LMAS Targetkan Kenaikan Angka Penjualan Sebesar 7,5 Persen di 2020

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Limas Indonesia Makmur Tbk (LMAS) menargetkan kenaikan angka penjualan sebesar 7,5 persen di tahun 2020 ini.

Menurut Direktur LMAS, Edwin Lim, beberapa langkah strategis dilakukan perseroan untuk mencapai target tersebut, antara lain; dengan menggenjot penjualan produk software pemantau perdagangan saham secara real time atau Stock Watch dan produk Stock Widget yang menyasar emiten-emiten baru.

“Kami menjualnya ke emiten baru, dan sudah ada beberapa emiten plat merah yang memakai produk kami, seperti PT PP Tbk, PT PP Properti Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk,” jelas Edwin, usai acara public expose insidentil, di BEI, Kamis (16/01).

Ditambahkan, saat ini, perseroan juga sedang menggarap pilot project baru untuk pengembangan produk CRM (Customer Relationship Management).

“CRM lebih spesifik ke broker atau sekuritas lini produk baru kita yang kita harapkan bisa support revenue kita di tahun-tahun mendatang,” kata Edwin.

Dikesempatan yang sama, Sekretaris Perusahaan LMAS, Baso Amir mengungkapkan, perusahaan yang bergerak di bidang terminal data dan informasi keuangan real time ini juga akan mendorong pertumbuhan kinerja pada anak usaha yaitu PT Geotech System Indonesia (GSI) yang sebanyak 60 persen sahamnya dimiliki LMAS.

Anak usaha ini bergerak dalam bidang penyedia perangkat keras dan lunak serta jasa konsultasi teknologi komunikasi minyak dan gas bumi dan pembangkitan.

Sementara itu, pada 9 Januari 2020 lalu, Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham LMAS di pasar reguler dan pasar tunai terkait peningkatan signifikan harga saham LMAS.

“Mengenai kenaikan harga saham LMAS, sepenuhnya merupakan proses mekanisme pasar, tidak ada intervensi langsung dari perseroan,” sahut Edwin.

Sebagai informasi, per September 2019 LMAS mencatat penjualan sebesar Rp 134,57 miliar atau turun 2,24 persen dibanding periode sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp 137,66 miliar.

Kendati penjualan turun, namun perseroan masih mampu membukukan laba bersih Rp 5,17 miliar atau tumbuh 544,21 persen dibanding periode sama pada tahun sebelumnya yang mencatatkan kerugian sebesar Rp 951 juta.