ANALIS MARKET (11/9/2019) : IHSG Berpotensi Bergerak Melemah

Foto : Ilustrasi (Ist)

Pasardana.id - Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, berita di pagi hari ini, Rabu (11/9/2019), akan kita awali dari Amerika, dimana Trump akan menindak keras pengiriman Fentanyl dari China dan barang barang palsu lainnya. 

Menurut Trump, hal ini bertujuan untuk menekan China untuk membantu Amerika untuk memerangi epidemi opioidnya. 

Sebelumnya Washington telah meminta China karena tidak berbuat cukup banyak untuk mengekang aliran Fentanyl, obat penghilang rasa sakit yang sangat adiktif yang berperan dalam epidemi opioid yang dimana membuat kematian ribuan orang di Amerika. 

Namun sisi yang menarik dari cerita ini adalah, Trump menghubungkan masalah ini dengan kesepakatan perdagangan, dimana Trump mengatakan bahwa Presiden Xi Jinping gagal untuk menghentikan penyeludupan Fentanyl buatan China sebagai alasan untuk menaikkan tarif ekspor dari China yang terjadi pada bulan ini. 

Trump mengatakan, Xi setuju sebagai bagian dari gencatan senjata sementara pada bulan Desember 2018, untuk menunjuk Fentanyl sebagai zat yang dikendalikan. 

Namun lagi lagi Trump berulang kali mengatakan bahwa Xi telah melanggar kata katanya. USTR tahun ini kembali menempatkan China masuk dalam daftar pantauan prioritas dalam laporan tahunan yang dimana dalam laporan tersebut terdapat praktik kekayaan intelektual di Negara lain. 

China terus menjadi sumber penghasil barang palsu terkemuka di dunia pada laporan bulan April. 

Ahli strategi, David Roche yang berada di Amerika mengatakan bahwa China akan memenangkan perang dagang dengan Amerika, dan pada akhirnya akan menghilangkan ketergantungannya terhadap teknologi Amerika. 

China tidak akan mempercayai Amerika lagi pada akhirnya, dan tentu saja China akan mencapai kemerdekaan teknologinya dalam kurun waktu 7 tahun. 

David juga mengatakan bahwa ini bukan hanya tentang perdagangan, tapi juga tentang teknologi, ini tentang inovasi dan ide yang mengalir dengan bebas. Ini merupakan konflik yang sangat luas, dan hal itu tidak akan hilang. 

China juga bertujuan untuk membuat Made In China dalam kurun waktu hingga 2025, dan bertujuan untuk menghasilkan 40% dari semikonduktor pada tahun 2020, dan 70% pada tahun 2025.

David juga mengatakan bahwa akhir Perang dagang tidak terlihat, meksipun pembicaraan dijadwalkan untuk dilanjutkan pada bulan October nanti.

Kami juga melihat bahwa perang dagang antara Amerika dan China tampaknya saat ini sudah bukan lagi merupakan mengenai tariff semata. Tapi sudah menjamah kepada konflik yang lebih luas. 

China juga mengatakan bahwa Amerika terlalu ikut campur dalam masalah yang terjadi di Hongkong. 

Tentu campur tangan Amerika jugalah yang membuat demonstran membawa bendera Amerika disana, dan demonstran juga yang meminta Amerika untuk terus menekan China terkait dengan tariff perdagangan. Waktu terus berlalu, dan tidak ada kesepakatan yang dicapai disana. 

Pada akhirnya ini menjadi decoupling. Dorongan Decoupling akan menjadi sangat berbeda dari keinginan Amerika untuk membuat China membuka lebih banyak ekonominya kepada perusahaan di Amerika. 

Sebaliknya, China mulai mengurangi ketergantungannya terhadap Amerika. Namun apabila China belum membuka ekonominya terhadap Amerika, maka Amerika akan melakukan diversifikasi terhadap sumber impornya.

Salah satunya yang telah terjadi adalah, ketika Google mengalihkan produksi smartphone Pixelnya dari China ke Vietnam, dan memindahkan perakitan speaker ke Thailand.

Tentu hal ini memberikan impact yang kurang baik terhadap perekonomian China, namun di satu sisi memberikan Negara lain kesempatan untuk bertumbuh akibat tariff yang dikenakan oleh Amerika terhadap China. 

Kita mampir sebentar jalan jalan ke Irak. Irak mengatakan bahwa Irak akan segera mematuhi pengurangan produksi OPEC setelah berulan bulan melakukan produksi berlebih. 

Produsen minyak mentah terbesar kedua dalam organisasi yang beranggotan 14 Negara ini sering di cap sebagai anak bermasalah oleh OPEC karena produksi yang berlebih bahkan ketika harga minyak tengah rendah. 

Dari dalam negeri, BI merilis data retail sales untuk bulan Juli 2019 yang mengalami peningkatan sebesar 2.4% YoY. 

Berdasarkan survei tersebut kenaikan Indeks Penjualan Riil ditopang oleh suku cadang, aksesori, kelompok makanan, minuman dan tembakau. 

Selain itu, BI juga menyatakan retail sales pada bulan Agustus diproyeksikan masih dapat tumbuh, hal tesebut berdasarkan prakiraan Indeks Penjualan Riil Agustus yang naik 3.7% YoY. 

Peningkatan tersebut diproyeksikan masih akan ditopang oleh penjualan kelompok suku cadang dan aksesori. 

Selain itu, kami juga melihat adanya faktor musiman seperti promosi menjelang kemerdekaan Republik Indonesia dan perayaan idul adha dapat berkontribusi terhadap retail sales Agustus nanti. 

Selain itu, BI juga memperkuat adanya indikasi dari tekanan kenaikan harga pada tingkat pedagang eceran dalam 6 bulan mendatang diperkirakan akan menurun. 

Kami melihat kenaikan harga pada tingkat pedagang kali ini akan lebih kecil dimana saat ini pemerintah sedang mengupayakan agar harga dipasaran tetap stabil guna stabilitas perekonomian dalam negeri terjaga. 

Proyeksi tersebut juga seiringan dengan upaya BI yang memproyeksikan inflasi hingga akhir tahun cenderung berada pada target.

“Secara teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah dan ditradingkan pada level 6.299 – 6.361,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (11/9/2019).