ANALIS MARKET (17/7/2019) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, sentiment diperdagangan Rabu (17/7) pagi ini akan dimulai dari proses dagang antara Amerika dan China, yang tampaknya tidak akan selesai dalam waktu dekat.

Satu sisi, mungkin saja China mengulur waktu untuk menunda pembicaraan hingga pemilu Amerika tahun depan dapat terlaksana dengan harapan Presiden terpilih bukan Trump kembali.

Sisi yang lain adalah, Trump kembali memberikan ancaman bahwa apabila tidak terjadi kesepakatan, Trump akan memulai kembali dengan memberikan tarif impor China lainnya senilai $325 miliar.

Hal ini menurut kami apabila ancaman itu terlaksana, akan semakin memberatkan China untuk mau melakukan kesepakatan dagang, jangkankan kesepakatan, untuk bisa bertemu dan diskusi saja mungkin sudah sangat berat sekali.

Selain itu, dari pihak China, ditengah tengah pembicaraan melalui percakapan telepon antara Amerika dan China, tiba tiba China menambahkan anggota baru ke tim negosiasinya, yaitu Zhong Shan.

Zhong San seseorang dari China yang merupakan garis keras terhadap negosiasi perdagangan tersebut.

Zhong San juga menyampaikan statementnya mengenai Amerika di hadapan konfrensi pers kemarin, bahwa di sisi Amerika, mereka telah melakukan provokasi di bidang ekonomi dan perdagangan terhadap China dan melanggar prinsip prinsip WTO.

Ini merupakan contoh model Unilateralisme dan Proteksionisme. China akan menjunjung tinggi semangat pejuang kita dalam membela kepentingan Nasional bersama rakyat dalam membela system perdagangan multilateral.

Sejauh ini kesepakatan antara Amerika dan China baru berlangsung melalui telepon, tampaknya kesepakatan ini masih jauh dari harapan, dan sensitifitas yang mewarnai juga akan terus bertambah.

Kemajuan tahap pembicaraan masih jauh dari harapan kalau kami dapat menilainya, proses tersebut menurut kami tidak akan pernah usai, karena masing masing sesuai dengan egonya.

Dan kami melihat memang hal ini akan menyakitkan bagi China, namun hanya di awal. Setiap rasa sakit yang diberikan oleh Amerika, selama China mampu melewatinya, maka akan menjadikan China Negara yang lebih baik lagi kedepannya.

Proses kesepakatan dagang yang berlangsung lama ini, akan digunakan sebaik mungkin oleh China untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk dengan tidak adanya kesepakatan dengan Amerika.

Kami melihat ada potensi yang cukup besar, untuk China bergerak maju. Contoh yang paling terlihat adalah tatkala China dapat membuat Operating System ketika China tidak dapat lagi menggunakan Android sebagai system operasi dalam mobile phone mereka.

Trump juga mengatakan bahwa ia akan mengenakan tarif tambahan pada impor Tiongkok jika ia mau, akibat pernyataan Trump tersebut Saham kembali mengalami koreksi.

Kami masih memiliki tarif yang bisa kami berikan, tetapi saya berharap mereka tidak melanggar kesepakatan yang kita miliki. Trump memang menunda untuk memberikan ancaman kenaikan tarif, namun dengan catatan China melakukan pembelian terhadap barang pertanian milik Amerika.

Namum pembelian tersebut tidak kunjung terjadi, hal ini yang membuat situasi dan kondisi mungkin kembali memburuk.

Bulan Mei lalu, Amerika menuduh China mengingkari komitmen dalam rancangan kesepakatan yang dimana telah selesai hampir 90%, namun China mengatakan bahwa tidak akan ada kesepakatan kalau Amerika tidak menghapus semua tarif yang ada selama perang dagang berlangsung.

Beralih dari sana, pidato Powell di Paris mengatakan bahwa Bank Sentral akan terus memonitor perkembangan dengan hati hati terkait dengan resiko penurunan pertumbuhan di Amerika dan akan bertindak sesuai dengan yang diperlukan untuk mempertahankan fase ekspansi.

Hal ini menjadi cerminan bahwa pertemuan FOMC meeting pada akhir bulan nanti yang dimana ada potensi pemangkasan tingkat suku bunga menjadi sesuatu yang ditunggu oleh pasar.

Pernyataan sedikit saja, dapat membuat pergerakan pasar mengalami kenaikkan atau penurunan.

Dari dalam negeri, pemerintah menyampaikan realisasi APBN semester pertama 2019.

Dalam penyampaian ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), target tidak sesuai dengan target yang telah ditetapkan diawal tahun.

Melambatnya ekonomi global disebabkan akan kondisi perang dagang dan harga komoditas yang cenderung turun turut memberikan pengaruh terhadap APBN.

Selanjutnya defisit APBN diproyeksikan sebesar 1,93% dari PDB atau mencapai Rp.310.8 triliun sementara dalam UU APBN 2019 deficit ditargetkan 1,84% dari PDB atau mencapai Rp.296 triliun.

Kondisi tersebut tentunya berpotensi pemerintah untuk menambah utangnya.

“Secara teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah terbatas dan ditradingkan pada level 6.370-6.414,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (17/7/2019).