ANALIS MARKET (26/8/2019) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Melemah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, di pagi hari yang cerah ini, mungkin market hari ini tidak akan seindah itu.

Pasalnya, tensi telah meningkat antara China dan Amerika terkait perang dagang.

Pada akhirnya China tidak tinggal diam terkait dengan perbuatan yang dilakukan oleh Amerika, dan menurut kami apa yang dilakukan China pada dasarnya merupakan reflreksi dari apa yang dilakukan Amerika terhadap China.

Bukan satu atau dua kali Amerika mengancam untuk kembali menaikkan tarif, tapi untuk kesekian kalinya, dan pada akhirnya China tidak tinggal diam karena seperti yang sudah disampaikan sebelumnya bahwa China akan membela kepentingan rakyat dan harga diri China.

Akhirnya China memberlakukan tarif baru atas barang barang Amerika senilai $ 75 miliar terhadap mobil Amerika.

Chinese State Council mengatakan bahwa mereka telah memutuskan untuk memberikan tarif dalam 2 tahap, yang akan efektif pada tanggal 1 September dan 15 Desember, yang dimana tanggal tersebut bersamaan dengan tarif yang diberikan oleh Donald Trump terhadap China sebelumnya.

China akan memberikan tarif sebesar 25% kepada mobil Amerika dan 5% pada suku cadang dan komponen mobil, sebelumnya China telah menghentikan tariff ini pada bulan April lalu.

Akibat berita ini, saham dan dan imbal hasil Amerika jatuh atas berita tersebut. Sebagai pengingat, sebelumnya Trump akan memberikan tarif sebesar 10% pada $300 miliar barang China lainnya.

China mengatakan bahwa untuk menanggapi langkah langkah yang dilakukan oleh Amerika, China dipaksa untuk mengambil tindakan balasan. China hanya berharap bahwa Amerika akan terus mengikuti consensus pertemuan G20 lalu di Osaka yang dimana kembali kepada cara berkonsultasi yang baik dan benar, menyelesaikan perbedaan, dan bekerja keras dengan China untuk mengakhiri perang dagang.

Tarif yang diberikan China untuk Amerika akan mengenai produk Electronic termasuk cellphone, mesin termasuk semikonduktor. Seakan akan tidak terima dengan perbuatan China terhadap Amerika, Trump pada akhirnya murka. Sebetulnya menurut kami sesuatu yang lucu, ketika Amerika menekan China dan melakukan ini terhadap China, Amerika berharap bahwa China tidak boleh membalas perbuatan Amerika.

Padahal selama ini China juga bersedia untuk duduk Bersama Amerika untuk membahas mengenai perdagangan.

Untuk pertama kalinya, Trump mengatakan bahwa Xi merupakan musuhnya. Sebelumnya meskipun Trump dan Xi masih belum mendapatkan kata sepakat, tapi Trump menghomati Xi sebagai teman dan rekan seperjuangan terhadap negara masing masing.

Namun Xi tidak sendirian yang disebut musuh dalam pernyataan Trump, masih ada Powell yang dianggap tidak membantu Trump dalam menyelesaikan perekonomian Amerika.

Xi seperti yang kita ketahui cukup jelas alasan Trump menganggap Xi sebagai musuh. Namun bagaimana dengan Powell?

Dalam pidatonya di Jackson Hole pada hari Jumat kemarin, yang dimana para pelaku pasar dan investor menanti sikap dari The Fed selanjutnya, Powell tidak memberikan petunjuk dimanapun.

Powell hanya mengatakan bahwa the Fed akan bertindak untuk menjaga fase ekspansi ekonomi saat ini.

Dan The Fed akan melakukan apapun yang dapat dilakukan untuk mempertahankannya.

Powell juga mengatakan bahwa ekonomi dekat dengan 2 tujuan, yaitu lapangan kerja yang penuh dan stabilitas harga.

Tantangan The Fed saat ini adalah apa yang dapat dilakukan kebijakan moneter untuk mempertahankan fase ekspansi tersebut, sehingga manfaat dari pasar pekerjaan yang kuat ini dapat terus meluas kepada mereka yang masih tertinggal sehingga dapat mendorong inflasi ke titik 2%.

Meskipun kebijakan moneter merupakan alat yang ampuh untuk mendukung pengeluaran konsumen, investasi binsis, dan kepercayaan public, namun kebijakan moneter tidak menyediakan pedoman dalam perdagangan internasional yang saat ini sedang dialami oleh Amerika dan China terkait dengan kesepakatan perdagangan.

Namun The Fed akan terus melihat peristiwa apa yang akan mungkin terjadi dan focus terhadap perkembangan perang dagang.

Bahkan cerita hangat mengenai inverted yield saja tidak dibahas oleh Powell kemarin, sehingga The Fed tidak melihat ada ancaman resesi disana.

Tidak hanya mengatakan Xi sebagai musuh, Trump juga akan menaikkan tarif kembali pada barang barang China senilai $250 miliar dari sebelumnya 25% menjadi 30% pada tanggal 1 October.

Dan akan meningkatkan produk lainnya senilai $300 miliar dari sebelumnya 10% menjadi 15% yang berlaku pada tanggal 1 September.

Perang menjadi semakin panas, yang tersisa hanyalah siapa yang paling kuat bertahan dia yang akan menang, meskipun keduanya tersakiti.

Trump menyayangkan sikap China yang menaikkan tariff meskipun kami juga membayangkan ketika China mungkin mengatakan hal yang sama terhadap Amerika.

Atas meningkatnya eskalasi ini perang dagang ini, Dow Futures turun 300 point, Nikkei 225 Futures di Jepang turun 2.6%, Hangseng Futures turun 2.4%, dan ini akan menjadi titik bagi pergerakan saham dan obligasi di pasar modal hari ini.

Fokus berikutnya adalah pertemuan G7 yang terjadi di France yang dimulai sejak Sabtu lalu.

Pertemuan itu terjadi sehari setelah Trump menaikkan tarif terhadap barang barang China.

Pertemuan G7 menyisakan cukup banyak ketegangan untuk memulai pertemuan tersebut.

Mulai dari hubungan perang dagang Amerika dan China, ketegangan antara Amerika dengan Iran dan Rusia, dan yang terpenting adalah Amerika dan Eropa yang saat ini masih terus bersikeras untuk menaikkan tarif pada industry otomotif di Eropa.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan kepada journalist bahwa dirinya akan memberitahu Trump untuk dapat menarik diri dari perang dagang dengan China. G7 terdiri dari Amerika, Jerman, France, Jepang, Kanada, Italia, dan Inggris. Kemungkinan besar pasar akan mengalami pergolakan hari ini.

Dari dalam negeri, upaya pemerintah untuk meningkatkan produktifitas sektor komoditas dalam hal memberikan nilai tambah pada produk dinilai cukup baik. Kali ini pemerintah melarang ekspor bijih nikel kualitas rendah dengan kadar 1.7% karena nilai ekspor yang akan dihasilkan hanya sekitar US$600 juta hingga US$700 juta.

Menurut data Kementrian ESDM produksi bijih nikel Indonesia mencapai 17 juta bijih selama 2018.

Umur cadangan berdasarkan produksi bijih yakni mencapai 154 tahun. Indonesia menempati urutan keenam negara penghasil nikel terbesar di dunia dengan memasok 23% kebutuhan dunia.

“Secara teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah dan ditradingkan pada level 6.186-6.290,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Senin (26/8/2019).