ANALIS MARKET (12/7/2019) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Mixed Cenderung Melemah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, dipenghujung akhir pekan yang cerah ini, kita akan mulai cerita dari risalah Bank Sentral Eropa yang dimana para pembuat kebijakan dari Bank Sentral Eropa yang telah bertemu pada bulan Juni lalu telah siap untuk memberikan lebih banyak stimulus untuk ekonomi Kawasan Eropa.

Tentu hal ini memberikan indikasi bahwa mungkin akan dilakukan penurunan tingkat suku bunga bulan ini.

Sejumlah laporan yang telah masuk mengenai ekonomi Eropa telah memburuk, dan dapat memberikan peluang pemberian stimulus lebih cepat daripada sebelumnya.

Mario Draghi menyampaikan bahwa apabila prospek perekonomian tidak membaik, maka hal itu sudah cukup untuk kami mengambil sebuah tindakan.

Ada kesepakatan yang lebih luas, mengingat ketidakpastian yang semakin tinggi yang kemungkinan akan bertambah luas di masa depan.

Dewan Pemerintah telah siap untuk memudahkan sikap kebijakan moneter lebih lanjut.

Pada akhirnya risalah ini kurang lebih sama seperti risalah The Fed kemarin, sehingga tentu hal ini memberikan implikasi positif terhadap emerging market ke depannya, karena pelonggaran kebijakan moneter akan mulai terjadi.

Mario mengatakan bahwa Bank Sentral Eropa bersedia untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga lebih lanjut atau berpotensi untuk mengubah pembelian asset jika itu diperlukan.

Pada bulan September nanti juga ada rencana untuk memberikan pemberi pinjaman dengan tambahan uang tunai namun dalam bentuk pinjaman jangka Panjang.

Pejabat Bank Sentral Eropa juga mengatakan bahwa inflasi terlihat menjauh dari target inflasi Dewan Pemerintahan.

Fokus selanjutnya akan beralih kepada pertemuan pada 24 – 25 July yang dimana diharapkan dapat menetapkan kebijakan serta memperbaharui proyeksi ekonomi mereka.

Sebagai informasi, Mario akan meninggalkan Bank Sentral Eropa pada bulan October nanti, Mario mungkin akan dikenang sebagai Presiden Bank Sentral Eropa yang tidak pernah menaikkan tingkat suku bunganya.

Dan saat ini Christine Lagarde sedang dalam proses untuk menggantikan posisi tersebut.

Jerome Powell dihadapan Komite Perbankan Senat hari Kamis (11/7) kemarin mengatakan bahwa Bank Sentral Amerika memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter karena hubungan antara inflasi dan tingkat penggangguran mulai terlihat lemah.

Dibawah tekanan dari Trump untuk menurunkan tingkat suku bunga bunga, mungkin telah menjadi alasan kuat bagi Powell untuk menurunkan tingkat suku bunga pada pertemuan Bank Sentral Amerika akhir bulan ini untuk mengimbangi pelemahan yang berasal dari global khususnya dalam bidang manufacture dan ketegangan perdagangan yang masih terus berlanjut hingga hari ini.

Pemaparan The Fed di hari kedua di hadapan Kongress berjalan dengan baik, Powell juga mengatakan bahwa ekonomi Amerika berada di saat yang baik.

Saat ini, para pelaku pasar dan investor berharap bahwa akan ada penurunan 25 bps pada pertemuan The Fed 30 – 31 July nanti.

“Dan hal itu kami melihat bahwa sangat mungkin terjadi. Mengapa demikian? Karena data inflasi Amerika yang keuar hari ini terlihat bahwa secara YoY telah terjadi penurunan dari sebelumnya 1.8% menjadi 1.6%, semakin menjauh dari target The Fed sebelumnya yaitu 2%. Hal ini akan menjadi pertimbangan bagi para pembuat kebijakan The Fed untuk mengambil keputusan,” jelas analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (12/7/2019).

Beralih dari sana, berita hangat kembali hadir dari Trump vs Xi. Trump mengeluh bahwa China belum meningkatkan pembelian produk pertanian dari Amerika, sebuah janji yang telah diucapkan oleh Xi Jinping pada KTT G20 pada bulan lalu.

Xi dan Trump sepakat untuk memulai kembali pembicaraan mengenai perdagangan tersebut, dan Trump mengatakan bahwa Ia akan menunda tarif tambahan pada barang barang impor China.

Trump juga mengklaim bahwa Xi telah setuju untuk membeli sejumlah produk pertanian Amerika dalam jumlah besar.

“Kami meniilai bahwa masalah ini semakin pelik, disatu sisi mereka mulai gencatan senjata disatu sisi Amerika ikut campur mengenai masalah yang terjadi di Hongkong. Hal ini yang membuat China semakin marah terhadap Amerika,” jelas analis Pilarmas.

“Kami berharap bahwa Amerika tidak mencampuradukkan semua permasalahan saat ini, jangan sampai masalah yang sudah ada sebelumnya mengenai perang dagang dan belum selesai sampai hari ini, masih harus ditambahkan lagi dengan permasalahan keepohnya Amerika terhadap hal yang terjadi di Hongkong,” sebut analis Pilarmas.

Sementara itu, dari dalam negeri, Pemerintah Indonesia sedang mengkaji terkait efek samping dari permintaan India untuk menambah daftar produk yang diperjual belikan melalui skema trade off.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, neraca perdagangan Indonesia dengan India tercatat surplus US$8,17 miliar pada 2018. Secara akumulatif, sejak 2014--2018 surplus perdagangan Indonesia dengan India tumbuh 2,10%.

“Secara teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak mixed cenderung melemah dan ditradingkan pada level 6.400 – 6.431. Kami melihat penguatan IHSG sepekan ini belum cukup signifikan, menjelang akhir pekan investor baiknya melakukan profit taking, terlebih pada awal pekan depan pelaku pasar lebih mengantisipasi hasil dari neraca perdagangan bulan Juni 2019,” sebut analis Pilarmas.