ANALIS MARKET (12/9/2019) : IHSG Berpeluang Menguat dan Ditradingkan pada Level 6.352 – 6.430

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, seperti biasa, sentiment yang menjadi sorotan pelaku pasar di awali dari China yang dimana akan mulai menerapkan langkah langkah untuk mengurangi dampak perang dagang.

Langkah langkah tersebut akan menguntungkan beberapa perusahaan baik dari Amerika maupun dari China.

Dan pada akhirnya, China telah meluncurkan daftar pertama untuk pembebasan tarif atas barang barang dari Amerika, termasuk minyak pelumas dasar. Komite Tarif Dewan Negara mengatakan daftar pengecualian tersebut juga termasuk obat Kanker dari Amerika dan obat nyamuk.

Pengecualian ini akan dimulai 17 September 2019 hingga 16 September 2020, dan tentu saja daftar pengecualian ini bukan menjadi yang terakhir, karena China akan terus meninjau beberapa hal lainnya untuk pembebasan tarif dan mengumumkan tahapan daftar lainnya nanti.

Tentu hal ini akan menjadi sisi yang positif bagi pasar, karena satu dari kedua Negara tersebut sudah mulai mengalah.

Mengalah tentu bukan berarti kalah. Mengalah untuk kemenangan, itulah yang disebut dengan berjiwa besar.

Hal ini akan direspon positif oleh pasar hari ini, karena akan menjadi vitamin yang ditunggu oleh para pelaku pasar dan investor. Pengecualian yang akan dilakukan akan mencakup 16 kategori produk senilai $1.65m.

Pertemuan dengan antara Wakil Menteri akan dimulai dalam waktu dekat ini, sebelum pada akhirnya kedua delegasi akan bertemu pada bulan October nanti.

Ditengah kemesraan yang timbul, Trump lagi lagi melanjutkan serangan terhadap The Fed yang dimana Trump menuduh The Fed telah memperlambat perekonomian Amerika.

Trump juga mengatakan bahwa The Fed harus memangkas tingkat suku bunga menjadi nol atau bahkan menjadi negative.

Tidak hanya itu saja, Trump mengatakan bahwa utang juga harus diperpanjang. Sebagai informasi Amerika memiliki utang $22.5T, dimana $16.7T diantaranya dipegang oleh public.

Beban utang telah tumbuh $2.6T atau 13% dibawah pemerintahan Trump.

Trump mengatakan tidak akan ada inflasi.

Powell dan The Fed tidak melakukan apa yang telah dilakukan Negara lain, yaitu melakukan penurunan tingkat suku bunga.

Dan kesempatan itu telah terlewat akibat keras kepala Powell dan The Fed.

Fokus utamanya saat ini adalah pertemuan FOMC meeting yang akan berlangsung pekan depan, karena disana ada potensi pemangkasan tingkat suku bunga meskipun masih belum pasti akan terjadi.

Pernyataan Trump langsung ditanggapi oleh Gubernur Fed Lael Brainard yang dimana mengatakan bahwa saya tidak melihat suku bunga negative akan menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi kami saat ini.

Powell dan rekan rekannya enggan untuk mengikuti Eropa dan Jepang dimana tingkat suku bunganya berada di area negative, tidak peduli apapun yang dilakukan oleh Trump ataupun seberapa buruk ekonomi Amerika nantinya.

Para pelaku pasar dan investor diperkirakan akan wait and see hari ini karena akan focus terhadap pertemuan Bank Sentral Eropa yang akan diadakan hari ini.

Kami melihat bahwa ada kesempatan dimana Bank Sentral Eropa akan menurunkan tingkat suku bunga, dan berpotensi untuk menawarkan lebih banyak stimulus, setidaknya 0.5% penurunan tingkat suku bunga berpotensi terjadi.

Tentu saja, tidak sampai disitu, kami juga menantikan langkah apa yang akan diambil oleh Bank Sentral Eropa terkait dengan Quantitative Easing tahap 2 nanti, karena tentu saja akan mempengaruhi arus capital inflow yang mungkin saja terjadi di Emerging Market tidak terkecuali Indonesia.

Dari dalam negeri, Bappenas tengah menyusun rencana pengembangan 10 kita metropolitan baru guna mendukung pertumbuhan 5.7% sebagai target jangka panjang.

Strategi tersebut dinilai sesuai dengan RPJMN 2020 – 2024 yang mentargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5.4% - 6.0%.

Kami melihat upaya tersebut lebih ke pemerataan pendapatan perkapita, dimana saat ini Indonesia tersentralisasi pada area tertentu sedangkan jumlah penduduk yang terus bertambah namun pembangunan infrastruktur belum merata.

Proses urbanisasi dan pembangunan kota baru dengan disertai infrastruktur yang kuat dinilai menjadi solusi untuk mempertahankan pertumbuhan jangka panjang.

Mengintip dari strategi RPJMN 2020-2024 10 kota metropolitan baru 6 di antaranya berada di luar pulau Jawa.

Kota tersebut di antaranya Banjarmasin, Medan, Palembang, Makassar, Manado, dan Bali. Sisa 4 kota metropolitan lain berada di Jawa yaitu DKI Jakarta sebagai kota bisnis, Bandung, Semarang dan Surabaya.

Untuk mencapai target pertumbuhan tersebut, investasi yang dibutuhkan sekitar Rp36.595,6 triliun sampai Rp37.447,6 triliun.

Oleh sebab itu, saat ini pemerintah menyusun road map rencana pembiayaan yang akan ditawarkan kepada pihak swasta untuk terlibat dalam pembiayaan.

“Secara teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat dan ditradingkan pada level 6.352 – 6.430,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Kamis (12/9/2019).