Riset DBS Group: B30-plus Berperan Jadi Bantalan Penurunan Harga CPO

foto: istimewa

Pasardana.id - Dalam risetnya dengan judul Indonesia Biodiesel: A Game Changer yang dirilis Rabu (16/10/2019), tim riset DBS Group secara keseluruhan menilai program B30-plus akan berperan sebagai bantalan jika harga Crude Palm Oil (CPO) terus turun - paling tidak mencegah harga CPO turun ke level yang dapat menimbulkan kesulitan di antara perusahaan kelapa sawit industri hulu, yaitu di bawah US$450 per MT. 

Selain itu, percepatan program biodiesel juga dimaksudkan untuk memberi sinyal kepada Uni Eropa dan negara-negara lain bahwa industri minyak sawit Indonesia akan lebih mandiri dan akan mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor seiring berjalannya waktu dengan cara memacu permintaan CPO domestik, yang didukung oleh 200 juta populasi dan 16,5 juta kendaraan pada akhir 2018.  

Biodiesel: Apa yang baru sekarang? 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menghimbau agar program B30 dipercepat menjadi Januari 2020, dan program B50 pada akhir 2020, berdasarkan berita di Jakarta Post (12 Agustus 2019). 

Hal ini sangat ambisius, mengingat uji coba untuk B30 masih sedang berjalan, dan lebih banyak tes diperlukan sebelum akhir tahun untuk memastikan pencampuran CPO yang lebih tinggi tidak membahayakan mesin dari kendaraan yang timbul dari tingkat keasaman CPO yang lebih tinggi dan sensitivitas pada suhu yang lebih rendah. 

Jika kita melihat kembali bagaimana B20 diluncurkan pada Oktober 2018, percepatan implementasi program biodiesel baru dapat dieksekusi dengan baik.

Meskipun dampak B20 terhadap harga dan permintaan CPO global cukup minim pada penyerapan stok sebesar 4,5 juta MT tahun lalu di tengah permintaan berbasis makanan melemah tahun lalu. Namun, kami percaya bahwa pelaksanaan B30-B50 akan berbeda. 

Program B30-B50 diharapkan menyerap lebih banyak stok CPO, hingga 15 juta MT setiap tahun di mana jumlah ini signifikan. Mereka dapat meningkatkan total permintaan global sebesar 25%, di atas market size saat ini sebesar 60 juta MT.

Bersamaan dengan itu, stok global hingga penggunaan dapat meningkat secara signifikan sehingga harga CPO dapat terangkat.  

Harga CPO yang lebih tinggi dapat memberikan katalis yang sangat dibutuhkan untuk industri. Dengan harga yang tetap pada US$500 per MT untuk hampir sembilan bulan, dampak negatif yang dirasakan oleh industri tercermin dalam laporan keuanagan per-kuartal yang kurang baik.

Urgensi untuk mendorong harga CPO melalui mandat biodiesel yang baru juga didukung oleh fakta bahwa nilai ekspor dan neraca perdagangan Indonesia terkait dengan harga CPO. 

Selain menciptakan permintaan dari pasar lokal, dampak yang diharapkan dari program biodiesel adalah memisahkan harga CPO dari harga Soybean Oil (SBO).

Jika dilihat secara hitoris, harga SBO menjadi penentu batas tertinggi harga CPO, dapat disimpulkan bahwa harga CPO dapat membaik jika rentang harga ke SBO menyempit menjadi kurang dari US$100 per MT.  

Pedang Bermata Dua  

Meskipun rencana percepatan biodiesel terlihat menjanjikan dan pemain industri menyambut positif  pengumuman ini, kami percaya Indonesia perlu memperhatikan manfaat dan tantangan yang mungkin terjadi. Keuntungannya adalah harga CPO, seperti yang disebutkan sebelumnya, mungkin mengalami kenaikan.

Namun, karena harga CPO yang lebih kuat, tidak menutup kemungkinan tiba-tiba akan terjadi kekurangan CPO global dan pada akhirnya dapat menyebabkan kenaikan harga pangan. 

Kemungkinan juga dapat terjadi secara tiba-tiba, kita membutuhkan lebih banyak produksi CPO, atau walaupun hal tersebut tidak terjadi, harga CPO dapat meningkat secara drastis dan menyebabkan CPO menjadi kurang menarik sebagai alternatif bahan bakar.  

Selain itu juga, kita sepertinya punya ruang terbatas untuk memperluas output, di tengah kondisi yang saat ini kurang baik, di mana penanaman baru dalam skala kecil dan program penanaman kembali yang berjalan lambat di Indonesia. 

Di situasi harga CPO yang tinggi, dana subsidi dalam CPO Fund dapat dengan cepat terkikis oleh pembengkakan subsidi biodiesel.

Akan diperlukan lebih banyak subsidi untuk membuat biodiesel menjadi terjangkau, terutama jika selisih harga antara CPO dan minyak mentah melebar  dengan signifikan atau, jika harga minyak mentah jatuh secara tidak terduga.

Harga CPO yang lebih tinggi juga berarti bahwa lebih banyak pungutan ekspor CPO diperlukan untuk mengisi kembali dana CPO negara untuk alokasi subsidi. 

Tantangan permintaan lainnya adalah apakah konsumen bahan bakar di Indonesia, baik pemain industri atau pemilik mobil pribadi, telah siap untuk menggunakan biodiesel dengan campuran CPO yang lebih tinggi untuk menjalankan mesin kendaraan mereka.

Pengemudi mungkin dapat menerima program biodiesel tersebut, tetapi mobil mereka mungkin tidak.

Teknologi mesin mobil di Indonesia dirancang untuk menggunakan bahan bakar berbasis minyak, dan CPO memiliki karakteristik yang berbeda - terutama karena fakta bahwa CPO memiliki tingkat keasaman dan sensitivitas yang lebih tinggi pada suhu yang rendah. 

Pemantauan terhadap uji jalan biodiesel juga merupakan faktor yang krusial.

Saat ini, line-up mobil produksi massal yang ada sedang diuji dengan biodiesel dan sejauh ini kemajuannya terlihat menjanjikan, tanpa kerusakan besar atau penurunan kinerja mesin untuk biodiesel B30.  

Namun, kita juga perlu meyakinkan produsen mobil untuk tidak membatalkan garansi mobil jika kita mengisi bahan bakar mobil dengan biodiesel.

Selain itu, biodiesel dengan campuran CPO lebih tinggi mungkin tidak cocok sama sekali untuk mobil yang lebih tua dengan teknologi mesin usang dan rentan terhadap masalah mesin karena kandungan keasaman CPO yang lebih tinggi.