Penguatan Rupiah Jadi Katalis Kenaikan Harga SUN Diperdagangan Akhir Pekan Lalu

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Pada perdagangan akhir pekan kemarin, Jumat, tanggal 15 Maret 2019, perubahan harga Surat Utang Negara (SUN) mengalami kenaikan di tengah menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika akibat adanya surplus neraca perdagangan bulan Februari 2019.

Dalam riset yang dirilis Senin (18/3/2019), analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra mengungkapkan, kenaikan harga Surat Berharga Negara (SBN) pada perdagangan akhir pekan kemarin (15/3), dipengaruhi oleh faktor menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.

Rupiah mengalami penguatan pada perdagangan kemarin disebabkan oleh adanya surplus neraca perdagangan di bulan Februari 2019.

Badan Pusat Statistik menyampaikan bahwa pada bulan Februari 2019 terjadi surplus neraca perdagangan sebesar US$ 330 juta dimana nilai ekspor yang sebesar US$ 12,53 miliar lebih tinggi daripada nilai impor yang mencapai US$ 12,2 miliar.

“Selain itu, para pelaku pasar juga semakin optimis terhadap kondisi pasar saat ini, dimana hal ini tercermin dari meningkatnya volume perdagangan baik dari volume perdagangan Surat Utang Negara maupun volume perdagangan surat utang korporasi dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya,” jelas I Made.

Lebih rinci diungkapkan, perubahan harga yang terjadi pada perdagangan akhir pekan lalu mencapai 87 bps, dengan rata-rata kenaikan sebesar 8,3 bps.

Hal ini berdampak pada turunnya rata-rata imbal hasil Obligasi Negara sebesar 2 bps.

Adapun untuk Obligasi Negara seri acuan semua serinya mengalami kenaikan harga hingga sebesar 85 bps yang mengakibatkan turunnya imbal hasil Obligasi Negara hingga sebesar 10 bps.

Adapun kenaikan harga terbesar didapati pada Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 15 tahun sebesar 85 bps yang mendorong turunnya imbal hasil obligasi sebesar 10 bps di level 8,117% dan dilanjutkan pada Surat Utang Negara bertenor 20 tahun yang ditutup dengan kenaikan harga sebesar 61 bps mengakibatkan turunnya tingkat imal hasil sebesar 6,2 bps di level 8,209%.

Sementara itu, untuk Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 10 tahun ditutup dengan mengalami kenaikan harga sebesar 35 bps yang menyebabkan terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 5 bps di level 7,755%.

Selanjutnya, untuk Surat Utang Negara bertenor 5 tahun mengalami perubahan harga sebesar 24 bps sehingga berdampak pada penurunan imbal hasil sebesar 6 bps dilevel 7,333%.

Disisi lain, dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, harganya masih terlihat mengalami kenaikan.

Adapun harga dari seri INDO24 dan INDO29 mengalami rata-rata kenaikan masing-masing sebesar 3 bps dan 10 bps yang mendorong oleh turunnya imbal hasil masing-masing sebesar 0,6 bps di level 3,638% dan 1,2 bps di level 4,129%.

Sementara itu, untuk harga dari seri INDO44 dan INDO49 juga turut mengalami kenaikan masing-masing sebesar 4,7 bps dan 12,1 bps yang mengakibatkan oleh turunnya tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 0,3 di level 4,973% dan 0,7 bps di level 4,878%.