Perubahan UU BPK Dinilai Rusak Lembaga Supreme Audit

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Rencana perubahan Undang Undang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dinilai hanya menitikberatkan pada masalah jabatan pimpinan dan dilakukan secara diam-diam, sehingga berpotensi merusak lembaga supreme audit.

Hal itu disampaikan oleh Peneliti Formappi, Lucius Karus di Jakarta, Jumat(20/11/2020)

“Saya melihat, agenda revisi UU BPK secara diam-diam ini lebih condong untuk mengamankan kepentingan elit semata, sementara kepentingan rakyat justru dipinggirkan,” ujar  dia.

Ia merinci, Adapun empat  poin usulan perubahan  yakni batas usia menjadi anggota BPK ditulis 70 tahun, periodeisasi dua kali seperti tertuang dalam UU BPK dihilangkan, anggota BPK dipilih secara collective collegial dan BPK boleh mengelola anggaran sendiri.

Menurut Lucius, usulan revisi UU BPK ini akan semakin merusak citra DPR karena DPR akan dianggap konsisten membentuk UU kontroversial yang justru menjadi biang kekacauan tata kelola pemerintahan. Bahkan politik legislasi DPR akan dinilai sebagai kedok untuk merusak tata kelola serta menjauhkan legislasi dari kepentingan publik atau rakyat.

“Sudah beberapa UU disahkan DPR periode ini yang kehadirannya selalu disambut kontroversi. Kontroversi lebih karena RUU yang disahkan DPR dinilai tidak berpihak kepada kepentingan rakyat,” ulasnya.

Karena itu, Lucius menentang keras perubahan UU BPK ini. Pasalnya, agenda perubahan ini sangat kental dengan kepentingan sepihak saja. Padahal, jika ingin perubahan, DPR harus melakukan proses sejak awal dengan membuka ruang diskusi untuk melihat persoalan-persoalan terkait kelembagaan BPK. Persoalan-persoalan itu harus disepakati terlebih dahulu sebelum memutuskan bagaimana pengaturan yang tepat.

Ia menambahkan, dalam penyusunan perubahan UU Strategi penyusunan agenda perubahan diam-diam menjadi modus utama pembahasan legislasi yang kontroversial belakangan ini.  

“Dan karena sudah ada fenomena UU BPK mau direvisi atas inisiatif sepihak BPK dan dilakukan diam-diam, saya kira sudah harus ditolak sejak awal niat itu,” tegasnya.

Dia menilai, agenda revisi UU BPK ini hampir pasti tidak bertujuan untuk membenahi BPK tetapi justru mau merusak Lembaga auditor negara ini.

“Ini (Revisi UU BPK-red), memang agenda pribadi. Itu yang lebih kelihatan. Dan karena pribadi maka kuncinya ada pada transaksi. Hanya transaksi yang bisa menjelaskan kepentingan pribadi ini bisa diterima oleh DPR dan Pemerintah,” ulasnya. 

Karena prubahan ini kental dengan agenda pribadi maka potensi usulan itu akan merusak BPK ke depannya menjadi sangat terbuka.

“Kalau revisi ini disetujui, maka BPK bukan hanya akan menampung Jompo saja, tetapi sekaligus memperlihatkan ke depan BPK yang akan kian tumpul dan tidak independent,” pungkasnya.