Fokuskan Hilarisasi Sektor Pertambangan, Jokowi Optimis 2022 Indonesia Bebas Defisit Neraca Perdagangan

Foto : istimewa

Pasardana.id - Presiden Joko Widodo menargetkan defisit transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan Indonesia membaik dalam tiga tahun ke depan. Syaratnya, Indonesia harus berfokus pada program hilirisasi dan industrialisasi di sektor pertambangan. 

"Yang namanya defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan akan bisa kita selesaikan dalam waktu tiga tahun," kata Jokowi di Hotel Ritz Carlton Pasific Place, Kawasan SCBD, Jakarta, Rabu, 20 November 2019.

Jokowi menjelaskan, ekspor tambang memberikan kontribusi besar pada neraca perdagangan Indonesia. Namun di sisi lain ekonomi Indonesia menjadi amat tergantung pada ekspor tambang yang besar ini.

Karena itu, ia mengajak para pengusaha tambang Indonesia untuk tidak lagi mengekspor mentah-mentah hasil tambang. Ia mengimbau para pengusaha untuk mengolahnya terlebih dulu agar menjadi barang jadi atau setengah jadi sehingga ada nilai tambah.
 
"Kalau ini muncul dari dunia pertambangan kita, ngapaian kita impor elpiji, ngapaian kita impor petrokimia yang sangat besar sekali," jelasnya.

Jokowi yakin benar, Indonesia bisa lepas dari jeratan defisit perdagangan itu andai fokus hilirisasi dan industrialisasi untuk satu komoditas saja, yakni nikel berjalan baik.

"Belum berbicara masalah timah, batu bara, tembaga. Banyak sekali yang bisa kita lakukan dari sana," ujarnya melanjutkan.
 
Menurutnya, upaya tersebut akan membuat Indonesia tak lagi bergantung pada impor sehingga angka defisit neraca dagang dan transaksi berjalan dapat diperbaiki. Di sisi lain, nilai tambah dari industri tambang ini menciptakan multiplier effect seperti penciptaan lapangan pekerjaan.
 
"Negara kita memiliki nilai tambah dan multiplier effect yang besar. Termasuk dalam penciptaan lapangan kerja, yang dibutuhkan masyarakat," tutur dia.
 
Jokowi menambahkan amanat hilirisasi komoditas tambang akan direlaksasi dalam UU Minerba Tahun 2017 menjadi 2022.
 
"Kita baru berbicara satu komoditas yang namanya Nikel, belum berbicara masalah Timah, belum berbicara masalah batu bara, belum berbicara masalah Copper," tandas presiden.