ANALIS MARKET (16/8/2019) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Cenderung Menguat

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pelaku pasar masih menyoroti sentiment dari ‘perang cinta’ antara Amerika dan China.

Ditengah peliknya permasalahan yang terjadi antara Hongkong dan China, Amerika muncul bukan sebagai penengah tapi sebagai ‘kompor meleduk’ yang berusaha untuk ikut campur permasalahan antara Hongkong dan China.

Trump terus menghubungkan kerusuhan Hongkong dengan pembicaraan kesepakatan perdagangan dengan Xi Jinping.

Trump dalam beberapa tweet terakhir membela keputusan tarifnya terhadap China dan meminta China untuk lebih manusiawi dalam menyelesaikan protes yang telah mencengkeram Hongkong selama lebih dari 2 bulan.

Trump juga menawarkan pertemuan pribadi dengan Xi Jinping terkait dengan penyelesaian masalah Hongkong.

Ada dua sisi yang diperlihatkan oleh Amerika dalam permasalahan yang terjadi di Hongkong. Amerika yang keepoh ingin menolong China menyelesaikan permasalahan Hongkong, ataukah Amerika justru mendukung demonstran di Hongkong untuk terus memberikan perlawanan terhadap China?

Beberapa kali terakhir Demonstran beraksi di Hongkong mereka mengibarkan beberapa atribut Amerika di sana sebagai sebuah symbol tentang kebebasan berekspresi.

Menyelesaikan perang dagang saja belum selesai, Amerika menggunakan lagi cara lain sebagai bentuk usaha untuk menyelesaikan permasalahannya dengan China.

Hal ini kami melihat sebagai sebuah bentuk kekusutan yang baru ditengah hubungan Amerika dan China yang masih belum selesai, masih harus ditambah lagi dengan adanya Amerika yang keepoh.

China menganggap Amerika sebagai tangan hitam dibekalang para demonstran di Hongkong. Sebagai akibat keepoh-nya Amerika terhadap urusan Hongkong, sekali lagi, mungkin untuk kesekian kalinya, China bereaksi bahwa urusan Hongkong adalah murni urusan China.

Kami kembali mendesak Amerika untuk segera berhenti mencampuri urusan Hongkong.

Kalau kita mundur kebelakang, kami berfikir bahwa Amerika bertindak terlalu jauh dengan melakukan pertemuan dengan beberapa tokoh di Hongkong.

Hal ini juga yang memberikan indikasi bahwa Amerika mendukung para demonstran yang terjadi di Hongkong yang dimana tentu saja hal ini akan menambah batu bara antara Amerika dan China yang terus memanas.

Atas keepoh-nya Amerika terhadap urusan Hongkong, hal ini justru disambut baik oleh demonstran di Hongkong yang mengatakan bahwa mereka mendapatkan dukungan dari Amerika, dan tentu saja hal ini baik karena demonstran di Hongkong mendapatkan perhatian International.

Intelijen Amerika masih terus memantau pergerakan pasukan China di dekat perbatasan Hongkong dan meminta semua orang untuk tenang.

Hal ini tentu saja menambah kisruh ditengah hubungan antara Amerika dan China yang sebelumnya saja sudah kisruh.

Tidak hanya itu saja, kembali ke permasalahan perang dagang, China menyebutkan bahwa naiknya tariff yang akan dikenakan oleh Trump terhadap China adalah pelanggaran perjanjian antara Trump dan Xi Jinping.

Namun demikian, satu statement yang meredakan ketegangan saat ini adalah bahwa Trump telah mendapatkan telepon dari Xi Jinping pada hari Kamis kemarin.

Trump juga mengatakan bahwa Ia telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dengan China yang seperti biasa Ia sebut lagi lagi lagi dan lagi produktif. China ingin melakukan sesuatu terkait dengan kesepakatan dagang tersebut.

Namun Trump juga mengingatkan bahwa segala sesuatu tentang kesepakatan harus dengan sesuai dengan ketentuan Amerika.

Atas dasar telephone antara Trump dan Xi, hal ini tentu memberikan impact kepada market untuk lebih tenang.

Fokus berikutnya adalah menanti petunjuk tentang bagaimana The Fed melihat ini semua sebagai bagian dari keputusan terhadap pemangkasan tingkat suku bunga nantinya. Powell akan berbicara pada tanggal 23 August di Jackson Hole, Wyoming.

Ditengah-tengah kuatnya indikasi resesi ekonomi di Amerika yang ditunjukkan oleh inversi yield yang semakin kuat, pernyataan Powell akan menjadi obat tentunya bagi para pelaku pasar dan investor untuk bagaimana menentukan sikap untuk menunggangi volatilitas saat ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rilisnya neraca perdagangan Indonesia Juli 2019 mengalami defisit sebesar US$ 60 juta.

Defisit tersebut dikarenakan ekspor Juli 2019 tercatat sebesar US$ 15,45 miliar sedangkan impor Juli 2019 sebesar US$ 15,51 miliar.

“Secara teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak cenderung menguat. IHSG sendiri ditradingkan pada level 6.194 - 6.322,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (16/8/2019).