ANALIS : Suku Bunga Acuan BI Diperkirakan Hanya Akan Naik Sekali Saja Tahun Ini

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Analis market Pasardana.id, Arief Budiman menilai, kendati penyaluran kredit perbankan dikhawatirkan semakin ketat, BI kemungkinan masih akan menaikan suku bunga acuannya mengikuti perkembangan The Fed Fund Rate yang diprediksi masih akan menaikan suku bunga acuannya dua kali lagi tahun 2019 ini.

“Suku bunga acuan BI diperkirakan hanya akan naik sekali saja tahun ini. Naiknya suku bunga acuan BI tersebut merupakan respon dari suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) Fed Fund Rate yang tahun ini diperkirakan akan naik dua kali," ujar Arief di Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Meski demikian, jelas Arief, asumsi kenaikan tersebut tetap perlu menunggu langkah yang ditempuh The Fed. Jika The Fed mengubah stance kebijakannya dari yang semula dua kali, maka ada kemungkinan BI juga akan mengambil langkah serupa.

"Namun, bila mengacu pada data-data ekonomi AS, suku bunga saat ini dirasa sudah berada dalam posisi yang mendekati puncaknya, atau dengan kata lain kondisi suku bunga sudah netral dan jika ada kenaikan justru dikhawatirkan dapat menghambat ekonomi Negeri Paman Sam,” tegas Arief.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa sikap (stance) yang akan ditempuh BI tahun 2019 ini akan tetap ahead the cruve, pre-emptive, dan front loading dalam menyikapi perkembangan ekonomi global.

Asal tahu saja, gejolak ekonomi global, seperti perang dagang hingga normalisasi perekonomian Amerika Serikat (AS) mendorong era suku bunga tinggi.

Menurut Gubernur BI, Perry Warjiyo, pihaknya juga melihat bank sentral Amerika Serikat (AS) alias The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuannya sebanyak dua kali tahun 2019 ini.

“Dengan kebijakan yang pre-emptive dan forward looking, kenaikan suku bunga acuan sudah hampir mencapai puncaknya. Kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) di November 2018 hingga level 6%, sudah memperhitungkan kenaikan The Fed Rate paling banyak dua kali. Itu akan kita review dalam RDG (rapat dewan gubernur) bulanan," jelas Perry Warjiyo di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (29/1).

Meski demikian, diakui Perry, langkah BI menaikkan suku bunga acuan 7 days reverse repo rate (BI 7-DRRR) hingga level 6% baru bisa dirasakan dalam jangka waktu 1,5 tahun mendatang.

“Transmisi dari dampak kenaikan suku bunga ke inflasi dan pertumbuhan ekonomi itu perlu jangka waktu enam kuartal," jelas Perry.

Dengan waktu yang panjang tersebut, ungkap Perry, kenaikan suku bunga akan berdampak pada pasar keuangan baik deposito maupun kredit. Penyaluran kredit perbankan pun makin ketat.

“BI berharap dampak dari kenaikan suku bunga acuan terhadap kredit tidak menyebabkan pengetatan likuiditas yang tinggi. Apabila suku bunga kredit tidak tinggi, maka penyaluran kredit bisa tetap terjaga dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi,” jelas Perry.