ANALIS MARKET (16/5/2019) : Rupiah Masih Dalam Tekanan

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Samuel Aset Manajemen (SAM) menyebutkan, sebagian besar indeks futures bursa Asia tercatat turun, indikasi indeks di bursa Asia masih berpotensi terkoreksi hari ini, Kamis (16/5/2019), walaupun ada potensi balik arah menjadi positif terbantu indeks di bursa global yang kompak naik semalam dan harga minyak mentah juga dibuka naik pagi ini.

Adapun mata uang kuat Asia, yen dan HK dolar dibuka menguat terhadap USDolar pagi ini.

“Tetapi tampaknya rupiah masih dalam tekanan melemah, kemugkinan menuju kisaran antara Rp.14.470 - Rp.14.500 per USD (kurs tengah Bloomberg),” jelas Lana Soelistianingsih, Kepala Riset/Ekonom SAM dalam riset yang dirilis Kamis (16/5/2019).

Lebih lanjut, riset SAM juga menyoroti neraca perdagangan Indonesia yang tercatat defisit sebesar US$2,5 miliar, dengan nilai ekspor sebesar US$12,6 miliar (minus 10% mom atau minus 13,1% yoy).

Penurunan ini karena turunnya volume dan harga ekspor. Sementara nilai impor tercatat sebesar US$15 miliar (naik 12,25% mom atau minus 6,6% yoy).

Kenaikan karena naiknya volume dan harga impor dibandingkan bulan sebelumnya. Selama Jan-Apr 2019 tercatat defisit sebesar US$2,56 miliar, naik dari defisit US$1,4 pada Jan-Apr 2018. 

Neraca perdagangan ini tampaknya masih akan berlanjut defisit ke depannya tetapi dengan nilai yang menurun.

Sementara dari eksternal, ekonomi China mulai terkena dampak tarif. Ketidakpastian ekonomi membuat konsumen mengurangi belanja. Penjualan ritel, otomotif turun.

Surplus neraca dagang pada April 2019 sebesar US$13,84 miliar, turun dari US$26,21 miliar pada April 2018.