh The Fed, dan The Fed memiliki batasan yang telah ditentukan dalam undang undang. Tidak sampai disitu, Powell juga mengatakan kepada Kementrian Keuangan untuk kembali mempertimbangkan agar The Fed dapat menggunakan dana yang berbeda dengan dana yang dikembalikan kepada Kementrian Keuangan, agar dana tersebut dapat digunakan untuk mengotorisasi beberapa program yang tidak lagi berjalan pada tahun depan. Powell meminta dana yang bukan termasuk dalam Cares Act harus tetap berada di Exchange Stabilization Fund dan selama pengunaan dana tersebut diizinkan dalam undang undang, maka The Fed dapat memanfaatkan fasilitas pinjaman tersebut agar dapat digunakan oleh The Fed untuk menjaga stabilitas keuangan dan mendukung perekonomian. ESF tersebut bernilai sekitar $75 miliar sebelum kehadiran Cares Act, dan nilanya toh cukup lumayan daripada lumanyun. :D

2.YAA, UTANG LAGI DONK YAA

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai per 17 November 2020 mencapai Rp175,96 triliun. Realisasi tersebut tercatat mengalami peningkatan sebesar 5,08% yang didorong oleh penerimaan cukai. Berdasarkan jumlah ini, penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat telah mencapai 85,55% per 17 November 2020, dari target yang ditetapkan sebesar Rp205,68 triliun. Penerimaan cukai, sebagai penopang terbesar per 17 November 2020 telah mencapai Rp144,85 triliun, atau sebesar 84,12% dari total target sebesar Rp172,19 triliun. Total pajak yang berhasil dikumpulkan pemerintah per September tercatat sebesar Rp750,6 triliun, angka tersebut telah mencapai 62,6% dari target atau turun 16,9% YoY. Kami melihat penurunan ini berasal dari pajak migas mengalami kontraksi yang cukup dalam, yaitu 45,3% dibandingkan tahun lalu. Realisasi hingga September sebesar Rp23,6 triliun atau 74,2% dari target. Sementara itu, penerimaan pajak nonmigas masih sesuai dengan yang diproyeksikan oleh pemerintah yaitu sebesar sebesar Rp727 triliun atau terkontraksi 15,4% dan baru mencapai 62,3% dari target sebesar Rp1.167 triliun. Sehingga secara total per September 2020 penerimaan perpajakan sebesar Rp892,4 triliun atau mencapai 63,5% dari target Rp1.404,5 triliun. Potensi shortfall pajak cukup besar pada tahun ini dimana permintaan dari dalam negeri maupun dunia yang turun memberikan dampak yang signifikan pada kinerja ekonomi riil sektor. Beberapa lembaga dan pengamat perpajakan telah mengeluarkan outlook penerimaan pajak 2020. Menariknya angka paling optimis adalah minus 12%, sementara yang pesimistis di kisaran minus 14%. Kami melihat dua skenario tersebut sama-sama punya konsekuensi kepada kinerja anggaran. Pasalnya jika keduanya terjadi, realisasi penerimaan pajak hanya akan berada di angka Rp1.172,2 triliun – Rp1.145,5 triliun. Itu artinya pertumbuhan penerimaan pajak tahun depan berpotensi membengkak di kisaran 4,8% - 7,3%. Oleh sebab itu semakin besar justru kemungkinan penerbitan surat utang untuk menutupi gap yang terjadi tersebut. Namun dengan melimpahnya demand pada tahun depan, kami yakin supply yang dalam jumlah besar pun akan terserap dengan baik, apalagi saat ini investor asing masih belum bergerak sepenuhnya untuk berinvestasi di obligasi. Sekalipun investor asing tidak mau menyerap obligasi pemerintah tersebut, kami masih memiliki Bank Indonesia sebagai back up untuk memenuhi likuiditas untuk menjaga stabilitas perekonomian bersama dengan pemerintah.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah dan ditradingkan pada level 5.516 – 5.606,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Senin (23/11/2020).