ANALIS MARKET (14/1/2020) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Menguat

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Senin 13/01/2020 kemarin, IHSG ditutup menguat 21 poin atau 0,34% menjadi 6.296. Sektor aneka industri, barang konsumsi, infrastruktur, properti, dan keuangan bergerak positif dan menjadi kontributor terbesar pada kenaikan IHSG kemarin. Investor asing membukukan pembelian bersih sebesar 251 miliar rupiah.

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari:

1.DARI AMERIKA UNTUK CHINA

Amerika tengah memberikan hadiah kesepakatan untuk China menjelang penandatangan kesepakatan yang akan berlangsung pada tanggal 15 January nanti. Amerika mencabut penunjukkan terhadap China yang sebelumnya dianggap sebagai manipulator mata uang, dengan mengatakan bahwa China telah membuat komitmen yang dapat ditegakkan untuk tidak mendevaluasi Yuan dan China telah setuju untuk mempublikasikan informasi nilai tukar. Perubahan sikap Amerika ini diuraikan dalam laporan valuta asing semi tahunan yang dikeluarkan dari Departemen Keuangan Amerika yang sebelumnya dilaporkan kepada Kongres, dan hasil tersebut keluar 2 hari sebelum Amerika dan China menandatangani kesepakatan tersebut. Didalam dokumen tersebut mitra dagang utama Amerika hampir tidak ditemukan dalam 20 mata uang yang sedang dipantau akan adanya kemungkinan manipulasi. Swiss ditambahkan ke dalam daftar pemantauan, sementara China, Jepang, Korea, Jerman, Italia, Iralndia, Singapura, Malaysia, Vietnam masih tetap ada. Meskipun dalam pemantauan, namun tampaknya label manipulator tersebut di hapuskan oleh Amerika terhadap China. Amerika juga menambahkan bahwa China telah membuat komitmen yang dapat ditegakkan untuk menahan diri dari devaluasi yang kompetitif, sembari mempromosikan transparansi dan akuntabilitas. Alhasil Yuan bergerak menguat dalam kurun waktu 6 bulan, penguatan ini ditambah dengan hadirnya berita yang diberikan oleh Amerika terkait dengan mata uang. Sebelumnya penunjukkan manipulator mata uang terhadap China yang muncul namun tidak disertai hukuman langsung dapat mengguncang pasar keuangan. Kebijakan mata uang juga muncul sebagai alat negosiasi baru dari Trump dalam menulis ulang peraturan perdagangan global yang dimana katanya dapat merugikan bisnis dan konsumen Amerika. Trump juga telah membuat kebijakan pertukaran mata uang asing sebagia bagian penting dari perjanjian perdagangan dengan Meksiko, Kanada, Korea Selatan, dan China. Departement Keuangan juga merilis beberapa pernyataan, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut; 1. Swiss akan dikembalikan ke daftar pemantauan, karena ada pembelian valuta asing yang meningkat tajam. Hal ini yang membuat Amerika akan meminta para pejabat untuk menerbitkan data intervensi lebih sering. 2. Irlandia dapat dihapus dari daftar pemantauan dalam laporan berikutnya, dan diharapkan dapat terjadi pada bulan April. 3. Thailand dan Taiwan tidak secara resmi masuk ke dalam daftar pemantauan, tetapi hampir melanggar batas. 4. Vietnam melakukan intervensi yang cukup sering, tetapi telah secara kredibel menyampaikan kepada Departement Keuangan bahwa pembelian valuta asing yang dilakukan oleh Vietnam, diperlukan untuk membangun kembali cadangannya. Kami melihat bahwa sejauh ini meskipun China diberikan label oleh Amerika terkait dengan, namun hal ini sesungguhnya tidak berdasar juga. Mengapa demikian? Karena IMF pernah mengatakan bahwa Yuan cukup dihargai dan tidak ada bukti manpulasi. Mata uang China yang melemah juga bisa dikaitkan dengan perlambatan pertumbuhan. China juga tidak memenuhi kriteria yang diuraikan dalam Undang Undang Amerika tahun 2015, karena secara resmi telah menunjuk suatu Negara sebagai manipulator mata uang. Mnuchin justru sebaliknya malah bergantung pada Undang Undang perdagangan tahun 1988 yang memiliki definisi yang lebih longgar tentang manipulasi mata uang. Lagipula pengumuman yang disampaikan oleh Amerika pada Agustus lalu juga dibuat dalam siaran pers, diluar dari penerbitan normal laporan. Kami melihat hal ini sebagai sebuah permainan dan alat yang digunakan oleh Amerika untuk menekan China yang dimana kala itu tensi trade war sedang dalam posisi yang cukup tinggi, sehingga sebetulnya pencabutan label manipulator pun sebetulnya hanyalah permainan dari Amerika. Namun marilah kita mengapresiasi langkah Amerika ini karena langkah ini membuat beberapa indeks utama Amerika kembali mencetak rekor baru. Tentu hal ini memberikan gambaran bahwa tampaknya aura positif sudah mulai dirasakan menjelang kesepakatan. Well, marilah kita berdoa bersama bahwa kesepakatan akan ditandatangani tanpa paksaan dari kedua belah pihak sehingga memberikan sentiment yang lebih positif lagi pekan ini.

2.CERITA TENTANG NIKEL

Dalam satu tahun belakangan ini bermunculan issue terkait para pemain nikel yang disebut memilih untuk menghentikan kegiatan penambangan dan produksinya seiringan dengan berlakunya larangan ekspor bijih nikel mulai 1 Januari 2020. Hal tersebut juga mendapat respon negatif dari pergerakan harga Nickel sejak September 2019, dimana harga tertinggi mencapai 18.842 dan telah turun sebesar 24.40% jika kita kalkulasikan pada harga saat ini. Issue terkait penghentian kegiatan penambangan dari Nickel diambil setelah harga beli dari pemilik smelter masih belum sesuai dengan harapan penambang dimana harga saat ini dinilai lebih rendah, selain itu biaya operasional yang lebih tinggi ditambah dengan adanya kenaikan dari royalty untuk bijih nickel dari 5% menjadi 10%. Masih banyak perusahaan tambang Nickel yang masih belum memiliki smelter, namun sebagian besar juga masih ada yang sedang membangun smelter dengan asumsi dapat beroperasi pada tahun 2022. Kami melihat saat ini perusahaan tambang nickel yang tidak memiliki smelter berpotensi diakusisi oleh pemain besar yang memiliki permodalan kuat, sehingga kekuatan Indonesia terkait eksportir nickel di dunia menjadi semakin kuat. Saat ini Indonesia telah menyumbang 20% eksportir nickel dunia dan diharapkan apabila hasil nickel yang diolah tersebut dapat meningkatkan kualitas harga sehingga berdampak pada pendapatan baik perusahaan tambang maupun negara.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat ditradingkan pada level 6.278 – 6.317,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Selasa (14/1/2020).