ANALIS MARKET (15/10/2020) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Melemah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Rabu, 14/10/2020, IHSG ditutup menguat 43 poin atau +0,85% menjadi 5,176. Sektor pertambangan, infrastruktur, aneka industri, industri dasar, perdagangan, keuangan bergerak positif dan menjadi kontributor terbesar pada penguatan IHSG kemarin. Investor asing membukukan pembelian bersih sebesar 39,48 miliar rupiah.

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.SINGAPORE BERTAHAN

Bank Sentral Singapore pada akhirnya memberikan isyarat bahwa mereka akan mempertahankan kebijakan moneternya untuk tidak berubah, dan bertahan dengan apa yang sudah ada untuk menjaga proses pemulihan ekonomi. Monetary Authority of Singapore seperti yang kami sampaikan kemarin masih menggunakan nilai tukar sebagai salah satu alat utamanya dibandingkan adjustment tingkat suku bunga. Bank Sentral juga akan terus mempertahankan kebijakan akomodatifnya dalam beberapa waktu kedepan untuk melihat pemulihan prospek ekonomi pada tahun 2021. Namun kecepatan proses pemulihan masih lemah karena permintaan global pun juga mengalami penurunan yang dimana diikuti dengan penurunan pasar tenaga kerja dan kekhawatiran mengenai wabah virus corona yang berkepanjangan. Keputusan tidak mengubah kebijakan moneter sudah sangat tepat menurut kami, apalagi ditengah situasi dan kondisi yang tengah terjadi saat ini, ketahanan untuk menjaga proses pemulihan menjadi salah satu point yang penting. Sejauh ini data perekonomian Singapore yang mengalami kenaikkan secara QoQ merupakan sebuah pertanda yang baik akan perekonomian Singapore, karena pertumbuhan ekonomi sebelumnya berada di -42.9% dan sekarang mengalami kenaikkan hingga 35.4%. Tentu hal tersebut merupakan sesuatu yang patut kita apresiasi, karena memberikan angin segar terhadap perekonomian Asia yang mulai mengalami pemulihan meskipun masih jauh secara di atas kertas. Namun disatu sisi, kami masih menginginkan sesuatu yang lebih dari Bank Sentral Singapore untuk menopang perekonomian kedepannya, meskipun data ekonomi hari ini sudah memberikan gambaran bahwa pemulihan mulai terjadi. Berikut ini beberapa informasi yang lebih detail terkait dengan tingkat pertumbuhan ekonomi di Singapore; 1. Manufacture tumbuh 2% pada kuartal ke 3 dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019 lalu yang sempat turun 0.8% dalam 3 bulan sebelumnya. 2. Kontruksi mengalami penurunan sebanyak 44.7% secara YoY meskipun diatas kertas mengalami perbaikan dari penurunan sebelumnya 59.9% pada kuartal ke dua. 3. Industri Jasa mengalami kontraksi 8%, masih lebih baik kalau kita bandingkan dengan dengan kuartal ke dua sebelumnya yang turun sebesar 13.6%. Perekonomian Singapore yang mengalami pemulihan mengikuti China akan menjadi salah satu point yang bagus untuk kita saat ini, karena baik China dan Singapore merupakan mitra dagang terpenting bagi Indonesia. Meskipun Jepang masih terseok seok, setidaknya ada China dan Singapore yang diharapkan dapat mengkatrol perekonomian Indonesia. Namun Semua kembali lagi, berhasil atau tidaknya Indonesia bangkit, bukan hanya dari pihak diluar, tapi juga kesiapan dan keyakinan kita untuk bangkit kembali khususnya di sisa tahun ini.

2.SEBUAH CATATAN IMF UNTUK KAMU

Setelah merevisi target pertumbuhan ekonomi pada 2020, IMF juga menyampaikan catatan untuk menyelesaikan pandemic virus corona. IMF menilai kebijakan fiskal yang berlebihan tidak cukup dalam menangani dampak virus corona. Berdasarkan data dukungan fiskal global telah mendekati US$12 triliun untuk menopang krisis kesehatan yang kini berkembang menjadi krisisi ekonomi akibat virus corona. Masifnya stimulus fiskal yang dikeluarkan oleh bank sentral dan otoritas keuangan global yang telah mendorong pemotongan suku bunga yang ekstensif, suntikan likuiditas, dan pembelian aset oleh bank sentral untuk membantu menyelamatkan hidup dan mata pencaharian serta mencegah bencana keuangan yang lebih besar. Kepala Ekonom Dana Moneter Internasional Gita Gopinath menilai masih banyak yang harus dilakukan untuk memastikan pemulihan yang berkelanjutan. Pertama, kolaborasi internasional yang lebih besar diperlukan untuk mengakhiri krisis kesehatan ini. Kemajuan luar biasa sedang dibuat dalam pengembangan tes, perawatan, dan vaksin, tetapi hanya jika negara-negara bekerja sama secara erat maka akan ada produksi yang cukup dan distribusi yang luas ke semua bagian dunia. IMF memperkirakan jika solusi medis dapat tersedia lebih cepat dan lebih luas, hal itu dapat menyebabkan peningkatan kumulatif dalam pendapatan global hampir US$9 triliun pada akhir 2025, sehingga dapat meningkatkan pendapatan di semua negara dan mengurangi perbedaan pendapatan. Kedua, IMF melihat kebijakan harus didorong secara agresif dan fokus pada upaya membatasi kerusakan ekonomi yang berkepanjangan akibat krisis ini. Untuk mencegah kebangkrutan skala besar dan memastikan pekerja dapat kembali ke pekerjaan yang produktif, perusahaan yang rentan tetapi layak harus terus menerima dukungan. Jika memungkinkan, dukungan dapat dilakukan melalui penangguhan pajak, moratorium pada layanan hutang, dan suntikan modal. Seiring waktu dan dengan menguatnya pemulihan, Gita menegaskan kebijakan harus bergeser untuk memfasilitasi realokasi pekerja dari sektor-sektor yang cenderung menyusut dalam jangka panjang ke sektor-sektor yang sedang tumbuh, sebagai contoh ia menyebutkan e-commerce sebagai sector yang sedang bertumbuh. Terakhir, kebijakan harus dirancang dengan tujuan menempatkan ekonomi pada jalur pertumbuhan yang lebih kuat, adil, dan berkelanjutan. Gita mengungkapkan pelonggaran kebijakan moneter global, meskipun penting untuk pemulihan, harus dilengkapi dengan langkah-langkah untuk mencegah penumpukan risiko keuangan dalam jangka menengah, dan independensi bank sentral harus dijaga dengan segala cara. Pembelanjaan fiskal yang diperlukan dan jatuhnya output telah mendorong tingkat utang negara global mencapai rekor 100% dari PDB global. Meskipun suku bunga rendah dan proyeksi rebound dalam pertumbuhan pada tahun 2021 akan menstabilkan tingkat utang di banyak negara, Gita melihat semua negara akan mendapat manfaat dari kerangka fiskal jangka menengah yang tepat untuk memberikan keyakinan bahwa utang tetap berkelanjutan. Ia juga menambahkan investasi di bidang kesehatan, infrastruktur digital, infrastruktur hijau, dan pendidikan dapat membantu mencapai pertumbuhan yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan di masa yang akan datang. Selain itu, upaya memperluas jaring pengaman sosial dapat memastikan kelompok yang paling rentan terlindungi seraya tetap mendukung aktivitas jangka pendek. IMF juga mengatakan bahwa akan ada kenaikkan angka kemiskinan secara tajam untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 20 tahun terakhir karena pendapatan masyarakat yang terus mengalami penurunan. Perekonomian akan dihadapkan dengan tingkat penurunan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga dibutuhkan perjuangan yang lebih besar untuk keluar dari resesi. Perekonomian akan menjadi lebih lambat, tidak merata, dan diiringi dengan ketidakpastian. Tingkat pekerja informal yang tinggi akan membuat daya saing menjadi berkurang, sehingga diperkirakan kesenjangan perekonomian akan semakin terlihat. IMF memperingatkan kembali untuk terus memberikan dukungan terhadap hal tersebut dengan memberikan stimulus yang lebih besar meskipun penurunan tersebut sudah dilakukan langkah langkah antisipasi seperti beberapa kebijakan yang diberikan untuk menopang perekonomian. Stimulus yang belum pernah terjadi sebelumnya pun akhirnya diciptakan untuk memberikan dukungan terhadap situasi dan kondisi keuangan setiap negara yang mengalami penurunan, khususnya di negara maju dan negara berkembang. Pembuat kebijakan di masing masing negara harus tetap memberikan stimulus, dan apabila memungkinkan kebijakan moneter masih harus dipertahankan hingga 2025 untuk meringankan pembayaran utang bagi negara yang memiliki hutang. Revisi ekonomi global yang mengalami perbaikan akan menjadi angin segara bagi pertumbuhan ekonomi kuartal 3 dan 4 agar mampu untuk dapat secepatnya keluar dari situasi dan kondisi saat ini. Pemulihan ekonomi dunia, mungkin akan mendapatkan angin segar dan dorongan dari pemulihan perekonomian China, namun bagi sebagian besar negara, termasuk Amerika harus menunggu setidaknya hingga tahun 2022 untuk melihat keberhasilan pemulihan ekonomi.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah dan ditradingkan pada level 5,065 – 5,213,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Kamis (15/10/2020).