ANALIS MARKET (11/7/2019) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, sentiment diperdagangan hari ini, Kamis (11/7/2019), datang dari testimoni Powell yang telah disampaikan kemarin.

Powell mengatakan bahwa pandangannya tentang meningkatnya ketidakpastian dalam prospek ekonomi Amerika sudah jelas menunjukkan arah yang dovish.

Powell menandakan kemungkinan kuat bahwa The Fed akan memangkas tingkat suku bunga pada pertemuan yang akan berlangsung pada 30 – 31 July, karena ini merupakan pertemuan terakhir sebelum rehat pada bulan Agustus nanti dan akan dilanjutkan pada bulan September nanti.

Tingkat probabilitas penurunan tingkat suku bunga The Fed mulai konsisten berada di angka 100% untuk melakukan pemangkasan tingkat suku bunga, bahkan 20% diantaranya yakin The Fed akan memangkas 50 bps.

Tentu hal ini cukup beralasan, meksipun kami melihat bahwa pemangkasan 25 bps lebih dari cukup untuk saat ini. Pertumbuhan telah melambat pada kuartal kedua, sementara itu meskipun belanja konsumen meningkat, namun investasi bisnis, manufacture, dan perumahan semuanya menunjukkan pelemahan.

Powell mengatakan bahwa meskipun laporan penggajian minggu lalu sangat kuat, namun tidak akan mengubah pandangannya sama sekali terkait dengan ekonomi yang mulai dovish.

Alih alih membela diri, Powell mengatakan bahwa apabila Trump memanggil dan memecatnya, Dia akan mengabaikan Presiden karena Trump tidak memiliki wewenang untuk memecat pemimpin The Fed.

Apabila The Fed jadi menurunkan tingkat suku bunga pada bulan July nanti, hal ini akan menjadi yang pertama kalinya dalam 1 decade.

Dalam Minutes Meeting kemarin, beberapa pejabat The Fed mengatakan bahwa pemangkasan tingkat suku bunga The Fed jangka pendek dapat membantu meredam dampak dan guncangan negative di masa depan terhadap perekonomian.

Mereka juga menyampaikan bahwa turunnya inflasi dapat memberikan resiko pelemahan ekspektasi inflasi yang dapat memperlambat pengembalian inflasi yang berkelanjutan dengan target yang ditentukan yaitu 2%.

Bank Sentral mempertahankan tingkat suku bunga kemarin, karena mereka berfikir untuk menunggu data yang lebih banyak untuk dikumpulkan sebelum bergerak maju dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah, sehingga mereka menyimpulkan bahwa belum ada alasan yang kuat untuk menurunkan tingkat suku bunga dari level saat ini.

Namun, The Fed akan bertindak sesuai kebutuhan untuk mempertahankan fase ekspansi ekonomi, sehingga mereka mempertimbangkan untuk memotong tingkat suku bunga pada bulan July nanti.

Minutes meeting ini sejalan dengan testimoni Powell di depan Kongress kemarin. Para peserta juga sepakat bahwa resiko penurunan prospek kegiatan ekonomi telah meningkat secara material sejak pertemuan pada bulan Mei lalu.

Terutama yang terkait dengan negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung yang dimana efeknya memperlambat pertumbuhan ekonomi secara global.

Akibat Minutes meeting dan Testimoni dari Powell, S&P secara cepat menembus 3.000 untuk pertama kalinya, mungkin hal ini akan terimplikasi terhadap pasar modal dalam Negeri, baik saham maupun obligasi.

Ditengah euphoria yang sedang berlangsung, lagi lagi Trump melakukan sesuatu yang kurang baik menurut kami apalagi saat ini sedang berlangsung pembicaraan antara Amerika dan China.

Pejabat Administrasi Trump mengisyaratkan memberikan dukungan bagi para demonstran pro demokrasi di Hongkong yang menentang Pemerintah China dengan memberikan serangkaian pertemuan tingkat tinggi minggu ini kepada seorang penerbit buku Hongkong yang telah menarik kemarahan Beijing.

Penerbit buku tersebut bernama Jimmy Lai. Seorang penerbit Hongkong dan Advokat demokrasi.

Jimmy bertemu dengan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton pada hari Rabu kemarin, setelah sebelumnya melakukan pertemuan di awal minggu ini dengan Mike Pence, Michael Pompeo dan beberapa Senator Republik.

Permasalahan dalam pertemuan tersebut adalah Lai bukanlah pemegang posisi dalam Pemerintah, sehingga pertemuan tersebut menjadi tidak lazim.

Pertemuan itu mendapat perhatian dari pejabat senior Cina di Hongkong dan Beijing.

Di Hongkong, pemerintah Cina melakukan protes resmi ke konsulat Amerika untuk menuntut Amerika menghentikan apa yang disebutnya dengan “cara yang salah.”

Dengan berulang kali mencampuri urusan Hongkong, Amerika telah mengirim sinyal yang salah kepada dunia, juru bicara kementerian luar negeri Cina Geng Shuang mengatakan dalam briefing pada 9 Juli.

"Kami menyesalkan dan dengan tegas menentangnya.“. Hal ini dapat memperburuk suasana antara Amerika dan China.

Dari dalam negeri, katalis positif datang dari Organisasi Kerjasama Islam atau OKI. Indonesia berhasil menjadi negara eksportir terbesar di OKI. Di bawah Indonesia terdapat Malaysia yang memiliki porsi ekspor ke negara OKI sebesar 2,07% dan disusul oleh Uni Emirat Arab dengan 2,02%. Pada 2018 lalu nilai ekspor Indonesia menuju negara anggota OKI menembus U$,762 miliar.

Dalam hal ini, Indonesia menguasai 3,07% porsi ekspor menuju ke sesama negara anggota OKI. Beberapa produk ekspor diantaranya minyak nabati, teh, kopi dan perikanan.

Namun jika melihat produk yang diekspor masih produk mentah, sehingga pemerintah dan pengusaha baiknya fokus untuk meningkatkan nilai tambah produk, agar produk ekspor Indonesia tetap mampu bersaing pada pasar.

Indonesia juga bisa terancam kalah bersaing dalam hal ekspor ke negara OKI dengan negara non anggota OKI, seperti Vietnam.

Mereka tidak bergabung dalam OKI, namun mereka paham kelompok negara ini punya pangsa pasar besar, maka mereka berusaha membuat produk hilirnya memuat ketentuan halal.

“Secara teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat terbatas dan ditradingkan pada level 6.385-6.425,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Kamis (11/7/2019).